Pemilu Presiden 2019, Jokowi Dikeroyok SBY, AS dan Prabowo

JAKARTA (Independensi.com) – Di media sosial ramai dibahas mantan Presiden Republik Indonesia periode 2004 – 2014, Jenderal Purnawirawan Susilo Bambang Yudhoyono, dicueki Calon Presiden nomor urut 2, yaitu Letnan Jenderal Purnawirawan Prabowo Subianto, jelang pidato politik mantan menantu Soeharto itu di Plenary Hall Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta, Senin malam, 14 Januari 2019.

Dalam video terlihat Prabowo Subianto lebih memilih akrab dengan tamu berpakaian jas lengkap berkulit putih, ketimbang SBY yang sebelumnya berjalan beriringan.

SBY berpakaian batik lengan panjang, terlihat jalan sendirian, sedangkan Prabowo dengan tamunya yang diklaim diplomat dari negara sahabat berjalan duluan menuju ruang khusus.

Tidak pelak lagi, video ini mendapat reaksi beragam dari berbagai pihak. Umumnya menuding sikap Prabowo yang seakan tidak menghargai SBY, mantan Mentri Koordinator Politik dan Keamananbdi era Presiden Megawati Soekarnoputri, itu, bisa membuat ketersinggungan Partai Demokrat, partai berlambang merci, besutan putera Pacitan, itu.

Tapi Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto – Sandiaga Salahudin Uno, yaitu Andre Rosiade, menegaskan tidak ada maksud Prabowo untuk mencueki SBY.

Andre yang saat itu juga mendampingi Prabowo dan SBY menjelaskan bahwa momen itu terjadi saat Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), itu menyambut kedatangan SBY.

“Jadi kan kita keluar jemput SBY sama Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY. Prabowo kemudian jalan sama SBY. Terus saya nungguin AHY, akhirnya jalan bertiga bersama Sandiaga. Kan kelihatan itu di video,” ujar Andre, saat dimintai konfirmasi, Selasa, 15 Januari 2019.

Menurut Andre, di dalam video memang terlihat Prabowo dicueki SBY, tapi, itu, hasil editan. Video hasil editan, itu, ujar Andre, memang sengaja disebarkan kubu petahana pasangan nomor urut 1, atas nama Presiden Joko Widodo (Jokowi) – K.H. Ma’aruf Amin.

Tujuannya untuk mengadu-domba SBY dan Prabowo Subianto, agar energi terpecah selama kampanye sebelum pelaksanaan Pemilu Presiden, Rabu, 17 April 2019.

Sebagaimana Pemilu Presiden tahun 2014 yang menghantarkan Jokowi mengalahkan Prabowo, maka dalam Pemilu Presiden 2019, SBY memang memilih tetap berseberangan dengan mantan Gubernur Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, itu, karena semata-mata Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) masih dikomandani mantan atasan SBY, yaitu Megawati Soekarnoputri.

Sikap politik SBY yang memilih tetap berseberangan dengan Jokowi, kader PDIP, mengingatkan semua pihak akan ampuhnya operasi intelijen menumbangkan petahana Presiden Megawati Soekarnoputri pada Pemilu Presiden tahun 2014.

Dalam posisi itu, kesan, bahwa Amerika Serikat (AS) tetap berada di belakang SBY tidak terbantahkan.

Tahun 2003, saat muncul Instruksi Presiden Megawati Soekarnoputri untuk melakukan operasi militer menumpas Gerakan Aceh Merdeka (GAM), SBY tiba-tiba mundur dari jabatan Menkopolkam dan memilih berkunjung ke AS.

Sepulang SBY dari AS, tiba-tiba Partai Demokrat mendadak terkenal berkat sosialisasi yang sangat masif di media massa, terutama di media televisi dengan memunculkan figur SBY sebagai salah satu pendiri partai.

Dalam Pemilu 2004, Partai Demokrat lolos Parliement Threshold perolehan kursi di Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI), dan hasil koalisi sejumlah partai politik, SBY diusung menjadi Calon Presiden, berpasangan dengan Jusuf Kalla (JK).

Dalam masa kampanye tiba-tiba muncul fatwa dari sejumlah ulama dari Provinsi Jawa Timur secara terbuka mengharamkan pilih calon Presiden Indonesia berjenis kelamin perempuan. Dampaknya, dalam perolehan suara hasil Pemilu Presiden tahun 2004, SBY dengan mudah menumbangkan petahana Presiden Megawati Soekarnoputri.

Dalam Pemilu tahun 2009 dalam pemerintahan 5 tahun pertama, Partai Demokrat berhasil meraih kursi terbanyak di DPR-RI sehingga SBY berpasangan dengan Boediono berhasil mempertahankan kekuasaan dalam Pemilu Presiden tahun 2009.

Tapi dalam Pemilu tahun 2014, perolehan kursi Partai Demokrat di DPR-RI merosot tajam karena selama pemerintahan SBY periode kedua, partai ini didera berbagai kasus korupsi. PDIP dicatat peraih kursi terbanyak di DPR-RI dalam Pemilu 2014.

Akibatnya, pada Pemilu Presiden tahun 2014, Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo berpasangan dengan Jusuf Kalla (JK) yang diusung koalisi PDIP, memenangkan pertarungan melawan Prabowo Subianto – Hatta Rajasa (Prahara).

Empat tahun pemerintahan Jokowi – JK, membuat terobosan mendasar dalam pengelolaan sumberdaya alam. Selama empat tahun berjuang, Jokowi – JK, berhasil merebut 51 persen saham perusahaan tambang milik AS, yaitu PT Freeport Indonesia. Langkah yang sangat berani yang tidak pernah terbayangkan selama 10 tahun masa pemerintahan Presiden SBY, 2004 – 2014.

Langkah berani Jokowi tidak membuat AS diam. Karena dalam Pemilu Presiden Indonesia 2019, bayang-bayang keterlibatan AS dalam mewarnai masa kampanye tidak terbantahkan, dengan tiga parameter.

Pertama, dalam Pemilu Presiden 2019, SBY tetap berseberangan dengan Jokowi dengan mendukung Prabowo Subianto. SBY selama 10 tahun jadi Presiden, keberadaan PT Freeport Indonesia tidak dikutak-katik.

Kedua, gerakan anti komunis dan secara sepihak Jokowi dari keluarga besar Partai Komunis Indonesia (PKI), terus menyeruak bersamaan tuduhan Jokowi agen Chinadi Indonesia.

Ketiga, terungkapnya peran Rob Allyn, konsultan politik dari AS, sebagai konsultan Prabowo, arsitek penebar berita bohong dan ujaran kebencian, baik dalam Pemilu Presiden tahun 2014 dan tahun 2019.

Profil SBY dan Rob Allyn sudah cukup dijadikan sebuah persepsi politik bahwa AS, sangat berkepentingan Jokowi tidak boleh terpilih periode kedua, melalui berbagai praktek kampanye hitam yang terus dialamatkan kepada petahana, Presiden Jokowi berpasangan dengan KH.Ma’aruf Amin.

Di sini disimpulkan, AS sangat berkepentingan untuk mengagalkan Jokowi untuk menjabat Presiden dalam pelaksanaan Pemilu Presiden Indonesia, Rabu, 17 April 2019.

Di Pemilu 2019, petahana Presiden Jokowi, dikeroyok SBY, AS dan Prabowo.(Aju)