Seorang perempuan berdoa dekat salib putih yang didirikan di Las Vegas Strip, sebelah selatan Hotel Mandalay Bay, Las Vegas, AS, Jumat (6/10/2017). Sebanyak 58 salib putih dibuat untuk mengenang korban pembunuhan oleh Staphen Paddock akhir pekan lalu. (AFP)

Paddock Memang Berencana Bunuh Orang Sebanyak Mungkin

JAKARTA (IndependensI.com) – Stephen Paddock memang punya rencana memaksimalkan korban. Hal itu diketahui dari catatan yang ditemukan polisi di kamar hotel tempat dia melancarkan serangan.

Paddock menghujani penonton konser musik country dengan tembakan dari kamar di lantai 32 hotel Mandalay Bay, Las Vegas, AS pada 1 Oktober 2017 malam waktu setempat. Tindakan brutal itu menewaskan 58 orang dan melukai hampir 500 orang.

Stephen Paddock

Polisi menemukan kertas yang berisi perhitungan Paddock untuk meningkatkan akurasi tembakan dan memaksimalkan jumlah korban.

Dalam wawancara di acara “60 Minutes” yang akan ditayangkan stasiun televisi CBS pada Minggu (8/10/2017) ini, David Newton dari unit K-9 Kepolisian Las Vegas mengungkapkan adanya catatan pembantaian Paddock “di samping tempat tidur dekat tempat dia menembak”.

“Saya melihat catatannay tentang jarak, ketinggian tempat dia berada, arah jatuhnya peluru yang dia tembakkan ke kerumunan orang. Jadi dia memang sudah merencanakan semuanya dan mengetahui arah melepaskan tembakan ke sasaran dari sana,” kata Newton.

Newton menambahkan bahwa saat dia dan rekan-rekannya mendobrak pintu kamar, mereka melihat tubuh Paddock dan tumpukan senjata seperti “di dalam film”.

“Pemandangan yang amat mengerikan,” kata Newton.

Kamar yang ditempati Paddock memberikannya posisi ideal untuk melancarkan serangan ke arah lebih dari 20.000 orang yang menyaksikan konser musik country di seberang jalan. Lokasi konser itu berjarak sekitar 365 meter dari Mandalay Bay.

Catatan tersebut belum memperlihatkan motivasi sang Jagal Las Vegas. Otoritas keamanan AS belum berhasil mengungkap apa yang membuat Paddock melancarkan serangan berdarah itu.

“Kami belum tahu pasti apa motif atau alasannya,” kata Kevin McMahill dari Kepolisian Metro Las Vegas.

Aksi penembakan itu memicu kembali perdebatan tentang pembatasan kepemilikan senjata api di AS. National Rifle Association, yang selama ini gigih menentang pembatasan, bahkan meminta pemerintah meninjau kembali undang-undang terkait bump stock.

Mekanisme bump stock memungkinkan senapan melepas tembakan dengan cepat dan berulang. Hasilnya, senapan tersebut dapat menembakkan ratusan peluru per menit.