Ilustrasi: Seorang dokter mengenakan baju putih dan stetoskop, simbol profesi tenaga medis yang berperan memberikan layanan kesehatan masyarakat

Mengejar Gelar, Menjaga Kewarasan: Kisah Kesehatan Mental Mahasiswa Fakultas Kedokteran

Loading

Oleh Ester Grace Tarigan

Sore itu hujan baru saja reda ketika “Erika” (nama disamarkan) duduk di sebuah kafe dekat rumah sakit tempatnya menjalani koas singkatan dari co-assistant atau istilah panggilan bagi dokter muda. Koas merupakan tahap pendidikan profesi lanjutan bagi mahasiswa kedokteran yang telah menyelesaikan teori pendidikan (S1).

Segelas teh hangat muncul di hadapannya. Wajahnya tampak lelah. Erika baru saja menyelesaikan jadwal jaga. Ia harus bertugas dalam beberapa jam ke depan. Saat ditanya bagaimana rasanya menjalani pendidikan, ia berpikir sejenak sebelum menjawab.

“Kita semua pasti depresi, sih,” sebut Erika. Kalimat itu bukan hanya mewakili perasaan Erika. Mahasiswi tingkat akhir, dokter muda, hingga para alumni memiliki pengalaman serupa. Latar belakang mereka berbeda, tetapi tekanan dalam perjalanan menuju profesi dokter menjadi benang merah yang menghubungkan semuanya.

Di balik citra sebagai mahasiswa berprestasi dan calon dokter yang menjanjikan, ada berbagai cerita yang menyertai perjalanan mereka. Malam tanpa tidur yang cukup, kecemasan menghadapi ujian, ketakutan melakukan kesalahan saat menangani pasien, hingga kelelahan yang berkembang menjadi burnout.

Salah satu penelitian menunjukkan tingginya tingkat stress, burnout, kecemasan, hingga depresi di kalangan mahasiswa kedokteran. Hasil penelitian yang dirilis Jurnal Mahasiswa Kesehatan Malahayati pada tahun 2021 lalu dengan melibatkan 343 responden mahasiswa fakultas kedokteran Universitas Tarumanegara menunjukkan sebanyak 49,9% responden mengalami gangguan kesehatan mental.

Angka-angka tersebut menunjukkan besarnya permasalahan, namun cerita para siswa memberikan gambaran yang lebih utuh tentang pengalaman mereka.

 Hidup dalam Ritme Tak Pernah Berhenti

Menjadi mahasiswa kedokteran berarti harus siap dengan risiko hidup dalam ritme yang lebih melelahkan. Jadwal kuliah yang padat, materi yang menumpuk, serta ujian yang datang silih berganti menjadi bagian dari keseharian mereka.

Tekanan itu semakin terasa ketika Erika memasuki masa koas. Pada tahap ini, mahasiswa tidak lagi hanya belajar di ruang kuliah atau laboratorium, tetapi mulai berhadapan langsung dengan pasien dan dinamika rumah sakit. Kesehariannya dimulai sebelum matahari terbit dan berakhir jauh setelah malam tiba. Setelah jadwal jaga selesai, masih ada laporan, kasus, dan evaluasi yang harus dipersiapkan.

“Kalau jaga, kalau beruntung mungkin bisa tidur,” ujarnya.

Waktu istirahat menjadi kemewahan. Kurang tidur perlahan dianggap sebagai hal yang biasa. Banyak pelajar yang memanfaatkan kursi ruang diskusi, sofa ruang tunggu, atau sudut rumah sakit sebagai tempat beristirahat sebelum kembali bekerja.

Pengalaman serupa yang dikenang oleh dr. Ferrel, alumni 2018 yang lulus pada tahun 2024 dari Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanegara. Menurutnya, tekanan akademik sudah terasa sejak awal perkuliahan. “Selalu ada tenggat waktu, selalu ada tugas, dan selalu ada ujian. Bahkan, dua minggu sekali biasanya ada ujian. Ada ujian anatomi, histologi, OSCE, dan ujian-ujian lainnya,” jelas dr. Ferrel.

Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya adalah ujian anatomi. Siswa harus berpindah dari satu meja ke meja lain di ruangan yang dipenuhi kadaver dan menjawab pertanyaan dalam waktu yang sangat singkat. “Setiap stasiun memiliki waktu sekitar 10 sampai 20 detik. Kita harus menjawab dengan benar, lalu nanti ada bunyi bel yang keras, dan kita pindah ke stasiun berikutnya,” tuturnya.

