Mahathir Jadi PM, Menghapus Kesalahan?

IndependensI.com – Usia tua tidak menghalangi untuk berbuat termasuk menjadi Perdana Menteri seperti apa yang dialami Datuk Seri Mahatir Mohammad, di usia 92 tahun tampil menjadi Perdana Menteri Malaysia. Mahathir mengalahkan petahana (64 tahun) yang telah memerintah sejak tahun 2009.

Kejayaan Mahathir memenangi pemilihan umum di Malaysia memberi dorongan bagi orang-orang yang sudah lanjut usia untuk tidak surut termasuk dalam berpolitik, sebab di usia 92 tahun, Mahathir melenggang ke kembali ke singgasana jabatan Perdana Menteri yang pernah didudukinya  selama 22 tahun (1981-2003).

Selama kepemimpinannya, Mahathir disebut masyarakatnya sebagai “bapak modernisasi” sehingga telah mempersiapkan para penerusnya baik di partai yang sekaligus akan mengisi pemerintahan, dengan cermat ia memperhatikan sepak terjang para penerusnya serta tidak segan menyingkirkan bawahannya yang sekaligus anak asuhnya apabila dinilai menyimpang dari aturan yang tersedia.

Demikian juga ketika dia harus mengakhiri karier politik sekaligus di pemerintahan dari seorang cendekiawan binaannya Anwar Ibrahim, ahli ekonomi, mungkin karena dianggap terlalu maju atau melangkahi kebijakan Mahathir sehingga dia kena proses hukum dan masuk penjara. Tahun 1999 “anak didik” Mahathir itu dijatuhi hukuman 6 tahun karena didakwa menyalahgunakan kekuasaan.

Di tahun 2003 Mahathir menyerahkan jabatan Perdana Menteri ke Abdullah Ahmad Badawi yang menjabat sampai tahun 2009 dan digantikan oleh yang juga “anak didik” Mahathir yang lain yaitu Najib Rajak.

Sejak Najib Rajak memegang tampuk kekuasaan baik di partai UMNO maupun di Pemerintahan, Mahathir yang dijuluki “Little Soekarno” itu merasa bahwa Najib telah mengabaikan asas-asas pemerintahan yang baik, sebab telah mengabaikan kepentingan rakyat serta mendahulukan kepentingan pribadi dan keluarga serta kroni baik di partai maupun di pemerintahan.

Karena Mahathir merasa bahwa pemenuhan kesejahteraan masyarakat dan penyelenggaraan pemerintahan mengalami kemunduran, maka dia merasa “berdosa” sehingga ingin menebus dosanya itu. Memang Mahathir menyatakan merasa bersalah sehingga perlu menebus kesalahan itu, namun tidak disebutkan apakah kesalahan itu karena memecat Anwar Ibraham sebagai Menteri Keuangan dan Deputi Perdana Menteri serta “mengirimkannya” ke penjara, atau karena memberi peluang kepada Najib Rajak untuk memimpin UMNO dan menghantarkannya ke kursi Perdana Menteri tidak dijelaskan.

Dengan keyakinan sebagai orang yang telah mengabdikan diri untuk negara dan masyarakatnya. Mahathir bertekad “meruntuhkan” kekuasaan Najib yang dianggapnya menyimpang itu, maka Mahathir bergabung dengan oposisi yaitu partai yang dipimpin Wan Azizah, isteri Anwar Ibrahim, Pakatan Harapan.

Pada Pemilu 9 Mei 2018 lalu Pakatan Harapan mengungguli Barisan Nasional, kelompok partai Najib Ibrahim di mana Pakatan Harapan memperoleh 133 kursi dari 222 jumlah kursi di Parlemen Malaysia. Satu hari setelah pemilu, Raja Malaysia Sultan Muhammad V sudah merestui, dan resmilah Mahathir menjabat Perdana Menteri dengan menunjuk Wakilnya Wan Azizah, isteri Anwar Ibrahim, dan setelah itu PM yang baru meminta agar Yang Dipertuan Agung membebaskan Anwar Ibrahim yang masih mendekam di penjara. Dan tanggal 16 Mei Anwarpun telah menjadi warga negara biasa dan dia sudah bebas berpolitik lagi.

Mahathir adalah orang jujur pada dirinya, masyarakat dan juga tidak mementingkan diri, keluarga dan kroninya, sehingga kepercayaan publik tidak berubah tetap mengidolakan dia sehingga pencalonannya jadi gayung bersambut.

Masyarakat Malaysia masih mengenang masa pemerintahan Mahathir 15 tahun yang lalu, dan kini  benar-benar mengalami kemunduran, maka jalan satu-satunya untuk mengembalikannya ya harus memilih Mahathir kembali sebagai Perdana Menteri.

Jadi kalau ada yang  lanjut usia yang mau berkiprah lagi ke gelanggang politik perlu menimbang-nimbang diri,  tidak hanya kebugaran jasmani tetapi yang jauh lebih penting dan dibutuhkan masyarakat adalah kejujuran serta “selesai dengan dirinya sendiri”.

Mahathir Mohammad ingin berkuasa kembali adalah untuk memperbaiki masyarakat dan  bangsanya, sebagaimana telah ditunjukkannya dengan  dharma bhaktinya sebagai menjabat Perdana Menteri selama 22 tahun, dan apa yang telah diraihnya dahulu mau dikembalikannya. Pendek kata Mahathir mencalonkan diri bukan semata-mata ingin berkuasa melainkan untuk memperbaiki hidup dan kehidupan masyarakat Malaysia.

Kalau banyak yang terinspirasi dengan proses politik Malaysia, dengan tampilnya Mahathir Mohammad sebagai Perdana Menteri di usia 92 tahun hendaknya menakar diri dan menimbang-nimbang apakah mampu memedomani Mahathir,  yang sudah “selesai dengan dirinya”? (Bch)

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *