Astria Hulu semasa hidup

Hingga Ajal Menjemput, Pengaduan Petani Miskin Ini Tidak Ditanggapi Polisi

PEKANBARU (Independensi.com) – “Kejam ibu tiri lebih kejam ibu kota”. Pepatah lawas itu sudah sering kita dengar. Pepatah itu menggambarkan bahwa betapa tidak mudah bertahan hidup di ibu kota karena ketatnya persaingan kehidupan di Jakarta. Namun bagaimana potret kehidupan di pedesaan jikalau kemiskinan melanda? Sebetulnya hampir sama saja tantangannya. Di desa, tentu bukan lagi ibu kota yang kejam, tetapi yang kejam adalah aparat negara, pengusaha kaya raya dan aparat pemerintah.

Kekejaman itu yang dirasakan oleh seorang Antria Hulu, seorang petani miskin hidup bersama suaminya Ahmad Siregar di tengah hutan PT. Rimba Lazuardi, Serangge Tiga, Desa Pesajian Kecamatan Batang Peranap, Kabupaten Indragiri Hulu – Riau. Astria Hulu, menghembuskan nafas terakhir karena melahirkan anaknya tanpa pertologan bidan atau pertolongan medis karena tidak memiliki uang. Apa urusannya dengan PT Rimba Lazuardi?

Antria Hulu bertahan ditengah hutan walau mau melahirkan, karena takut kepada PT. Rimba Lazuardi, karena sebentar saja lahannya ditinggal, security PT. Rimba Lazuardi dengan arogannya akan merampas lahan Antria Hulu si petani miskin tersebut. Tidak ada yang peduli dengan Astria Hulu, sehingga dia terpaksa bertaruh nyawa tinggal di hutan supaya suatu saat nanti dia bisa nyaman tinggal di lahan milik satu-satunya tersebut.

Astria Hulu meninggal 16 November 2017

Perjuangan Antria Hulu mempertahankan lahannya merupakan taruhannya nyawa. Dia rela tidak pernah pergi dari lahan itu supaya tidak dirampas, Karena itu, ketika harus bersalin, tak ada seorang pun atau bidan yang menolong persalinannya karena jauh dari perkampungan. Antria Hulu  melahirkan bayinya dengan selamat, namun Antria Hulu meninggal ditemui suaminya digubuk 16 November 2017. Sementara itu, bayinya dilaporkan bisa selamat.

Pengaduan Tidak Ditanggapi Polisi

Semasa hidupnya Antria Hulu pernah di keroyok oleh security dan oknum TNI dan pengaduannya ini tidak ditindaklanjuti Kepolisian. Adapun insiden itu terjadi, Antria Hulu dan PT. Rimba Lazuardi saling klaim pemilik lahan seluas 4 Hektar. Ketika dikeroyok oknum TNI dan security PT. Rimba Lazuardi, Antria Hulu lehernya dibakar pakai puntung rokok dan tangannya ditarik-tarik, ditendang oleh security. Tak terima perlakuan para oknum TNI dan security PT. Rimba Lazuardi, Antria Hulu melapor ke Polsek Peranap pada tanggal 17 Desember 2016 dengan nomor laporan STPL/92/X11/2016/SPK dan hingga saat ini laporan tidak ditindaklanjuti oleh Pelsek Peranap yang pada saat itu Kapolsek AKP. Anisman.

Hingga saat ini pengaduan Antria Hulu masih mengendap di Polsek Peranap. Polisi tampaknya lebih berpihak kepada pengusaha, apalagi perusahaan besar dan konglomerat. Apalah daya si miskin yang melawan si kaya PT. Rimba Lazuardi? “Sungguh ironis di negara ini, jika si miskin mengadu tidak ditanggapi Polisi” kata Ahmad Siregar kepada IndependensI.com, Kamis 14 Desember 2017. (Mangasa Situmorang).