Bagi banyak siswa, ujian itu menjadi pengalaman pertama menghadapi tekanan besar selama kuliah. Pengalaman serupa dialami dr. Salomo yang juga menjalankan studi kedokterannya di Universitas Tarumanegara pada tahun 2018 lalu. dr. Salomo juga mengalami kesulitan beradaptasi pada semester pertama.

“Saat itu saya juga belum menemukan metode belajar yang paling cocok untuk saya,” sebut dr. Salomo.

Tuntutan yang terus datang membuat batas antara kehidupan pribadi dan akademik semakin tipis. Waktu bersama keluarga berkurang, hobi perlahan ditinggalkan, dan seringnya beristirahat menimbulkan rasa menyesal karena masih ada materi yang belum dipelajari. Bagi sebagian mahasiswa kedokteran, kondisi tersebut dianggap sebagai konsekuensi dari pilihan yang mereka ambil. dr. Ferrel menggambarkannya dengan lugas.

“Ketika kita memutuskan untuk masuk kedokteran, itu sudah seperti kontrak seumur hidup. Kita harus belajar terus sampai kita mati,” jelas dr. Ferrel.

Meski terdengar berlebihan, bagi mahasiswa kedokteran belajar memang tidak pernah benar-benar selesai. Di tengah ritme itulah banyak siswa mulai merasakan kecemasan, kehilangan motivasi, hingga burnout .

 Tekanan Dimulai Jauh Sebelum Koas

Ruang rawat inap bukan tempat pertama mahasiswa kedokteran berhadapan dengan tekanan. Jauh sebelum memulai masa koas, mereka sudah lebih dulu menjalani kehidupan akademik yang penuh tuntutan.

Pengalaman serupa yang dialami “Hanna” (nama disamarkan) mahasiswi kedokteran di salah satu universitas swasta di Jakarta Utara. Hanna merasakan fase tersebut ketika menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah (KTI) yang menentukan kelanjutan perjalanan studinya. Hari-harinya dipenuhi pencarian jurnal, konsultasi dengan dosen, penyusunan data, dan revisi yang terus berulang hingga kualifikasi izin semakin dekat.

Tekanan semacam itu sebenarnya bukan pengalaman yang muncul tiba-tiba pada tahun terakhir kuliah. Jejaknya sudah terlihat sejak semester-semester awal. dr. Salomo mengaku gambaran dunia kedokteran yang ia bayangkan berbeda jauh dengan kenyataan.

Ester Grace Tarigan (kiri) dan dr Salomo (kanan)

Dalam satu semester, ia harus menghadapi berbagai ujian sambil mempelajari materi, studi kasus, dan mempersiapkan ujian praktik maupun ujian akhir. “Pada awal-awal cukup sulit menjalaninya. Saya masih bingung membagi waktu karena belum terbiasa dengan peralihan dari SMA ke perkuliahan yang sangat padat,” sebut dr. Salomo.

Transisi dari SMA ke pendidikan kedokteran tidak berjalan mudah. Mereka yang sebelumnya terbiasa dengan lingkungan sekolah harus beradaptasi dengan standar yang jauh lebih tinggi. Dokter Salomo mengingat salah satu tantangan terbesarnya muncul saat menghadapi ujian anatomi yang menuntut kemampuan menghafal dalam jumlah besar.

“Selama SMA saya jarang belajar materi yang berbasis hafalan karena lebih menyukai pelajaran yang mengandalkan logika. Namun saat kuliah kedokteran, saya dipaksa untuk menghafal secara mendalam. Pada saat itu, saya juga belum menemukan metode belajar yang paling cocok untuk saya,” tuturnya.

Bagi dr. Ferrel, masa transisi dari SMA ke fakultas kedokteran menjadi periode paling berat karena menuntut disiplin dan kemampuan beradaptasi. “Momen terberat paling tidak jauh dari akademis. Fase transisi dari SMA ke kuliah. Waktu SMA saya jarang belajar, kerja utama terus. Lalu saat masuk semester satu dan dua, saya langsung membayangkan anatomi dan fisiologi, yang mana saya benar-benar buta terhadap hal-hal tersebut,” tuturnya.

Tekanan membuat akademik banyak siswa mulai mengukur keberhasilan dari nilai maupun target akademik. Kegagalan dalam satu mata kuliah dapat menghambat perjalanan studi berikutnya.

