Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu

Penderita Covid-19 di Israel Lampaui Indonesia

Loading

TEL AVIV (Independensi.com) – Jumlah anggota masyarakat penderita/terpapar Corona Virus Disease-19 (Covid-19) di Israel, sebuah negara kecil di Timur Tengah melampaui Indonesia. Demikian Badan Nasional Penanggulangan Bencana Republik Indonesia (BNPB RI), Selasa petang, 24 Maret 2020, dan The Jerusalem Post, sebuah media massa berbasis di Tel Aviv, Israel, Kamis pagi, 25 Maret 2020.

BNPB RI, Selasa petang, 24 Maret 2020, melansir total ada 686 terinfensi dan 55 orang di antaranya meninggal dunia, sementara saat bersamaan di Israel berdasarkan laporan The Jerussalem Post, Kamis, 25 Maret 2020, jumlah terpapar Covid-19 mencapai 1.930 orang dan 3 orang di antaranya meninggal dunia.

Otoritas berwenang di Israel, mengkhawatirkan bisa mencapai seribu orang tewas dan 10 ribu orang terpapar Covid-19, jika tidak dilakukan penanganan secara integratif. Israel menugaskan badan intelijen Ha-Mossad le-Modiin ule-Tafkidim Meyuhadim (disingkat Mossad), untuk melakukan langkah strategis mengimpor peralatan medis yang dibutuhkan dari negara lain.

Penularan Covid-19 di Negara Israel tiba-tiba meledak, memang sangat mengagetkan, padahal luas wilayah negara itu hanya 27.799 kilometer dan dihuni 9.165.260 jiwa. Israel selama ini dikenal unggul dalam hal teknologi kesehatan, tapi menjadi tidak berdaya saat diserang Covid-19

Sementara Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai negara kepulauan terluas dan terbesar di dunia, dengan wilayah darat 2.012.402 kilometer persegi dan wilayah perairan/laut 5.877.879 kilometer persegi, penduduknya mencapai 261.115.456 jiwa, tersebar di 17.408 pulau, terdiri dari 1.128 suku yang menggunakan 746 bahasa daerah, sangat kaya akan kearifan lokal dan hukum adat.

Menurut The Jerusalem Post, Rabu, 25 Maret 2020, sekitar 1.930 orang Israel telah didiagnosis positif Covid-19 pada Selasa malam, 24 Maret 2020, Kementerian Kesehatan melaporkan. Tiga puluh empat dalam kondisi serius.

Sekitar 6% dari orang yang dites terinfeksi dengan coronavirus, menurut Departemen Kesehatan, yang menginginkan penutupan total. Kementerian Keuangan mengatakan jika penutupan penuh dilaksanakan, ekonomi tidak akan pulih.

Draft pembatasan baru, yang diharapkan akan disetujui Selasa malam, dirilis ke media sesaat sebelum pemerintah bersidang. Orang-orang akan diizinkan meninggalkan rumah mereka hingga 100 meter, kegiatan rekreasi akan diizinkan dalam jarak berjalan kaki, dan acara olahraga akan dilarang, sesuai dengan aturan baru.

Pedoman yang ada mengenai perjalanan ke dan dari tempat kerja tidak akan berubah, tetapi perusahaan akan diizinkan untuk memeriksa suhu karyawan mereka sebelum membiarkan mereka memasuki gedung. Kemampuan untuk membeli makanan, obat-obatan atau produk-produk penting lainnya tidak akan terbatas bahkan setelah keputusan disetujui, kata Kantor Perdana Menteri.

Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu, Senin, 23 Maret 2020, mengatakan kepada kabinet 10.000 orang Israel dapat mati karena Covid-19 dan 1.000.000 dapat terinfeksi.

“Kami dapat mencapai satu juta yang terinfeksi dalam waktu satu bulan,” kata Netanyahu, N12 melaporkan. “Mungkin juga ada 10.000 orang Israel yang mati.”

Benyamin Netanyahu menginstruksikan Direktur Mossad Yossi Cohen untuk memimpin Tim Darurat Nasional baru yang akan mengatur upaya untuk membeli peralatan medis, terutama ventilator, yang akan diperlukan untuk merawat pasien.

Selain itu, Benyamin Netanyahu, menginstruksikan Industri Pertahanan Israel untuk memeriksa opsi untuk memproduksi peralatan medis di sini.

Hukuman yang dipertimbangkan untuk melanggar perintah ini akan sampai enam bulan penjara atau denda setinggi NIS 3.000.

Pedoman Kementerian Kesehatan telah menyengat ekonomi, mendorong tingkat pengangguran Israel menjadi 19%.

Layanan Ketenagakerjaan Israel mengatakan sekitar 633.939 orang melamar tunjangan pengangguran pada bulan Maret, termasuk 18.105 orang antara pukul 7 pagi dan 4:30 malam. pada hari Selasa.

Seorang perawat sukarelawan Israel merawat korban selamat Holocaust (bencana) di Haifa di tengah krisis Covid-19. Foto: The Jerusalem Post.

