Anggota DPRD Gresik Terima Hadiah Celana Dalam Dari Forkot

Diduga Potong Dana Jasmas, Forkot Hadiahi Anggota DPRD Gresik Celana Dalam

GRESIK (Independensi.com) – Puluhan orang dari Forum Kota Gresik Jawa Timur, mengelar aksi unjukrasa di kantor DPRD setempat, Senin (2/9). Untuk mempertanyakan dugaan pemotongan dana jaring aspirasi masyarakat (Jasmas) dan menolak kegiatan kunjungan kerja (Kunker) dewan ke luar daerah.

Dalam aksinya, demonstran mendatangi ke gedung parlemen dengan membawa gerobak dan celana dalam. Serta, membagi-bagikan kue bakpao kepada para anggota legislatif yang ada.

Koordinator Aksi Haris S Faqih mengatakan pihaknya sengaja melakukan demonstrasi ke kantor legislatif ini. Untuk menuntut transparasi dari wakil rakyat, karena ada dugaan penyimpangan anggaran.

“Kami kesini, ingin mempertanyakan persoalan dugaan pemotongan dana Jasmas. Sekaligus, menolak kegiatan Kunker anggota dewan ke luar daerah. Karena, selama ini Kunker yang dilakukan dewan tidak ada efeknya dan hanya untuk tujuan pelesiran saja,” ujarnya saat berorasi.

“Kalau memang Kunker itu, bukan plesiran maka tentunya kinerja DPRD tidak akan kami pertanyakan. Indikasi anggota dewan yang selalu pelesiran, dengan dalih kunjungan kerja. Terbukti, selama ini tidak pernah ada hasil dari Kunker yang diimplementasikan kinerja mereka sebagai wakil rakyat,” ungkapnya.

Puas berorasi, para demonstran lalu diterima untuk beraudiensi dengan anggota DPRD Gresik yang diwakili Jumanto. Kepada para demonstran Politisi PDIP itu, mengaku pihak legislatif selalu menerima aspirasi apapun dari masyarakat.

“Aspirasi masyatakat ini, akan kami sampaikan ke pimpinan,” ucap saat menerima perwakilan demonstran. Bahkan, ia membantah jika ada dugaan pemotongan dana Jasmas.

“Saya ingatkan Jasmas itu tidak ada, yang ada hanyalah pokok pikiran (Pokir) DPRD yang tertuang di APBD. Melalui Musrenbang tingkat desa hingga Musrenbang tingkat Kabupaten,” tandasnya.

Merasa tidak puas dengan jawaban yang diberikan anggota DPRD, perwakilan demonstran menghadiahi Jumanto sebuah celana dalam berwarna putih. Sebagai simbol, agar para wakil rakyat tidak mengotori mandat yang diembannya dengan perbuatan kotornya sendiri. (Mor)