“Menurut saya sangat berpengaruh. Karena kita pasti berusaha melakukan yang terbaik agar bisa lulus dengan baik dan tepat waktu. Jika tidak lulus, kita tidak bisa naik ke tahap berikutnya dan hal itu akan menghambat izin waktu. Waktu istirahat sangat berkurang. Pada masa awal memang cukup berat,” ujar dr. Salomo.

Ketika Stres Bukan Sekadar Lelah

Lelah sudah menjadi bagian dari kesekharian mahasiswa kedokteran. Namun, pada sebagian orang, kelelahan itu berkembang menjadi burnout. Perbedaan antara lelah dan burnout sering kali muncul secara perlahan. Waktu istirahat tidak lagi terasa cukup, semangat belajar mulai menurun, dan aktivitas yang sebelumnya dijalani dengan antusias berubah menjadi beban.

Dokter Ferrel pernah mengalami fase tersebut pada awal perkuliahan. Tuntutan akademik yang tinggi dan banyaknya materi yang harus dipelajari membuat tekanan terus menumpuk hingga berkembang menjadi burnout.

“Saya pernah mengalami burnout pada awal perkuliahan. Saat itu, saya mulai melakukan penilaian apakah keputusan masuk kedokteran adalah pilihan yang tepat.

Motivasi belajar hilang. Muncul keraguan apakah saya bisa berhasil dan menjadi dokter yang baik. Banyak pertanyaan muncul di kepala, termasuk apakah ini benar jalan yang harus saya tempuh atau ada pilihan lain yang lebih cocok untuk saya,” sebut dr. Ferrel.

Meski tetap menjalani perkuliahan seperti biasa, banyak siswa memilih menyimpan keraguan dan tekanan itu sendiri. Pengalaman serupa juga dirasakan dr. Salomo. Baginya, kecemasan menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari masa-masa menjelang ujian. Banyaknya materi yang harus dikuasai dalam waktu terbatas membuat tekanan meningkat ketika blok perkuliahan mendekati masa evaluasi.

“Kalau saya lebih sering mengalami kecemasan dan burnout. Sulit tidur tidak.Tetapi, perasaan putus asa cukup sering terjadi di antara kami. Materi yang sangat sering kali sulit dipelajari dalam waktu yang singkat. Jika sudah memasuki pertengahan hingga akhir blok dan mendekati ujian, frekuensinya cukup sering. Bisa tiga sampai empat hari dalam seminggu, bahkan hampir setiap hari menjelang ujian karena harus mengejar materi yang akan diujikan,” katanya.

Pada sebagian mahasiswa, tekanan yang berlangsung terus-menerus berkembang menjadi kondisi yang membutuhkan bantuan profesional. Erika mengaku pernah berkonsultasi dengan psikiater ketika tekanan yang ia rasakan semakin berat. “Ada. Waktu itu sampai konsultasi ke psikiater dan minum antidepresan. Cuma akhirnya putus obat. Mengonsumsi obat sekitar seminggu dan akhirnya berhenti,” jelas Erika.

Pengalaman serupa juga dialami Hanna. Ia beberapa kali menjalani konsultasi psikologis dan mendapatkan pendampingan dari dokter jiwa sebelum kondisinya membaik. “Saya sudah pernah berkonsultasi ke psikolog beberapa kali, mungkin sekitar dua kali.

Sisanya saya lebih banyak mendapatkan penanganan dari dokter jiwa. Jadi saya sempat mengonsumsi beberapa obat seperti antidepresan dan obat-obatan lainnya. Tetapi, untuk beberapa bulan terakhir sudah tidak lagi. Sekarang sudah lebih aman,” katanya.

Cerita para narasumber menunjukkan bahwa tekanan akademik muncul dalam berbagai bentuk seperti kehilangan motivasi, keraguan diri, hingga kecemasan menjelang ujian. Keinginan untuk terus tampil baik membuat banyak mahasiswa tetap memaksakan diri hingga tekanan itu berkembang menjadi masalah kesehatan mental.

Tetap Mengenangnya

Bagi banyak alumni, tekanan selama pendidikan justru membentuk cara pandang mereka terhadap profesi dokter. Pengalaman tersebut mengubah cara pandangnya terhadap profesi dokter. “Dulu saya melihat dokter sebagai sesuatu yang seperti anugerah dari Tuhan. Ternyata setelah saya menjalaninya, saya melihat profesi dokter bukan semata-mata karena seseorang berbakat atau pintar, tetapi karena ada kerja keras di balik itu,” sebut dr. Ferrel.