Menurut perkiraan Bank of Israel yang diterbitkan pada hari Selasa, 24 Maret 2020, langkah-langkah saat ini untuk memuat virus corona baru kemungkinan akan menghasilkan tingkat pengangguran sekitar 7%, meningkat 150.000 orang, pada akhir tahun 2020.

“Kita harus membantu orang-orang yang perusahaan atau omsetnya terkena dampak, dan mereka harus terus memenuhi pengeluaran mereka yang berkelanjutan,” kata Gubernur Bank of Israel Amir Yaron.

“Kita juga perlu membantu mereka yang telah dibuat berlebihan atau mendapat cuti yang tidak dibayar, dan pendapatan mereka telah terpengaruh secara dramatis. Inilah yang dilakukan pemerintah di seluruh dunia dan dalam skala besar. ”

Sementara itu, sebagian besar orang yang terinfeksi memiliki kasus virus ringan – 1.795 – dan 45 lainnya dalam kondisi sedang, Departemen Kesehatan melaporkan.

Pria yang meninggal pada hari Senin telah dibawa ke Hadassah-University Medical Center dari Nofim Geriatric Center, tempat dia tinggal.

Sesaat sebelum berita kematiannya, pasien coronavirus kedua yang meninggal diidentifikasi sebagai Malka Kever, 67, dari Bat Yam. Dia meninggal di Wolfson Medical Center di Holon. Dia memiliki kondisi yang sudah ada sebelumnya.

“Tim perawatan intensif kami berjuang untuk hidupnya dengan dedikasi yang besar, tetapi kondisinya memburuk,” kata rumah sakit.

Kever adalah pasien No. 445. Dia sebelumnya menjadi sukarelawan di rumah sakit tempat dia meninggal, sampai dia didiagnosis menderita kanker pada tahun 2019, N12 melaporkan.

Anggota keluarganya, yang berada dalam isolasi, meminta masyarakat untuk “tinggal di rumah.”

“Jangan pergi, Anda mempertaruhkan diri Anda sendiri, anak-anak Anda, kerabat Anda dan orang-orang yang tidak Anda kenal,” kata putri Kever, Dorit, kepada N12. “Ibu saya memberikan hidupnya, memberikan jiwanya kepada Sang Pencipta karena penyakit ini. Kami terluka, kami sedih. ”

Pria berusia 60-an yang meninggal Senin di Sourasky Medical Center (Rumah Sakit Ichilov) di Tel Aviv dan diduga memiliki virus corona tidak tertular penyakit itu, rumah sakit melaporkan. Hasil tes mengungkapkan bahwa pria itu memiliki gejala pernapasan dan kematiannya, sebagaimana ditentukan oleh rumah sakit, mungkin dari penyakit virus yang berbeda.

Dalam perkembangan terkait, bayi prematur di bangsal prenatal di Pusat Medis Shaare Zedek di Yerusalem dilaporkan pada Selasa tidak memiliki virus corona baru setelah sebelumnya dilaporkan bahwa seorang pekerja bangsal terinfeksi dengan virus dan mungkin telah terinfeksi dia. Semua bayi prematur di bangsal ditemukan tidak memiliki virus, dan rumah sakit bekerja bersama Kementerian Kesehatan untuk melanjutkan dengan mengeluarkan pekerja bangsal dari karantina sesuai peraturan.

Sekitar 53 orang pulih.

Sejauh ini, lebih dari 135.000 orang Israel telah menghabiskan waktu di karantina. Kementerian Kesehatan mengatakan 71.029 berada dalam isolasi sekarang, termasuk anggota pemerintah lainnya.

Menteri Urusan Diaspora Tzipi Hotovely menjadi MK terbaru untuk memasuki karantina rumah pada hari Selasa, sehingga jumlahnya menjadi delapan. Hotovely melakukan kontak dengan wakil direktur jenderal dari kementeriannya yang kemudian didiagnosis dengan virus. Dia harus dikarantina hingga 1 April.

Hotovely adalah keenam MK dari blok tengah kanan Netanyahu di karantina, bergabung dengan menteri Tzachi Hanegbi (Likud), Arye Deri (Shas), Bezalel Smotrich (Yamina) dan Shas MKs Itzik Cohen dan Moshe Abutbul. Satu-satunya MK yang dikarantina dari blok tengah-kiri adalah Alon Shuster dan Ran Ben-Barak.

Jumlah orang yang terinfeksi diperkirakan akan meningkat karena Israel melakukan lebih banyak tes coronavirus. Dalam 24 jam terakhir, lebih dari 3.700 orang disaring. Pada hari Senin, Magen David Adom membuka tiga kompleks pengujian drive-through lainnya di Yerusalem, Bersyeba dan Haifa.

Secara total, menurut kementerian, 27.054 tes telah diambil pada Selasa pagi, 24 Maret 2020.

Uji kemampuan pertahanan

Sekretaris Jenderal Dayak International Organization (DIO) Dr Yulius Yohanes, M.Si, mengatakan, kualitas penanganan Corona Virus Disease-19 (Covid-19) sekaligus menguji tingkat kemampuan pertahanan Indonesia.

