Foto : Kolak Ayam atau Sanggring kuliner berusia hampir 5 abad peninggalan Sunan Dalem

Sanggring Kolak Ayam Kuliner Khas Desa Gumeno Berusia Hampir 5 Abad Masih Bisa Dinikmati

Loading

GRESIK (Independensi.com) – Masyarakat Desa Gumeno Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, masih memegang teguh tradisi Sanggring Kolak Ayam yang digelar setiap malam ke 23 bulan suci Ramadan. 

Sanggring merupakan sebutan untuk makanan Kolak Ayam, kuliner khas peninggalan Sunan Dalem, salah seorang putra dari Sunan Giri yang telah ada sejak 449 tahun silam. Hingga kini, masih terlestarikan keberadaannya.

Menurut Wakil Bupati (Wabup) Gresik Aminatun Habibah, dalam sambutannya saat menghadiri semarak menyongsong 5 abad Sanggring. Bahwa tradisi ini selalu diselenggarakan oleh warga Desa Gumeno sebagai menu berbuka puasa.

“Tradisi sanggring di Desa Gumeno ini, bahkan telah diakui sebagai warisan budaya tak benda oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud) RI. Sebab, sudah berlangsung selama hampir 5 abad lamanya dan tetap dilestarikan,” ujarnya, Selasa (2/4).

Wabup menuturkan, bahwa sejarah Sanggring bermula saat Sunan Dalem yang merupakan putra kedua dari Sunan Giri. Ketika sedang membangun masjid untuk menyebarkan agama islam,  mengalami sakit.

Anehnya jenis penyakitnya tidak bisa dideteksi dan tak ada satu pun jenis obat yang mampu menyembuhkan sakit yang dialami oleh Sunan Dalem. Sehingga, tepat pada malam 23 Ramadhan Sunan Dalem meminta petunjuk (bermunajat) kepada Allah SWT dengan cara melakukan Sholat Istikharah.

Pasca bermunajat, Sunan Dalem lalu mendapatkan petunjuk untuk membuat suatu makanan yang bisa dinikmati  bersama masyarakat kala itu. Hingga Sunan Dalem meminta para santri (pengikutnya) untuk menyiapkan ayam jago kampung ke Masjid untuk dipotong dan dimasak menjadi kolak ayam

“Sanggring itu berasal dari kata, Sang dan Gring. Sang yang artinya Raja atau Penguasa. Karena Sunan Dalem merupakan Raja Giri Kedaton, kerjaan pertama yang ada di Gresik. Sedangkan  Gring, berarti gering atau sakit. Jadi, Sanggring mempunyai arti kurang lebih, raja yang sedang sakit,” ujar Wabup bercerita.

“Ajaibnya setelah menyantap hidangan kolak ayam yang bahannya dicampur dengan berbagai rempah rempah. Mampu menyembuhkan penyakit yang diderita oleh Sunan Dalem. Sehingga masyarakat Desa Gumono meyakini jika makan kolak ayam yang dibuat pada 23 Ramadan akan terhindar dari berbagai macam penyakit,” sambungnya.

Wabup menambahkan, yang menjadikan kuliner sanggring kolak ayam ini terus dilestarikan masyarakat Desa Gumeno. Karena dipercaya, sebagai obat dari segala macam penyakit.

“Masyarakat Guneno masih melestarikannya, dengan harapan siapa saja yang memakan Sanggring Kolak Ayam akan mendapat kesembuhan dari penyakit yang di derita dan masyarakat sini sangat antusias mengikuti kegiatan ini. Bahkan, orang-orang luar daerah ya g mengerti sejarahnya turut andil untuk mendapatkan berkah atau sekedar mencicipi kuliner khas yang sangat kuno itu,” tukasnya.

“Ini sebuah tradisi yang baik, mengingatkan bagaimana perjuangan Sunan Dalem dalam mensyiarkan agama Islam. Ini harus kita teruskan, mudah-mudahan membangkitkan motivasi kita agar tidak menyerah dalam kondisi apapun,” imbaunya.

Sementara, Kepala Desa Gumeno Ahmad Fathoni mengatakan, untuk melestarikan tradisi ini, warga Desa Gumeno selalu melibatkan generasi muda. Bahkan, anak-anak yang ada di desa setempat diberikan pemahaman seputar tradisi Sanggring kolak ayam.

“Tujuan pembakaran itu, agar anak-anak Desa Gumeno ini mengerti dan menjadikannya sebagai suatu tradisi yang harus terlestarikan dan terus bertahan di tengah gerusan kemajuan zaman,” tegasnya.

“Dalam pelaksanaan Sagring Kolak Ayam tahun ini, setidaknya telah menghabiskan sebanyak 254 ekor ayam. Serta ada sekitar 3200 porsi kolak yang kami sediakan sebagai takjil berbuka puasa,” tandasnya.

Untuk diketahui kegiatan tersebut, semakin dibanjiri oleh masyarakat yang tidak hanya berasal dari Desa Gumeno saja. Karena dalam menyongsong 5 abad memperingati tradisi Sanggring Gumeno juga dimeriahkan oleh kehadiran Juara Qori Internasional Sayyid Zulfikar Assyaibani. (Mor)