Foto bertanggal 19 September 2017 ini memperlihatkan seorang chef menyiapkan makanan di restoran Charlotte's W5 di Ealing, London, Inggris. on September 19, 2017. (AFP)

Restoran Inggris Kekuarangan Karyawan

JAKARTA (IndependensI.com) – Restoran di Inggris bakal kekurangan karyawan jelang diterapkannya Brexit.

Setelah Inggris resmi keluar dari Uni Eropa, para pekerja dari negara-negara anggota organisasi itu akan meninggalkan Inggris. Jaringan rumah makan seperti Franco Manca dilaporkan sudah kekurangan karyawan. Selama ini, bisnis jasa boga di Inggris mengandalkan pekerja asing.

Jumlah warga negara Uni Eropa yang meninggalkan Inggris, kebanyakan yang berasal dari Eropa tengah, naik dari 33.000 menjadi 122.000 orang dalam periode 12 bulan hingga Maret 2017. Kenaikan itu terjadi setelah pendukung Brexit memenangi referendum tahun lalu.

Perusahaan induk Franco Manca, Fulham Shore, mengatakan sistem baru pengawasan imigrasi saat Brexit diterapkan “berdampak pada tersedianya karyawan berpengalaman asal Eropa”.

Perusahaan, yang hanya 20 persen karyawannya warga negara Inggris, mengatakan harus membuat “beberapa skema insentif” agar karyawan asal Eropa mau bertahan.

Pemilik restoran khawatir pekerja asal Inggris tidak mampu atau tidak mau mengisi kekosongan selepas eksodus pekerja Eropa.

Data Kantor Statistik Nasional Inggris (ONS) memperlihatkan industri restoran dan hotel di Inggris kini punya proporsi kekurangan karyawan tertinggi di Inggris.

Keadaan memburuk dengan hanya 4,3 persen lowongan di industri ini tidak terisi pada periode Juni hingg Agustus 2017. Bandingkan dengan 3,5 persen pada periode yang sama tahun lalu.

Alex Wrethman, pemimpin jaringan rumah makan Charlotte’s, mengatakan warga Uni Eropa enggan bekerja lagi di Inggris karena anjloknya nilai tukar pound terhadap euro sejak referendum Brexit.

Alex Wrethman

Devaluasi mata uang itu “secara langsung mengurangi upah mereka” dibandingkan dengan nilainya dalam euro.

Wrethman mengaku kesulitan mencari orang Inggris yang punya kualitas dan komitmen setara dengan karyawan asal Eropa.

“Susah mendapatkan orang Inggris yang mau bangun pagi untuk mencuci piring,” kata Wrethman, yang saat remaja bekerja di restoran yang kini menjadi miliknya itu.

“Sikap ini ada hubungannya dengan sejarah. Ini soal gengsi karena orang Inggris merasa punya kelas yang lebih tinggi,” kata Wrethman.

Tapi tidak semua orang cemas. Tim Martin, bos jaringan kedai minum JD Wetherspoon, merasa puas dengan Brexit. Hanya sekitar lima persen dari 37.000 orang karyawannya berasal dari Uni Eropa.

Martin, salah satu pendukung utama Brexit, sempat mencetak slogan “Vote Leave” (pilih keluar) di tatakan bir di masa kampanye referendum. Dia juga menyumbang 200.000 pound untuk kemenangan Brexit.

Dia mengatakan kecewa dengan “undang-undang perpindahan bebas warga Eropa” yang diterapkan oleh “birokrat yang tidak dipilih” di Uni Eropa.  Martin mengusulkan Inggris bisa menerapkan peraturan imigrasi seperti yang digunakan di Amerika Serikat, Australia, atau Selandia Baru.

“Kami tidak akan kekurangan karyawan. Tapi mungkin nantinya akan sulit merekrut karyawan baru,” kata Martin.