Ilustrasi. Beras. (Ist)

Kegaduhan Beras, Kegaduhan yang Dipaksakan?

JAKARTA (Independensi.com) – Di tengah perayaan panen padi petani di berbagai daerah justru dikejutkan dengan rencana impor beras khusus pada akhir bulan ini, sebanyak 500 ribu ton. Sementara Ombudsman Republik Indonesia menyarankan pemerintah agar menghentikan kegiatan membuat opini soal beras surplus dan kegiatan perayaan panen yang berlebihan.

“Ini kok aneh ya. Kenapa kok merayakan panen disuruh dihentikan?, justru perayaan panen itu kan tanda syukur berkah bagi petani. Apa itu berlebihan?, Saya kira biasa-biasa saja, gak ada hal baru, dari dulu juga petani merayakan panen,” ujar Pengamat Kebijakan Publik, Muh. Syaifullah dalam keterangan persnya kepada Independensi.com, Selasa (16/1/2018).

“Logika saya saat ini stok tidak tipis, Buktinya survei BPS pada Maret, Juni dan September 2015, saat itu dalam kondisi musibah El-Nino terbesar, ditemukan stok berada di berbagai tempat kisaran 8 hingga 9,7 juta ton. Dibanding kondisi sekarang iklim normal, ya pastilah stok sekarang lebih besar,” jelasnya.

Ombudsman Republik Indonesia memang baru saja merilis temuan berkaitan dengan pengelolaan data persediaan beras dan kebijakan impor beras. Ada enam gejala maladministrasi. Diantaranya ditemukan pasokan beras pas-pasan dan tidak merata.

Syaifullah melanjutkan “Lha ini kan malah menambah kegaduhan baru yaitu data. Jangan sampai data dijadikan tumpuan sumber masalah. Data kan sudah dari dulu adanya demikian. Mestinya kan fokus masalah rencana impor ini”.

“Mengenai adakah surplus beras ya serahkan saja pada yang kompeten. Data yang ada digunakan maksimal untuk menghitung beras, lama waktu bila mencari data lagi. Saya yakin instansi yang bersangkutan piawai menghitungnya”, ujarnya

Lebih lanjut penulis dan peneliti dari Pusat Kajian Inovasi dan Entrepreneurship (PKIE) itu mengatakan “Nah bila ada pihak lain yang merasa memiliki data baru ya dikonfirmasikan saja pada instansi tersebut, saya yakin mereka akan terbuka membahasnya”.

“Kalau begini kan saya jadi ikutan bingung. Dalam waktu singkat Ombudsman menyimpulkan stok beras pas-pasan dan menipis” Itu kayaknya stok Bulog ya?, kok terlalu sederhana hanya menghitung sebaran stok Bulog”. ujarnya

“Untuk diketahui stok beras banyak dan tidak hanya di Bulog, yaitu ada di petani, di penggilingan, di pedagang, di berbagai gudang, di konsumen, di horeka dan lainnya. Ingat Indonesia negara kepulauan, jadi so pasti lah stok beras itu bervariasi karena dikenal ada daerah sentra dan non sentra padi,” ungkapnya.

“Bukti sekarang stok berlebih adalah saat harga ini naik tinggi di atas 10 persen, tidak ada rush pada memborong beras tuh, artinya tetap ada pasokan terus mengalir ke pasar. Justru saya malah curiga ada janggal kenapa harga naik liar, sementara pasokan cukup? Harga beras termurah IR64-III di PIBC mulai tanggal 3 – 9 Januari 2018 naik liar, sementara pasokan cukup, padahal saat Natal dan Tahun Baru harga wajar,” pungkasnya.

Baca juga: Mentan: Rencana Impor Beras Khusus pada Akhir Bulan Tidak Signifikan

One comment

Comments are closed.