Pandangan serupa muncul dari dr. Salomo. Baginya, pendidikan kedokteran merupakan perjalanan panjang yang penuh tantangan sekaligus pelajaran hidup. “Perjalanan saya sejauh ini seperti mendaki gunung. Melelahkan, penuh tantangan, banyak rintangan dan rintangan. Namun, di sepanjang perjalanan juga ada banyak pemandangan yang indah. Sampai sekarang pun kita masih terus berjalan karena tidak pernah tahu kapan tepatnya kita akan mencapai puncak,” jelasnya.

Di antara Ekspetasi dan Kelelahan

Pengalaman kelelahan, kelelahan, kecemasan, dan keraguan diri muncul berulang kali di berbagai angkatan mahasiswa kedokteran. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah mengapa mahasiswa kedokteran tampak lebih rentan mengalami masalah kesehatan mental dibandingkan banyak kelompok mahasiswa lainnya.

Menurut psikolog Garvin Goei, M.Psi., Psi., permasalahan tersebut tidak dapat dibiarkan dari tingginya tuntutan yang dihadapi mahasiswa kedokteran. Materi yang harus dipelajari sangat banyak, sementara evaluasi akademik berlangsung terus-menerus dalam waktu yang relatif singkat.

“Ketika seseorang diberikan ekspektasi tinggi, maka itu diinternalisasikan jadi beban buat dia. Fakultas Kedokteran, men. Di mana itu bagi orang-orang merupakan fakultas paling bergengsi, paling pintar. Jadi ada ekspektasi tinggi itu. Nah, mengatasi ekspektasi tinggi ini, meski dia mampu, kinerja orang kan tidak stabil. Pasti ada naik turunnya,” sebutnya.

Ekspektasi yang tinggi membuat banyak mahasiswa merasa harus terus tampil optimal. Ketika kelelahan mulai mempengaruhi konsentrasi dan kemampuan belajar, tekanan justru semakin besar. “Kamu sedang bad mood, kamu sedang negatif, maka respon kamu juga negatif.

Karena tanggapan kamu negatif, kamu mendapatkan tanggapan yang negatif dari orang-orang. Mood kamu semakin buruk. Jadi spiral ke bawah,” jelas Garvin.

Menurut Garvin, penurunan kondisi psikologis membuat tekanan akademik membentuk lingkaran yang terus menerus. Masa koas juga menjadi fase yang paling berat karena jadwal jaga, evaluasi, kasus pasien, dan kurangnya waktu istirahat datang bersamaan. “Masa koas itu merupakan kombinasi dari banyak tekanan. Mereka harus jaga malam dan kurang tidur. Itu sendiri sudah memberikan dampak buruk terhadap kesehatan mental. Kemudian ada tuntutan akademik,” kata Garvin.

Pandangan serupa disampaikan oleh Prof. Dr. Wiyaka, M.Pd. sebagai Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UPGRIS. Menurutnya, beban yang berat tidak seharusnya dianggap sebagai sesuatu yang wajar hanya karena merupakan bagian dari pendidikan kedokteran.

“Tidak boleh menormalkan atau menormalisasikan beban berat menjadi sesuatu yang wajar. Kalau bisa dengan cara atau teknik yang lebih elegan, lebih akademis, plus manusiawi, kenapa tidak?” sebutnya.

Lebih dari Sekadar Ketahanan Individu

Pengalaman Erika, Hanna, dr. Ferrel, dan dr. Salomo menunjukkan bahwa permasalahan kesehatan mental mahasiswa kedokteran tidak hanya mempengaruhi ketahanan individu, tetapi juga tekanan akademik, tuntutan menjaga kinerja, dan minimalnya waktu pemulihan Garvin menilai gangguan kesehatan mental biasanya tidak muncul karena satu penyebab tunggal.

Berbagai faktor dapat saling bertemu dan memperberat kondisi seseorang hingga akhirnya mempengaruhi kesejahteraan psikologisnya. “Kalau sampai berdampak pada kesehatan mental, biasanya bukan hanya satu komponen. Harusnya satu komponen masih bisa menangani. Menurut saya ada banyak faktor lain. Nah, ini sebenarnya perlu digali lebih lanjut,” jelas Garvin.

Oleh karena itu, masalah kesehatan mental siswa tidak dapat hanya dipahami sebagai masalah individu. Lingkungan pendidikan juga memiliki peran penting dalam membentuk pengalaman mereka.

