![]()
Denpasar (Independensi.com) – Kolumnis dan Pengamat budaya dari Bali Putu Suasta mengucapkan Selamat Ulang Tahun kepada Presiden ke-6 RI SBY yang berulang tahun hari ini (9 September 2926), dirinya juga menyoroti perkembangan dan kemajuan Partai Demokrat yang dinilainya semakin menunjukkan arah positif. Menurutnya, Demokrat memiliki harapan besar untuk menjadi wadah perjuangan dan ruang bagi generasi muda dalam berkontribusi bagi bangsa dan negara.

“Wah, itu hebat. Saya kan sudah mengikuti Pak SBY udah lama itu, kan ya. Ngikut Pak SBY sudah lama, saya sudah kenal Pak SBY 40 tahun, itu sebelum Partai Demokrat ada, kan. Saya sudah kenal baik dengan beliau” kata Putu Suasta yang dikenal sebagai Pengelana global tersebut.
Dirinya berkilas balik dimasa lampau saat dirinya mengenal sosok SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) Presiden Republik Indonesia ke-6 yang menjabat selama dua periode dari tahun 2004 hingga 2014.
“Kalau tidak, itu kan tidak mungkin saya jadi Ketua Bapilu, kan. Nggak mungkin. Jadi saya diminta sama Pak SBY, di telepon sama Pak SBY, menjadi Ketua Bapilu Partai Demokrat, gitu kan. Sudah mendampingi Pak SBY mungkin 10 tahun, gitu kan ya. 10 tahun menjadi Ketua Litbang, menjadi kemudian jadi Ketua Bapilu Partai Demokrat di pusat, di DPP”.
Dirinya juga sudah menulis hampir 5 buku untuk Pak SBY, kan. 5 buku. 5 buku yang saya tulis. Kemudian menjadi tim konvensi Partai Demokrat, tim presiden.
“Tapi idenya Pak SBY tentang demokratisasi itu, dan pluralisme itu, itu hebat. Walaupun belum mencapai suatu titik final, itu. Tapi Pak SBY itu hebat. Ulang tahun Partai Demokrat yang ke-25, beliau sudah lakukan pencapaian yang luar biasa sekali”.
Putu Suasta menyoroti terkait adanya fenomena kebangkitan Partai Demokrat dimasa depan
“Sebetulnya dengan situasi yang sekarang, jantungnya dari Partai Demokrat sekarang adalah kelompok milenial. Kelompok milenial itu jumlahnya kira-kira hampir 110 juta,” katanya.
Partai Demokrat dengan kelompok-kelompok mudanya, dia harus tampil dalam satu ritme dan atmosfer yang seperti itu. Dia harus kaum mudanya ini. Jadi semua orang-orang muda itu yang berpolitik, menjadi entrepreneur yang sukses, menjadi peneliti, menjadi intelektual yang sukses, menjadi politisi yang sukses, di sana yang harus dimainkan itu.
“Jadi bahan bakunya itu adalah dari kelompok Generasi Z dan milenial itu. Itu yang harus diolah”.
Berarti Demokrat Bali harus banyak merekrut kader-kader muda, gitu ya?
“Iyalah. Bukan hanya merekrut kader muda saja, tapi pikirannya harus muda juga”.
Menurutnya, berpolitik itu tidak hanya mencari jabatan saja. Tapi berpolitik juga melakukan interaksi, memperbaharui ide dan gagasan, kemudian melakukan seperti misalnya mencetuskan pemikiran-pemikiran baru terhadap UMKM ataupun membela kepentingan publik dalam semua tatanannya, Demokrat harus tampil di sana. Baru orang suka. Kalau nggak, itu ngapain ada partai politik. (hd)
