Kasus Perebutan Hak Asuh Anak, Paul La Fontaine Cuma Minta Adanya Kesetaraan

Loading

Denpasar (Independensi.com) – Sungguh malang nasib Paul La Fontaine, ayah dari 2 anak kembar dan berkewarganegaraan Australia. Dirinya tidak bisa menemui kedua putri kembarnya selama lebih dari 1 tahun lamanya, bahkan sebuah villa yang dibeli dengan uang pribadinya sekarang ingin dikuasai mantan istrinya serta perjanjian hak asuh anak dilanggar secara sepihak oleh mantan istrinya dengan dalih Paul tidak waras dan temperamental dan hal tersebut diceritakan berulangkali yang diindikasikan Paul La Fontaine sedang dibunuh karakternya (Character Assassination) dengan tujuan untuk menghilangkan hak perwaliannya.

“Sebenarnya saya kecewa bila dikatakan tidak waras karena hal tersebut merupakan luapan rasa rindu saya kepada kedua putri kandung yang sangat saya cintai,” kata Paul La Fontaine ketika ditemui di Denpasar, Senin (23/11/2023).

Sang mantan istrinya kini malah menggugat hak perwalian anaknya sepenuhnya 100 persen di PN Denpasar yang sudah bergulir beberapa waktu belakangan ini, hal ini jelas melanggar dan melecehkan kesepakatan terdahulu.

Terkait pemberitaan yang menyudutkan posisinya, dirinya mempunyai hak jawab dan merasa perlu untuk menjelaskan fakta yang sebenarnya dan pengaruhnya terhadap kedua putri kembar saya.

“Sejujurnya aku dilarang keras untuk menemui putri-putriku tercinta sementara upaya pemerasan mantan istriku membuatku tidak bisa bersama mereka selama lebih dari setahun sekarang. Dia/mantan istri saya melanggar/tidak menghormati serta tidak menjalankan putusan pengadilan terkait dengan hak asuh anak yang mana hak asuh kedua putri kembar saya adalah dalam pengasuhan bersama ayah dan ibunya. Kemudian mantan istri saya mengajukan gugatan hak asuh anak meminta agar pengasuhan anak-anak 100% diasuh oleh mantan istri saya, dan meminta 100% villa keluarga kami,” kata Paul dengan penuh kekecewaan.

Seperti diketahui, Mahkamah Agung pada tanggal 3 Agustus 2022 mengukuhkan putusan Pengadilan Negeri Denpasar bulan April 2022 tentang hak asuh anak dengan hak yang sama atau setara, namun kemudian hal tersebut terang-terangan diabaikan oleh ibu anak tersebut.

Anehnya mantan istri malah mengajukan gugatan hak asuh sepenuhnya dan mengabaikan hak-haknya, padahal Tidak ada keinginannya untuk menguasai hak asuh tersebut, dirinya hanya minta keadilan dan dapat bertemu secara berkala dengan kedua putri kembarnya dan bertanggung jawab terhadap kesehatan dan pendidikan anak-anaknya, cuma itu keinginannya.

Terkait insiden klub Pantai Mazu, “Saat itu, Saya telah mempersiapkan pesta ulang tahun putri saya yang ke-4 di mana saya membuat kue dan membawa sepeda baru di antara hadiah-hadiah lain dari teman-teman. Saya juga mengharapkan adanya pertukaran hak asuh anak yang diatur oleh petugas PP2A yang hadir.

Namun mantan istrinya diduga mempunyai rencana lain di acara bahagia tersebut dan membawa serta 6 preman bayarannya untuk menggagalkan pertukaran hak asuh putri kembarnya yang sempat disembunyikan sejak 26 Agustus 2022.

“Mereka disembunyikan di kawasan Benoa, Bali dengan pria aneh, asing bagiku dan putriku. Faktanya dia adalah pasangan mantan istri saya, yang belum pernah saya lihat sebelumnya dan kemudian menikahinya,” tutur Paul.

Dia meminta saya membayar uangnya untuk mengembalikan anak-anaknya. Namun dirinya menolak membayar uang tebusan seperti yang disarankan oleh pengacaranya. “Ketika tiba waktunya untuk menyerahkan anak-anak itu kepadaku, aku dengan penuh kasih mengambil satu anak, tetapi saat aku melakukannya, mantan istriku berteriak padaku dan berkata, “Persetan!” Hal ini memicu 5 preman bergaya mafia dari geng lokal untuk mendorong ke dalam ruangan kecil itu. Seorang mantan tentara Australia, mengenakan seragam tempur dan rompi, merekam dengan kamera, sementara 2 preman menghalangi jalan keluar saya untuk mendapatkan udara bagi putri saya, yang menderita kecemasan dan serangan panik. Saya diserang secara fisik, didorong ke samping dan putri saya ditarik dari pelukan saya dengan cara yang kasar dan dia diambil dari saya tanpa mempedulikan keselamatannya. Ketika drama ini terjadi, semua orang, termasuk petugas PP2PA,” terang Paul.

Paul justeru berteriak agar mantan istrinya berhenti melakukan apa yang sudah jelas-jelas direncanakannya. Dia tidak akan pernah memberiku anak itu. Teriakannya dirancang untuk menakut-nakuti anak yang mengalami trauma, sehingga dia takut akan nyawanya. Saking mengerikannya kejadian tersebut, salah satu petugas PP2PA menangis karena kehilangan kendali,” tambahnya.

Paul saat itu mencoba mengejar putriku yang diantar ke dalam mobil dan diusir, ngeri dengan apa yang terjadi dan takut aku tidak akan pernah melihat mereka lagi, dan sampai kini Paul menang tidak pernah melihat mereka lagi. Kini mantan istrinya malah tidak memperbolehkan Paul La Fontaine untuk bertemu dengan anak-anak kandungnya yang sangat dicintainya.

Paul berharap kasus ini dapat diatensi pemerintah dan lembaga-lembaga lainnya terkait dilanggarnya hak perwalian anak yang telah disepakati sebelumnya. (hd)