Ketika Sistem Pendidikan Ikut Menentukan

Ketahanan mental memang penting bagi calon dokter. Namun, kemampuan itu juga dibentuk oleh lingkungan pendidikan. Menurut Prof. Dr. Wiyaka, M.Pd., perhatian terhadap kesehatan mental siswa perlu dimulai sejak awal masa perkuliahan. Kampus tidak cukup hanya fokus pada pencapaian kompetensi akademik, tetapi juga memahami kebutuhan mahasiswanya.

“Lembaga pendidikan seharusnya sekarang jangan hanya menumpuk kompetensi- kompetensi tanpa memperdulikan kebutuhan siswa. Siswa itu ketika masuk sudah ada, menyumbangkan aplikasi awal untuk isian siswa sehingga bisa terdeteksi dari aslinya. Kalau siswa itu punya potensi apa, punya kecenderungan apa, bahkan mungkin kelemahan punya apa yang bisa dideteksi lebih dini sehingga kalau terjadi kasus itu penanganannya lebih cepat,” sebutnya.

Menurut Prof. Wiyaka, dosen pembimbing tidak hanya berperan dalam urusan akademik, tetapi juga menjadi pihak pertama yang dapat mengenali siswa yang mulai mengalami kesulitan.

“Salah satunya harus memperhatikan keseharian mahasiswanya juga, dan itu memerlukan panggilan jiwa dari dosennya. Saya kira setiap mahasiswa punya dosen pembimbing akademik. Nah, ini bisa jadi tidak berjalan, kecuali ketika isian mata kuliah lalu diminta menemui dosennya,” tuturnya.

Tekanan juga muncul dari karakteristik pendidikan kedokteran itu sendiri. Sistem pembelajaran yang berbasis modul membuat siswa harus terus beradaptasi dengan materi, pembimbing, dan lingkungan belajar yang berbeda dalam waktu yang relatif singkat.

Proses tersebut berlangsung berulang kali selama masa pendidikan. Selain itu, Prof. Wiyaka, M.Pd. juga menyoroti kemungkinan budaya tekanan yang diwariskan dari generasi ke generasi di lingkungan akademik. “Bisa jadi ini warisan turun-temurun. Dulu ketika menjadi mahasiswa, dosennya juga begitu, dan ini terus berlangsung. Nah, ini harus ada yang memotong,” katanya.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa permasalahan kesehatan mental siswa tidak dapat dilepaskan dari budaya akademik yang berkembang di lingkungan pendidikan.

Cara dosen berinteraksi dengan siswa, sistem pendampingan yang tersedia, hingga ruang bagi siswa untuk menyampaikan kesulitan yang mereka hadapi turut mempengaruhi pengalaman mereka selama menjalani pendidikan.

Perubahan sistem bukan berarti menurunkan standar pendidikan dokter, melainkan menciptakan lingkungan belajar yang lebih mendukung agar siswa dapat berkembang tanpa mengorbankan kesehatan mental.

Tak Harus Sendiri

Tekanan dalam pendidikan kedokteran mungkin tidak dapat dihilangkan, tetapi mahasiswa dapat dibantu menghadapinya dengan cara yang lebih sehat. Langkah pertama dapat dimulai dari kesadaran bahwa kelelahan, kecemasan, kehilangan motivasi, atau perasaan lelah bukanlah sesuatu yang mengarahkan. Kondisi tersebut dapat dialami oleh siapa saja, termasuk mahasiswa yang selama ini dikenal berprestasi.

 

Pada situasi seperti itu, dukungan dari lingkungan sekitar seringkali menjadi faktor yang menentukan. Dari sudut pandang psikologi, Garvin menilai dukungan sosial menjadi salah satu pelindung utama kesehatan mental.

Dukungan sosial itu salah satu faktor penting untuk kesehatan mental. Kadang-kadang orang tidak selalu membutuhkan solusi yang rumit. Mereka hanya perlu didengar dan tahu bahwa ada orang yang mendukung mereka,” sebut Garvin.

Dukungan tersebut dapat berasal dari teman, keluarga, maupun tenaga profesional. Meski demikian, banyak siswa yang masih ragu mencari bantuan ketika mulai mengalami tekanan psikologis. Garvin menilai keraguan tersebut sering muncul bukan karena layanan kesehatan mental tidak tersedia, melainkan karena masih ada rasa takut dan stigma yang melekat.

“Pertama, mereka tidak tahu akan diapain di sana. Soalnya saya sering lihat di media sosial ada yang bertanya, ‘Psikolog itu diapain sih, guys?’ Pertanyaannya lucu. Jadi yang pertama, saya lihat mereka enggak tahu akan diapain. Kedua, mereka takut di-judge.

