Masita Riany

Tips Cara Mencuci dan Merawat Kain Batik Tulis Agar Awet serta Tahan Lama

Oleh Masita Riany

Bagaimana cara mencuci dan merawat kain batik tulis agar awet serta tahan lama? Bagi Anda yang memiliki koleksi batik tulis dan ingin supaya tetap terjaga dengan baik, maka bisa dilakukan beberapa cara di bawah ini. Semoga bermanfaat:

1. Cara mencuci untuk membersihkan

Mencuci baiknya menggunakan air lerak, biasanya sudah dijual dalam botol atau bisa juga menggunakan air lerak yang kita buat sendiri dari buah lerak. Jangan menggunakan sabun cuci agar warna kain batik tulis tetap awet.
Dan jangan pernah mencuci kain batik tulis dengan mesin pencuci.

Rendam kain batik dalam larutan (kurang lebih 5 liter air dicampur 3 tutup botol air lerak) selanjutnya kain dikucek-kucek dengan tangan sampai berbusa, kemudian bilaslah dengan air bersih.

2. Pengkanjian

Bila diperlukan, setelah dilakukan pencucian kain batik, supaya permukaannya bagus dapat dilakukan pengkanjian.
Siapkan air panas secukupnya di ember sekitar 4-5 liter.

Larutkan sekitar 2 sendok makan tepung kanji dalam 1 gelas air biasa (jangan air hangat/panas), baru kemudian masukkan larutan kanji ke dalam 5 liter air panas dalam ember, diaduk rata.

Masukkan kain batik ke dalam ember, lalu ratakan larutannya dan diamkan sebentar.
Angkat, peras dan keringkan, kemudian diangin-anginkan.

3. Pengeringan

Cukup diangin-anginkan pada tempat yang teduh, jangan dijemur di bawah sinar matahari langsung. Sebaiknya jangan menggunakan setrika untuk menghaluskan permukaan kain batik.

4. Perawatan dan pengasapan

Sebaiknya kain batik tulis yang sudah dijemur diangin-anginkan dan sudah kering, kemudian dilakukan pengasapan dengan ratus wangi agar kain batik menjadi harum sebelum disimpan.

Cara pengasapan yaitu pertama bakar ratus dan setelah api hilang berganti asap, masukan dalam kurungan ayam bambu / rotan besar dan taruh ratusnya tepat di tengah kurungan dan gelar kain di atasnya, hingga menutupi seluruh permukaan kurungan tersebut, biarkan beberapa jam.

Ratus wangi biasanya terdiri dari bahan-bahan aromatik alami seperti kayu cendana, kayu manis dan akar wangi.

5. Penyimpanan kain batik tulis

Kain batik tulis sebaiknya disimpan dalam lemari tertutup yang tidak terkena sinar lampu atau matahari secara langsung dan pada tempat yang tidak lembab.
Kalau saya pribadi tidak mau menggunakan kapur barus dalam lemari dimana saya menyimpan kain – kain batik tersebut, karena akan merusak aroma ratus pada kain yang sudah diasap dan menyebabkan kain menjadi mudah rapuh.

Agar tidak ada rengat/rayap yang mengganggu, saya lebih suka menaruh beberapa dupa wangi (tidak dibakar ya, biarkan begitu saja dupanya) yang sudah dibuka dari bungkusnya di dekat kain-kain tersebut.

Dan agar kain tidak mudah berjamur, biasanya saya menaruh mangkuk kecil berisi arang dalam lemari penyimpanan kain tersebut.

Bisa juga menggunakan rempah seperti lada butir, cengkeh, kayu manis atau akar wangi yang dimasukkan ke dalam mangkuk/kantung dengan rongga besar.
Agar kain batik bisa awet disimpan lama, jangan diwiru (dilipat-lipat ujungnya) karena menjadi mudah sobek.

Sebulan sekali, walau kain tidak dipakai, ada baiknya kain – kain batik dikeluarkan dari lemari dan diangin-anginkan supaya tidak dimakan rengat/rayap dan juga untuk menghindari kain berjamur.

Penulis adalah pegiat lingkungan, seniman dan  kolektor batik tulis, tinggal di Jakarta