Ilustrasi. (Ist)

Surat Duka Pagi Bening di Surabaya

duka macam apa yang harus dialamatkan pagi ini
bendera koyak, pagi nanar, lonceng gereja tenggelam oleh pekik perih
: orang tak berdosa dan bocah melolong sepenuh sakit

negerimu dalam kebutaannya, nak
kami semua orangtuamu juga
menggigil memikirkan kalian – pemegang tampuk masa depan
sedang terluka hatimu dan berdarah tubuhmu

sakitmu telah sampai ke tubuhku
pecah sudah jiwaku, geram menjelma mata bambu runcing
kejamnya penghianat negeri ini, nak

merahmu membuat puisiku menjelma saga
aku sampaikan duka teramat dalam
dan doa sepanjang perjalananmu – lekas berobat, nak, ke rumah sakit
jangan kecewa pada negeri ini, nak

sakitmu telah sampai ke ragaku, nak
pecah juga tubuhku, geramku menjelma kaca
mari memburu kebiadaban penelikung negeri ini

merahmu menjelmakan tubuh sebagai kawah
telah kuhantar doa sepenuh gigil
teringat perih sepanjang perjalananmu – semoga pulih, nak.
jangan luka untuk negeri ini, nak

lonceng-lonceng gereja berbunyi parau
bersama doa anak negeri dari altar, sajadah, pura dan vihara
kau tak sendiri, nak
mereka hanya orang degil-pecundang tempat kebiadaban akan lesap sangsai
oleh tubuh kita yang tersusun sebagai sejarah – sebagai nusa, sebagai kesuma; sebagai bangsa.

: aku juga indonesiamu, nak…

Oleh: Sihar Ramses Simatupang