Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja. (Dok/Ist)

Hafiz/Gloria dan Fitriani Kandas

Loading

JAKARTA (IndependensI.com) – Ganda campuran Indonesia, Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja terhenti di babak pertama turnamen bulutangkis Victor China Open 2019 yang berlangsung di Olympic Sports Center Gymnasium, Changzou, China, Rabu (18/9/2019). Hafiz/Gloria ditundukkan oleh pasangan Thailand, Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taerattanachai Ponnappa dalam dua gim berdurasi 44 menit dengan skor 14-21, 19-21.

Seperti dikutip dari Antara, pada gim pertama, melalui serangan tanpa henti, Dechapol/Sapsiree terus memimpin perolehan angka, mulai dari awal hingga akhir. Hafiz/Gloria pun tidak mampu mengejar sehingga kalah dengan skor 14-21. Di gim kedua, Hafiz/Gloria mulai melawan. Di awal-awal permainan, Hafiz/Gloria unggul. Akan tetapi di menit ke-32, pasangan Thailand itu mampu menyamai kedudukan menjadi 13-13. Kejar-mengejar poin terus terjadi selama berlangsungnya pertandingan. Kedua pasangan itu pun bergantian memimpin perolehan angka. Setelah reli panjang, Dechapol/Sapsiree kembali merebut kemenangan dengan skor 21-19.

Atas hasil tersebut, Hafiz/Gloria harus rela menerima kekalahan dan tidak dapat melanjutkan ke babak dua turnamen bulu tangkis level Super 1000 berhadiah total mencapai US$ 1 juta itu. Sebelumnya, Hafiz/Gloria dan Dechapol/Sapsiree sudah pernah bertemu tiga kali di lapangan, yaitu di turnamen China Open 2018, Hong Kong Open 2018 dan Badminton Asia Championships 2019. Dari ketiga pertemuan tersebut, Hafiz/Gloria tercatat sama sekali belum pernah menang dari pasangan asal negeri gajah putih itu.

Bukan Lawan Mudah

Sementara itu, pebulutangkis tunggal putri Indonesia Fitriani mengaku, Kim Ga Eun asal Korea Selatan bukan merupakan lawan yang mudah untuk dikalahkan. Pernyataan itu disampaikan Fitriani usai dikalahkan Kim di babak awal dalam tiga gim yang berjalan selama 52 menit dengan skor 21-12, 12-21, 13-21. “Bagi saya, dia (Kim Ga Eun) bukan lawan yang gampang dikalahkan. Pukulannya bagus-bagus dan tajam. Selain itu, pergerakannya juga konsisten, sehingga pertahanan saya harus betul-betul rapat,” kata Fitriani.

Fitriani.

Lebih lanjut, pebulutangkis yang kini berusia 20 tahun itu menuturkan, kondisi angin yang cukup kencang di lapangan menjadi salah satu kendala, sehingga terasa sulit bagi dia untuk mengendalikan laju shuttlecock. “Karena angin yang kencang itu, saya bermain lebih hati-hati, sering menahan-nahan pukulan. Namun ternyata lawan lebih mampu mengontrol sekaligus menekan saya di gim kedua dan ketiga. Akurasi dia pun bagus dan tepat,” tutur Fitriani.