Pjs Wali Kota Bekasi Ruddy Gandakusumah saat meninjau tanggul Kali Bekasi yang erosi akibat banjir. (humas)

Warga Tepi Kali Bekasi Tagih Janji Pemerintah

BEKASI (IndependensI.com)-  Erosi yang mengakibatkan tanah dan rumah-rumah penduduk ambruk dampak banjir di Kali Bekasi, Kematan Bekasi Utara, Kota Bekasi,  sudah menahun. Bahkan ada makam keluarga yang rubuh tergerus air.

Erosi hingga kini masih terus terjadi, dan mengancam rumah-rumah masyarakat. Pejabat dan aparatur dan pemerintah daerah
sudah sering meninjau lokasi tersebut.

Terkait hal itu, warga Kelurahan Teluk Pucung, Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi menagih janji kepala daerah setempat yang memproritaskan penanganan erosi di Kali Bekasi. Sejak insiden longsornya tanggul hingga menghanyutkan 14 rumah warga di sana pada 2014 lalu, pemerintah daerah tidak kunjung membangun tanggul.

Puluhan warga di lokasi itu masih dihantui  erosi susulan. Apalagi ketika hujan deras mengguyur, sehingga debit air di Kali Bekasi yang semakin meningkat bisa memicu erosi. “Sampai sekarang kita masih ketakutan kalau hujan deras turun, karena bisa memicu longsor susulan,” kata Syahroni (40) warga RW 02, Teluk Pucung, kemarin.

Syahroni mengatakan, dulu wilayahnya menjadi skala prioritas pemerintah daerah dalam penanganan banjir. Salah satu caranya dengan membangun tanggul yang menjadi batasan dengan permukiman warga.

Namun seiring waktu berjalan, rencana itu tidak pernah terealisasi. Warga pun bingung mesti lapor ke mana lagi, sebab pihak kecamatan sudah meneruskan laporan itu ke Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (BMSDA) sebagai dinas teknis.

“Saya mohon kepada Wali Kota Bekasi, Bapak Rahmat Effendi (petahana) yang dulu memprioritaskan wilayah saya, ternyata sampai sekarang belum ada realisasinya. Saya mohon dengan sangat kalau bisa diprioritaskan kembali,” ujarnya.

Disebutkan, warga merasa terancam dengan kondisi Kali Bekasi yang belum memiliki tanggul. Bila hujan deras, air akan naik ke perkampungan warga. Setelah itu, air akan surut diiringi dengan pergeseran tanah di bibir kali hingga berdampak pada longsor besar. “Dulu 14 rumah hanyut karena longsor, kami mohon dibuatkan tanggul demi keamanan kami bersama,” ucapnya.

Rohgaya (56) warga lainnya menambahkan, dua pekan lalu sempat terjadi longsor susulan di wilayah setempat. Longsor itu, kata dia, menimbulkan suara gemuruh hingga kepanikan yang luar biasa bagi warga setempat. “Saya tidak bisa tidur kalau malam hari ketika hujan deras apalagi kalau ada longsor, badan langsung lemas,” katanya.

Sebagaimana diberitakan kemarin, Pejabat sementara (Pjs) Wali Kota Bekasi, Ruddy Gandakusumah sudah mengecek kondisi permukiman warga yang longsor di Teluk Pucung, Bekasi Utara pada Senin (26/2). Saat itu Ruddy mengakui,  pemerintah harus segera membangun tanggul supaya longsor tidak merembet ke permukiman warga lainnya.

“Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (BMSDA) bisa berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane (BBWSCC) Kementerian PUPR dalam melakukan penurapan atau tanggul di wilayah setempat,” kata Ruddy.

Terkait hal itu, sesuai aturan, yang berwewenang menangani kali alam seperti Kali  Bekasi adalah pemeritah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Permukiman Rakyat. (PUPR).  Maka, pemerintah daerah sifatnya hanya menangani sementara. (jonder sihotang)