Menteri Tenaga Kerja, Hanif dhakiri. (ist)

Menaker: Tenaga Kerja Robot Perlu Disikapi Serius

BEKASI (IndependensI.com)- Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri mengungkapkan kehadiran tenaga kerja berbasis robot perlu disikapi serius oleh kalangan pemangku kebijakan kurikulum pendidikan untuk mencetak kualitas lulusan yang handal.

“Manajemen sumber daya manusia (SDM) sekarang sudah bertransformasi secara cepat. Akan ada pekerjaan yang hilang, tapi ada juga pekerjaan baru yang muncul. Robot sudah mendominasi hidup kita. Apakah SDM masih
diperlukan?,” katanya.

Hal itu disampaikan Hanif saat membuka jalannya Kuliah Umum Dies Natalis ke-1 Politeknik Ketenagakerjaan di Balai Pelatihan Kerja (BLK) Cevest Kota Bekasi, Selasa (4/9/2018).

Dikatakan, isu pemanfaatan robot dalam industri modern saat ini menjadi salah satu kekhawatiran para lulusan pendidikan di Indonesia yang belum siap dengan kualifikasi lapangan kerja.

Kehadiran tenaga robot dalam dunia produksi saat ini telah menjadi kebutuhan utama kalangan pengusaha nasional maupun mancanegara.

Ia menyebutkan, ada tiga pola kebutuhan industri yang saat ini dikombinasikan dalam kegiatan produksi, yakni managemen manusia, mesin dan data.

“Di Singapura, ada kegiatan produksi yang menghadirkan campuran robot dan manusia karena mereka terikat kontrak produksi dengan relasi. Artinya, SDM handal saat ini masih menjadi kebutuhan utama,” katanya.

Situasi tersebut perlu disikapi serius kalangan pencetak tenaga kerja guna menjaga keberimbangan angka kelulusan dengan serapan lapangan kerja.

Dikatakan Hanif, jangan sampai program studi yang disusun tidak relevan dengan kebutuhan pasar saat ini.

“Program studi perguruan tinggi jangan sammpai programnya tidak relevan. Misalnya, mahasiswa ‘cum laude’, namun saat keluar dari
universitas, ilmunya tidak terpakai. Ada mahasiswa S1 dengan kemampuan
‘Power Point’, pas lulus, ilmunya tidak terpakai,” katanya.

Hanif juga mengimbau tenaga pendidik di Indonesia untuk sensitif terhadap perubahan sosial kemasyarakatan yang terjadi dewasa ini.

“Saya berpesan agar lembaga pendidikan politeknik harus dikembangkan (kurikulum). Sebab ekonomi kita sudah bertransformasi menjadi industri berpengetahuan,” katanya.

Salah satu hal yang penting dilakukan adalah menjalin hubungan antara lembaga pendidikan dengan kebutuhan industrial.

“Kita harus punya kampus untuk mendalami berbagai isu ketenagakerjaan. Di banyak negara, isu ini ada di posisi strategis,” katanya. (ant/jonder sihotang)