Sejumlah Seniman Indonesia Tampil Holland Festival

JAKARTA – (IndependensI.com) – Indonesia menjadi fokus kegiatan promosi seni budaya tertua di Belanda, Holland Festival ke-70, dan sejumlah seniman menampilkan karya seninya mulai dari pemusik, pembuat film, hingga artis visual mengangkat tema “Demokrasi Indonesia”.

Penampilan perdana seniman Indonesia pada Holland Festival sejak 3 hingga 25 Juni tersebut mengangkat tema A Night in Indonesia, juga hadir Dubes RI untuk Kerajaan Belanda, I Gusti Agung Wesaka Puja, demikian Sekretaris Satu Pensosbud KBRI Denhaag, Noira Solani kepada Antara, Rabu (21/6/2017).

Beberapa musisi terkenal asal Indonesia, yaitu Jogja Noise Bambing, Boi Akih, Filastine, Kande, Senyawa dan DJ Sekan, menggelar konser bertajuk “A Night in Indonesia” di Paradiso Amsterdam.

Dalam konser tersebut, para musisi kawakan Indonesia ini menggabungkan unsur tradisional dari musik pop, folklore, dan EDM (Electronic Dance Music) dengan harmonisasi yang indah. Pagelaran musik yang berdurasi lima jam ini dimulai dengan lokakarya yang dinamai Building Synthesisers.

Jogja Noise Bombing terdiri atas beberapa musisi berbakat bergenre EDM (Electronic Dance Music) yang telah berhasil menggelar festival dan konser bekerja sama dengan seniman lokal di beberapa negara di Asia dan Amerika Serikat.

Grup ini memadukan musik dari alat musik elektronik dan musik beraliran punk. Dalam konser A Night in Indonesia, Jogja Noise Bombing telah tampil dan mengadakan lokakarya di Main Hall Statschouwburg Amsterdam.

Selain Jogja Noise Bombing, Boi Akih juga tampil dalam acara tersebut. Boi Akih terdiri atas vokalis Monica Akihary yang berdarah Maluku serta komposer dan gitaris terkenal Niels Bower. Dalam konser ini, Boi Akih menampilkan “Controlling the Swing” yang menceritakan hubungan cinta benci Belanda dan Indonesia dengan improvisasi dan melodi Maluku dengan harmonisasi yang indah. Dalam penampilannya, Boi Akih bekerja sama dengan salah satu pemain gamelan terbaik dari Bali yaitu I Made Subandi.

Sementara grup band Kande dari Banda Aceh menampilkan perpaduan musik dari alat musik rebana dan gitar listrik dengan vokal suara orang Aceh. Senyawa yang merupakan duo musisi asal Jawa Tengah memadukan musik metal akustik dengan vokal tradisional dari Sulawesi dengan penyanyi utama Rully Shabara.

Sedangkan Filastine yang berasal dari Malang menyajikan musik post-folk duet dengan alat musik elektronik. Ditutup dengan grup Sekan menyuguhkan lagu-lagu Indonesia terbaik dari genre musik disko, funk dan boogie.

Sikap penonton menghadiri konser A Night in Indonesia sangat positif. Hal ini dapat direfleksikan dengan penuhnya tempat duduk penonton saat konser ini berlangsung. Ditambah lagi, tiket masuk konser relatif cukup terjangkau sekitar 26 Euro dan untuk mahasiswa sebesar 18 Euro.(antara)