Pemerintah Perlu Menyusun Kurikulum yang Ideal di Era Digital

  1. JAKARTA (Indepensensi.com) Dalam menghadapi perubahan distrupsi pembelajaran dengan digital perlu dilakukan perubahan konsep dalam pembelajaran.

Oleh karenanya perlu disusun kurikulum atau
profil pendidikan yang ideal
di era disrupsi dengan pembelajaran digital.

Hal itu disanpaikan Wakil Ketua MPR RI, Dr. Lestari Moerdijat, S.S., M.M, dalam sambutannya pada kegiatan edukasi dengan tema “Profil Pendidikan Ideal Menghadapi Disrupsi Pembelajaran Era Digital”.di Jakarta Jumat (0/12)

Melalui Forum Digitalk Kementerian Komunikasi dan Informatika, Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik bermitra dengan Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) bersama dengan Yayasan Pendidikan Adiluhung Nusantara (YPAN), Sahabat Guru dan Pemerintah Kabupaten Kudus.

Diskusi dilakukansecara daring melalui Zoom Meeting dan disiarkan secara live streaming melalui kanal Youtube Ditjen IKP Kominfo dan SahabatGuru.

Menurut Lestari, menyusun kurikulum atau profil pendidikan yang ideal bukanlah hal yang mudah. Namun hal itu harus segera dilakukan.

Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Kudus, Harjuna Widada, SH., yang hadir mewakili Bupati Kudus H.M. Hartopo, S.T., M.M., M.H., mengatakan, perkembangan teknologi digital adalah sebuah keniscayaan, kita harus menyesuaikan diri dan beradaptasi demi kemajuan pendidikan bagi anak-anak kita nanti”, tuturnya.

Menyusun konsep tentunya itu sesuatu yang lain tetapi bagaimana kita mengaplikasikannya di daerah kita masing-masing dengan keterbatasan, meskipun Internet sudah masuk ke daerah tetapi tidak selalu teknologi ini dapat kita andalkan.

“Peningkatan akses informasi, jaringan sosial dan partisipasi individual harus mengiringi perubahan teknologi, kemudian harus dibuat sebuah ruang yang memungkinkan adanya eksistensi proses belajar ke ranah digital”, ungkap Lestari.

Mewakili Kementerian KOMINFO RI, Direktur Informasi dan Komunikasi Perekonomian dan Maritim, Ibu Septriana Tangkary, S.E., M.M., menyampaikan bahwa Kementerian KOMINFO berkomitmen untuk memastikan tersedianya teknologi, platform, peralatan, dan sumber daya bagi para guru dan siswa untuk mendukung proses belajar-mengajar agar tetap dapat berjalan melalui berbagai media.

Selain itu sebagai bentuk komitmen dalam peningkatan digital skill, Kementerian KOMINFO telah menyelenggarakan berbagai program pelatihan serta memberikan beasiswa yang dapat diakses oleh berbagai kalangan masyarakat termasuk para guru dan Aparat Sipil Negara (ASN).

“Guru memiliki peran penting untuk membantu siswanya menghadapi ketidakpastian yang disebabkan oleh pandemi COVID-19 dan untuk melibatkan siswa untuk terus belajar meskipun kegiatan sekolah normal terganggu.” kata Septriana.

Dosen Pendidikan Matematika UNY, Dr. Ariyadi Wijaya, M.Sc., menyampaikan materi “Computational Thinking”, yaitu bagaimana mengajarkan anak-anak untuk memecah masalah menjadi lebih kecil (dekomposisi), kemudian pengenalan pola dan berpikir secara algoritma, yaitu berpikir secara sistematis menetapkan langkah penyelesaian masalah serta berpikir secara abstraksi, yaitu bagaimana memilah data dan informasi yang relevan.

Pengembang Inovasi Pendidikan, International Certified Trainer in Education for Asia, Prof. Ir. Drs. Djohan Yoga, M.Sc., MoT, Ph.D., yang berbicara tentang transformasi mindset dalam menghadapi disrupsi pembelajaran era digital. menyampaikan, para tenaga pendidik untuk menumbuhkan “growth mindset” kepada anak didik kita, yaitu yang memiliki “Opportunity Based Thinking” dimana segala perubahan dianggap peluang untuk bertumbuh sehingga senang dengan perubahan.

“Inilah peran baru guru di era digital, kita tidak bisa mengalahkan google, tetapi kita bisa beralih peran yaitu bagaimana kita mengembangkan mindset anak-anak kita dari tidak mau dan tidak bisa menjadi mau dan bisa! Inilah tugas mulia guru yang tidak bisa diambil alih oleh teknologi apapun” , tegas Djohan. (hpr)