Namun juga orang enggak mau di-judge, dong. Ketiga, takut ketahuan sama orang lain. Saat mereka pergi ke psikolog, nanti orang bertanya, ‘Lo ngapain?’ Jadi tiga itu sih,” jelasnya.

Stigma membuat banyak siswa memilih memendam masalah, padahal mencari bantuan sejak dini dapat mencegah kondisi menjadi lebih berat. Garvin juga mengemukakan pendapat mengenai psikolog hanya menangani kasus ringan dan psikiater untuk kasus berat.

Menurutnya, pembedaan utama bukan terletak pada berat atau ringannya masalah yang dialami seseorang. “Kalau ada yang bilang kasus yang parah ke psikiater, yang belum parah ke psikolog, sebenarnya bukan itu indikatornya. Psikiater itu basic-nya dokter. Psikolog itu basic-nya psikologi, yang tidak punya dasar kedokteran. gejala psikologis yang kamu alami sudah mulai berdampak ke fisik, ada gejala biologis, ya ke psikiater. Kalau belum ada gejala fisik, psikolog masih bisa menangani,” sebut Garvin.

Penjelasan tersebut penting karena banyak mahasiswa yang masih menganggap konsultasi dengan psikolog atau psikiater sebagai langkah yang menakutkan. Padahal, keduanya merupakan bagian dari pelayanan kesehatan yang dapat membantu seseorang memahami dan mengelola kondisi psikologis yang sedang dihadapi.

Peran kampus juga tidak kalah penting. Prof. Wiyaka, M.Pd. Penilaian perhatian terhadap kesehatan mental seharusnya menjadi bagian dari sistem pendampingan siswa, bukan sekedar respon ketika masalah sudah terjadi.

“Jangan disebut sebagai aib apabila mahasiswa itu meminta bantuan untuk mendapatkan layanan kesehatan mental. Mahasiswa yang ingin mendapatkan layanan kesehatan mental itu bukan orang-orang yang sakit, bukan orang-orang yang lemah.

Mereka orang-orang yang sadar sejak dini bahwa jangan sampai terjadi masalah yang lebih besar,” jelasnya.

Selain menyediakan layanan yang mudah diakses, kampus juga perlu membekali mahasiswa dengan kemampuan resiliensi agar mampu menghadapi tekanan selama pendidikan maupun saat memasuki dunia kerja.

“Ada pendidikan atau pelatihan resiliensi bagi mereka agar mereka kuat, tahan untuk menghadapi tantangan itu, dan mereka tetap berjuang , tetap bersemangat, optimis bisa menyelesaikannya,” ujarnya.

Perubahan tersebut mungkin tidak akan menghilangkan seluruh tekanan dalam pendidikan kedokteran. Beban akademik akan tetap berat dan menuju jalan gelar dokter akan tetap panjang. Lingkungan yang lebih mendukung setidaknya dapat membantu siswa menjalani proses tersebut dengan kondisi yang lebih sehat. Pada titik itulah kesehatan mental tidak lagi dipandang sebagai kelemahan individu, melainkan sebagai bagian dari tanggung jawab bersama.

 Menjadi Dokter, Tetaplah Manusia.

Malam semakin larut ketika Erika menghabiskan sisa teh hangat di hadapannya. Kafe yang semula sepi perlahan mulai ramai. Di luar, lampu-lampu kendaraan membentuk garis panjang di sepanjang jalan. Waktu istirahatnya hampir selesai, beberapa jam lagi Erika akan kembali menjalani jadwal jaga. Perjalanan menjadi dokter masih panjang, dan tuntutannya tidak pernah benar-benar berhenti.

Erika memahami hal itu. “Capek, sih,” katanya sambil tersenyum kecil. “Tapi mau nggak mau tetap harus jalan.”

Ia lalu beranjak dari kursinya. Tas yang sejak tadi diletakkan di samping meja disampirkannya ke bahu. Malam belum selesai, begitu pula perjalanannya.

Cerita Erika mungkin berbeda, tetapi kelelahan, tekanan, dan usaha untuk terus bertahan merupakan pengalaman yang banyak dirasakan mahasiswa kedokteran. Di balik jas putih, mereka tetap menjadi manusia yang membutuhkan ruang untuk beristirahat, mendengarkan, dan mendapatkan bantuan. ()

Ester Grace Tarigan, Mahasiswa Semester Akhir Program Studi Jurnalistik Universitas Multimedia Nusantara (UMN)

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *