Pengamat Apresiasi Kenaikan Nilai Ekspor Pertanian

Loading

JAKARTA (IndependensI.com)  – Ketua Harian Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jawa Barat, Entang Sastraatmaja mengapresiasi peningkatan ekspor yang dicapai Kementerian Pertanian selama empat setengah tahun terakhir.

Peningkatan ini sekaligus bukti bahwa arah pertanian Indonesia sedang menuju lumbung pangan dunia.

“Sebagai warga negara yang baik, tentu kita harus mempercayai angka-angka peningkatan ekspor yang dikeluarkan BPS (Badan Pusat Statistik),” ujar Entang, Kamis (1/8).

Entang mengatakan, peningkatan ini sebaiknya diarahkan langsung pada kesejahteraan petani dengan mengacu pada Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP). Kata Entang, Kementan bisa memasang target NTP hingga menyentuh angka 120.

“Menurut saya Kementan memang harus berani memasang target angka 120 NTP supaya dampaknya bisa dirasakan. Tapi kita harus apresiasi ekspor yang meningkat ini,” katanya.

Entang mengatakan, ke depan target yang dipasang Kementan bisa menjadi alat kampanye gratis pemerintah untuk membangkitkan semangat petani dalam meningkatkan produksi.

“Yang penting berani pasang target dulu. Selanjutnya saya yakin target yang dipasang itu mampu mendorong petani untuk lebih giat lagi dalam berproduksi,” katanya.

Sekedar diketahui, angka ekspor produk pertanian Indonesia terus mengalami peningkatan secara signifikan. Tercatat, pada tahun 2013 angkanya mencapai 33,5 juta ton. Dalam tiga tahun terakhir, jumlah ekspor tersebut melonjak tajam menjadi 36,1 juta ton dan 40,4 juta ton.

Lalu pada tahun 2017 dan 2018, jumlahnya kembali meningkat hingga 41,3 juta ton dan 42,5 juta ton.

Pengamat ekonom Universitas Sam Ratulangi Agus Tony Poputra menilai langkah pemerintah dalam mendorong ekspor komoditas buah-buahan, CPO dan sarang burung walet, ke China merupakan langkah tepat.

“Buah-buahan tropikal itu dibutuhkan di sana karena tidak ada buah-buahan tropikal semisal pisang, nanas, dan sebagainya. Itu cocok kita masuk ke China,” katanya.

Agus mengatakan peningkatan ekspor buah-buahan ke China bisa dilakukan dengan mulai mendorong produksi, yang disertai langkah menjaga kebutuhan dalam negeri dan menjamin kestabilan harga komoditas ini.

Untuk produk CPO, Agus menyetujui peningkatan ekspor komoditas ini karena produk sawit olahan tersebut sedang membutuhkan pasar luar negeri yang besar untuk menyerap tingginya produksi dalam negeri.

“Sedangkan sarang burung walet biasa dikonsumsi masyarakat menengah atas, tidak banyak pengaruh ke masyarakat luas, jadi bagus diekspor,” katanya.

Sebelumnya Presiden Jokowi dalam berbagai arahannya menekankan agar kinerja ekspor nasional terus ditingkatkan meski saat ini kondisi global terdampak tingginya tensi perang dagang.

Dalam kesempatanya, Presiden ingin kinerja perdagangan diperbaiki dengan peningkatan ekspor ke negara tradisional maupun nontradisional. Selain itu, Indonesia juga harus mampu mengendalikan impor dengan cara menginisiasi industri substitusi impor.(***).