Foto kombinasi ini memperlihatkan Presiden AS Donald Trump (kiri) dan Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong-un. Keduanya akan bertemu dalam perundingan di Pulau Sentosa, Singapura, Selasa (12/6/2018).

Trump Janjikan Kemakmuran untuk Korut

JAKARTA (IndependensI.com) – Presiden AS Donald Trump menjanjikan kemakmuran untuk Korea Utara di bawah dukungan Amerika. Syaratnya, pemimpin tertinggi Korut Kim Jong-un harus melucuti persenjataan nuklirnya.

Selama diisolasi dari dunia internasional, Korut bergantung pada China untuk menjual produknya dan mendapatkan berbagai komoditas yang dibutuhkan. Sebagai negara adidaya di bidang ekonomi, China tentu saja mampu memenuhi kebutuhan negara tetangganya.

Lebih dari 90 persen perdagangan Korut dilakukan dengan China. Tanpa China, perekonomian Korut praktis sekarat.

Perekonomian China bangkit sejak era kepemimpinan Deng Xiaoping, yang naik sebagai pemimpin pada 1978. Waktu itu, China baru saja keluar dari ‘kekacauan’ selama 27 tahun dipimpin Mao Zedong. Di masa Mao, kapitalisme diharamkan dan semua perusahaan dan properti swasta disita oleh negara untuk dikelola di bawah kepemilikan bersama.

Deng memperkenalkan reformasi yang kemudian menjadi landasan kebangkitan ekonomi China dalam empat dasawarsa terakhir. Perubahan pesat ini ditandai oleh pertumbuhan ekonomi yang fenomenal. Uniknya, perubahan itu tidak mengurangi kekuasaan Partai Komunis China. Partai tunggal itu justru semakin perkasa.

Perundingan AS-Korut di Singapura, yang akan berlangsung pada 12 Juni 2018, sepertinya cukup membuat China cemas. Jika Kim menerima syarat yang diajukan Trump, Pyongyang tidak akan lagi bergantung pada Beijing.

Jelang pertemuan bersejarah itu, China meningkatkan diplomasinya dengan Korut. Kim dua kali datang ke China yaitu pada Maret dan Mei 2018. Pertemuan itu diduga diadakan untuk memastikan Kim tidak berpaling. Dalam lawatan selama 11 hari pada Mei lalu, Kim diajak berkeliling ke kawasan industri China dan meninjau teknologi transportasi dan terobosan mutakhir di bidang ilmu pengetahuan.

Korut kembali mengirim delegasinya ke China hanya beberapa pekan setelah Kim menyatakan berakhirnya pengujian nuklir dan rudal, serta menjanjikan “konstruksi ekonomi sosialis”. China menyebut pengumuman Kim itu sebagai awal era reformasi yang merujuk pada kebijakan Deng.

“Kim berunding dengan Trump karena dia mau Amerika Serikat mencabut sanksi. Setelah itu, yang akan muncul adalah Kim dan (Presidan China) Xi Jinping,” kata Jeon Kyong-man, pakar ekonomi di Institut Penyatuan Masyarakat Korea, seperti dikutip kantor berita Reuters, Senin (11/6/2018).

Bentuk kepemimpinan China, yang bisa membangun ekonomi pasar di bawah kekuasaan terpusat, memukau Kim. Pakar ekonomi dari Dongxing Securities di Beijing, Zhang Anyuan, mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi serta stabilitas sosial yang terjamin, adalah impian semua pemimpin dunia.

“Dengan memperhitungkan lokasi geografi, sistem perekonomian, ukuran pasar, tahap pengembangan ekonomi, kerja sama ekonomi China-Korea Utara telah mencapai tingkat yang sulit digantikan,” kata Zhang.

Apakah perundingan besok akan membuat Kim Jong-un berpaling dari Beijing, atau sekadar melepaskan diri dari isolasi internasional? Hanya waktu yang bisa menjawabnya. Yang pasti, selama ini Beijing sudah membuktikan kesetiakawanannya untuk Pyongyang di masa sulit.