Umat Hindu Keturunan Majapahit Gelar Melasti di Pantai Ngobaran

GUNUNG KIDUL (IndependensI.com) – Umat Hindu yang merupakan keturunan para pelarian Majapahit di Gunung Kidul menggelar upacara Melasti di Pantai Ngobaran, Gunung Kidul. Melasti merupakan upacara penyucian diri untuk menyambut hari raya Nyepi. 

“Upacara Melasti pada purnama Kesanga, serangkaian hari raya Nyepi tahun Saka 1940 di Pantai Ngobaran Gunung Kidul. Bukan saja bertutur tentang ritual menghanyutkan segala kekotoran dalam makro dan mikrokosmos dan mengambil sari-sari amrta kesucian dari tengah laut. Namun sekaligus gambaran kesatu-paduan agama Hindu dan Budaya Nusantara,” kata Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia ( PHDI) Gunungkidul Purwanto, Kamis (01/03/2018).

Upacara Melasti dilaksanakan pada Purnama IX, Kamis 1 Maret 2018, di Pantai Ngobaran Gunungkidul DIY. Acara dimulai Pukul 09.00 WIB dengan Prosesi Jempana dari pertigaan Ngrenehan menuju Pantai Ngobaran. Ratusan umat Hindu mengikuti upacara Melasti yang berlangsung di Pantai Ngobaran, Desa Kanigoro, Saptosari, Gunung Kidul.

Istimewa

Dalam upacara ini mengusung tema ‘Umat Hindu Kabupaten Gunungkidul Membangun harmoni, kesadaran apiritual, dan mengaplikasikan nilai-nilai budaya. Harapan dengan tema itu sendiri umat Hindu dapat menjadi bagian dari keragaman agama yang ada di Indonesia’. “Jadi belakangan ini semarak intoleransi, umat Hindu dengan perayaan ini dapat membangun harmoni, toleransi, kerukunan,” paparnya.

Istimewa

Sementara itu, Wakil Bupati Gunungkidul, Immawan Wahyudi mengucapkan selamat kepada Umat Hindu dan berharap agar rangkaian upacara dapat berjalan lancar. “Harapan kami umat Hindu dapat membantu aksi nyata melestarikan lingkungan yang baik. Menjaga keseimbangan alam, sehingga kesejahteraan masyarakat semakin meningkat,” ujarnya.

Pantai Ngobaran dipercaya penduduk sekitar sebagai tempat yang dilalui oleh rombongan Kerajaan Majapahit Prabu Brawijaya V atau Singawikramawardhana Dyah Suraprabawa yang dikejar-kejar pasukan Islam Demak setelah Majapahit runtuh pada 1478. Prabu Brawijaya V bersama keluarganya meninggalkan keraton namun terus dikejar-kejar pasukan Demak yang dipimpin Sunan Kudus.

Dinamakan pantai Ngobaran yang berasal dari kata kobar, untuk menandai di tempat ini berkobar atau terjadi pertempuran antara para pengikut Prabu Brawijaya V dan pasukan Demak yang umumnya para pengikut Walisanga. Namun dalam penyergapan ini Prabu Brawijaya V dan sejumlah pengikutnya berhasil menyelamatkan diri dari persekusi yang dilakukan oleh pasukan Demak. Sejumlah pengawal dan keluarga kerajaan gugur dalam pertempuran di Pantai Ngobaran.

Para pengikut dan keturunan Prabu Brawijaya V yang menolak masuk Islam kemudian terpencar ke berbagai wilayah di Gunung Kidul seperti Nglipar, Ngawen, Karangmojo, Ponjong, Ngobaran, Playen dan Paliyan. Hingga hari ini mereka masih beragama Hindu. Hindu adalah sebutan setelah era kemerdekaan sedangkan pada masa Kerajaan Majapahit disebut Siwa-Buddha.