ilustrasi

Vatikan: 500 Ribu Anak-anak Terlantar di Suriah

VATIKAN (Independensi.com) – United Nations Children’s Fund (UNICEF), sebuah organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang memberikan bantuan kemanusiaan dan perkembangan kesejahteraan jangka panjang kepada anak-anak dan ibunya di negara-negara berkembang, menyebutkan, paling tidak ada sekitar 500 ribu orang anak-anak hidup terlantar akibat peperangan berkepanjangan di Suriah (Syria).

Lima ratus ribu anak-anak di bawah umur hidup terlantar di tenda-tenda pengungsian di Suriah, dampak dari kekalahan tentara The Islamic State in Syria and Iraq (ISIS) di Suriah, dalam berperang melawan militer koalisi dari berbagai negara di dunia, terutama dari militer koalisi Amerika Serikat (AS).

Media resmi Negara Vatikan: https://www.vaticannews.va/, berjudul: “Syria: displaced children caught between violence and freezing cold”, menjelaskan, laporan 500 ribu anak-anak di bawah umur hidup terlantar di Suriah, berdasarkan rilis resmi UNICEF pada edisi Selasa, 18 Februari 2020.

“Kelima ratus ribu orang, anak-anak di bawah umumr tersebut, harus meninggalkan rumah mereka di Suriah barat laut baik karena kekerasan yang meningkat di daerah itu, dan karena kondisi cuaca dingin yang membeku,” demikian Vaticannews.va.

Sepuluh ribu anak-anak ini sekarang tinggal di tenda, dan banyak di udara terbuka, terkena dingin dan hujan.

Ketika cuaca terus menjadi semakin dingin di kawasan ini, organisasi seperti UNICEF berusaha meningkatkan kesadaran akan penderitaan anak-anak ini, dan semua orang yang terlantar secara internal tanpa perlindungan yang memadai terhadap unsur-unsur tersebut.

Musim dingin lalu, setidaknya 130 anak meninggal dalam perjalanan mereka ke, atau segera setelah tiba di, kamp pengungsi Al Hol di Suriah barat laut. 77 anak-anak telah terbunuh atau terluka sejak awal tahun ini saja, sebagai akibat dari meningkatnya kekerasan dan pertempuran di daerah tersebut.

Direktur Eksekutif UNICEF, Henrietta Fore, sebagaimana dikutip Vaticannews.va, menggambarkan situasi itu “tidak dapat dipertahankan, bahkan oleh standar suram Suriah”.

“Anak-anak dan keluarga terjebak di antara kekerasan, rasa dingin yang menggigit, kurangnya makanan dan kondisi kehidupan yang menyedihkan,” kata Henrietta Fore

“Penghinaan seperti itu mengabaikan keselamatan dan kesejahteraan anak-anak dan keluarga di luar batas dan tidak boleh berlanjut.”

Dari Indonesia dilaporkan Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia, Mahfud MD, belum menerima laporan resmi dari Kedutaan Besar Republik Indonesia terdekat, jika dari dari 500 ribu anak-anak di bawah umur yang hidup terlantar di Suriah, ada warga negara Indonesia.

Kepada Lembaga Kantor Berita Nasional Indonesia, Antara, Mahfud, mengatakan, kendati Pemerintah Indonesia menolak pemulangan lebih dari 600 orang eks anggota tentara The Islamic State in Syria dan Iraq (ISIS), namun khusus anak-anak dari eks warga negara Republik Indonesia, akan ada pertimbangan khusus. (Aju)