Kerusuhan sepakbola (Istimewa)

Kesepakatan Damai Harus Dipahami

Loading

JAKARTA (IndependensI.com) – Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) meminta seluruh suporter klub sepak bola nasional memahami kesepakatan damai yang akan ditandatangani bersama pada acara Jumpa Suporter Indonesia di Kantor Kemenpora, Jakarta, Kamis (3/7).

“Kami telah mengusulkan delapan poin untuk menjadi kesepakatan bersama antarsuporter. Tapi, kami tidak ingin merasa suporter dijebak oleh Kemenpora sehingga kesepakatan itu hanya tertuang dalam satu kalimat yang tidak kaku dan mengikat,” kata Sekretaris Menpora Gatot S. Dewa Broto seperti dikutip Antara, Selasa (1/8). Hal ini disampaikan Gatot selepas menggelar rapat bersama perwakilan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dan sejumlah suporter klub sepak bola di Jakarta.

Gatot mengatakan poin-poin kesepakatan antarsuporter klub sepak bola yang telah disiapkan Kemenpora antara lain kebutuhan akan perdamaian dan suporter harus bertanggung jawab jika terjadi peristiwa kerusuhan. “Kami tidak ingin poin-poin kesepakatan damai seluruh suporter klub sepak bola nasional hanya dipahami pada tingkatan atas. Kami berusaha melibatkan sebanyak mungkin perwakilan suporter, perwakilan klub, perwakilan PSSI, PT Liga Indonesia Baru, hingga kepolisian dalam pertemuan Kamis,” ujar Gatot.

Pemerintah, lanjut Gatot, berharap pertemuan antarsuporter dalam acara Jumpa Suporter Indonesia itu dapat meminimalkan konflik antarsuporter selain menjadi ajang pengungkapan harapan para suporter terhadap sepak bola nasional.

Sekretaris Jenderal PSSI Ratu Tisha mengaku akan menindaklanjuti pertemuan yang telah dimulai oleh Kemenpora untuk merangkul para suporter klub sepak bola nasional. “Dalam sepak bola rivalitas adalah hal biasa. Tapi, sportivitas harus dijunjung tinggi. Rivalitas harus dijaga. Kami dari PSSI berkomitmen untuk menjaga keamanan di area stadion agar rivalitas terjaga dan tersalurkan dengan baik,” ujar Tisha.

Ketua The Jakmania Ferry Indra Sjarief berharap acara Jumpa Suporter Indonesia menjadi kumpulan simpati dari para korban kerusuhan suporter yang pernah terjadi sebelumnya. “Pertemuan itu bisa menjadi ajang penyampaian pendapat untuk generasi berikutnya,” ujar Ferry. Dia menambahkan proses perdamaian lapisan bawah suporter klub sepak bola nasional butuh proses yang panjang sebagaimana proses rivalitas antarsuporter itu.