Presiden Rusia Vladimir Putin (tengah) didampingi Menteri Pertahanan Sergei Shoigu (kedua kiri), Panglima Angkatan Laut Rusia Vladimir Korolev (kanan), dan Komandan Distrik Militer Barat Andrei Kartapolov (kiri), menghadiri upacara Hari Angkatan Laut di Saint Petersburg, Minggu (30/7/2017).

Putin Usir 755 Diplomat AS

JAKARTA (IndependensI.com) – Presiden Rusia Vladimir Putin mengusir 755 orang staf diplomatik AS yang bertugas di negara itu, Senin (31/7/2017). Pengusiran itu adalah tindakan balasan atas sanksi baru AS terhadap Moskow.

Keputusan mengusir diplomat Amerika sebenarnya sudah dikeluarkan sejak Jumat (29/7/2017). Tapi baru hari ini Putin mengumumkan jumlahnya. Mereka yang diusir harus meninggalkan Rusia paling lambat 1 September 2017.

Selepas pengusiran itu, jumlah staf kedutaan AS di Rusia akan menjadi 455 orang. Jumlah tersebut sama dengan jumlah diplomat Rusia di Washington. Pengusiran ratusan orang diplomat sekaligus ini adalah yang terbesar sepanjang sejarah modern.

Staf yang diusir termasuk karyawan Rusia yang bekerja di misi diplomatik AS di seluruh penjuru Rusia. Karyawan di Kedutaan Besar AS di Moskow, serta konsulat di Ekaterinburg, Vladivostok, dan St Petersburg ikut terdampak oleh keputusan ini.

Gedung Putih menyesali langkah Rusia yang dianggap mendadak itu. “Kami masih mempelajari dampak pembatasan ini dan bagaimana menanggapinya,” kata seorang pejabat Kementerian Luar Negeri AS.

Putin mengumumkan tindakan balasan ini lewat siaran di televisi Rusia. “Lebih dari 1.000 orang bekerja dan masih bekerja di kedutaan dan konsulat AS. Sebanyak 755 orang di antaranya harus menghentikan kegiatan mereka di Rusia,” kata Putin.

Rusia juga menyita properti milik diplomat AS yang biasa digunakan untuk berlibur atau dipakai sebagai gudang. Putin mengisyaratkan bakal mengambil langkah lain untuk membalas AS.

Sanksi terbaru AS dijatuhkan terkait aneksasi Semenanjung Crimea oleh Rusia pada 2014 dan campur tangan Rusia dalam pemilihan presiden AS.

Pada Desember 2016, pemerintahan Barack Obama memerintahkan penyitaan dua kompleks diplomatik Rusia dan mengusir 35 orang diplomat Rusia. Tindakan itu sebagai balasan atas dugaan peretasan kantor Partai Demokrat dan posko kampanye Hillary Clinton.

Dinas intelijen AS yakin Rusia berusaha mengakali pemilu AS agar hasilnya menguntungkan Donald Trump. Rusia membantah tuduhan tersebut. Pihak Trump juga bersikeras tidak pernah ada kolusi dengan Rusia.