“Dalam kondisi darurat sekarang, tidak boleh lagi saling menyalahkan. Jangan alergi dengan Kementerian Pertahanan. Jangan alergi dengan Tentara Nasional Indonesia. Jangan pula alergi dengan Polisi Republik Indonesia. Karena tiga institusi inilah berada di barisan paling depan dalam mendukung tugas tim medis sipil untuk menghentikan penularan Covid-19,” kata Yulius Yohanes, Rabu, 25 Maret 2020.

Yulius Yohanes, menanggapi pengamat Intelijen dan Pertahanan Universitas Indonesia, Dr Connie Rahakundini Bakrie, agar sudah mulai dipikirkan pemberlakukan Status Darurat Militer, sebagai tindaklanjut Status Darurat Penanganan Covid-19 sejak 29 Februari 2020 sampai 29 Mei 2020.

“Pengendalian hingga penghentian penularan Covid-19 sudah menyangkut reputasi Bangsa Indonesia di mata masyarakat internasional. Semakin banyak korban meninggal dunia, menunjukkan ada sesuatu yang tidak beres di dalam tugas koordinasi penanganan Covid-19 di Indonesia,” ungkap Yulius Yohanes, Sekretaris Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tanjungpura, Pontianak.

“Terutama dalam kaitan pengoptimalan peran terintegrasi Desk Chemical, Biological, Radiologycal, Nuclear and Explosives (CBRN-E), atau Desk Kimia, Biologi, Nuklir dan Bahan Peledak Kementerian Pertahanan Republik Indonesia dan Tentara Nasional Indonesia (TNI), sekaligus menguji tingkat kemampuan pertahanan Indonesia di dalam memberantas Covid-19,” tambah Yulius Yohanes.

Yulius Yohanes, mengatakan, pengoptimalan kemampuan Desk CBRN-E Kementerian Pertahanan, Desk CBRN-E TNI dan Deks CNRN-E Polisi Republik Indonesia (Polri), Desk CBRN-E Badan Intelijen Negara (BIN), Desk Badan Intelijen Strategis Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (BAIS TNI-AD), mendukung tugas medis sipil, menjadi kunci sukses di dalam menanggulangan Covid-19.

Menurut Yulius Yohanes, suka atau tidak suka, penanganan penyebaran Covid-19 adalah perang melawan virus. Dalam banyak kasus, membuktikan, virus sebagai daya dukung utama di dalam penggunanaan senjata pemusnah massal, Weapon of Mass Destruction (WMD).

Dalam penanggulangan WMD, seperti Covid-19, maka keberadaan Kementerian Pertahanan, Tentara Nasional Indonesia, Polisi Republik Indonesia, Badan Intelijen Negara (BIN) dan Badan Intelijen Strategis (BAIS) Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI-AD) menjadi sangat penting melalui peran terintegrasi di dalam Desk CBRN-E.

Ketua Bidang Peradilan Adat dan Hukum Adat Dewan Pimpinan Pusat Majelis Hakim Adat Dayak Nasional (DPP MHADN), Tobias Ranggie, mengatakan, melihat realitas penularan Covid-19, tidak bisa dipungkiri pada akhirnya ada niat melemahkan

suatu negara pesaing dengan cara lain tak pernah surut. Ini menyangkut supremasi dan masa depan suatu bangsa. Dicemaskan adalah bila wabah virus Corona (Covid-19) jadi bahan inspirasi perang biologi.

Wabah Covid-19 mulai Desember 2019 di Provinsi Wuhan, Provinsi Hubei, Cina Tengah, menimbulkan akibat luar biasa. Selain Cina, lebih dari 100 negara terpengaruh baik karena penduduknya terinfeksi maupun ekonominya rusak.

Wabah Covid-19 berdampak luas karena berpusat di negara yang peringkat ekonominya kedua terbesar di dunia. Produknya pada 2018 mencapai US$9.732 triliun. Produk-produk Cina mengalir ke-65 negara dan menerima produk-produk dari 33 negara.

Menurut Tobias, dengan banyak negara yang terkait, maka dengan sendirinya wabah virus menganggu kelancaran produksi, investasi, perdagangan bahkan kesejahteraan rakyat. World Economic Forum dalam laporannya menyatakan, pertumbuhan ekonomi Cina diperkirakan turun dari 1,5 % pada kuartal pertama 2020.

Permintaan global atas minyak mentah sangat terpukul dan diperkirakan berkurang 435 ribu barel pada kurun waktu yang sama. Banyak pabrik di seluruh dunia ditutup karena pelambatan arus produk dan perkakas dari Cina.

Produsen otomotif hingga komputer merugi. Bisnis retail kacau. Puluhan juta orang masih berada di lusinan kota Cina yang ‘ditutup’. Negara-negara lain memperpanjang pembatasan larangan mengunjungi Cina.

China Travel Guide 2019, terdapat 70 bandara internasional di Cina yang berhubungan dengan lebih dari 60 negara. Sebagian besar kota-kota di dalam negeri dihubungkan dengan kereta api berkecepatan tinggi. Kota dan desa terkoneksi dengan jalan bebas hambatan.

Dewasa ini, menurut laman itu, Cina mempunyai industri hiburan, budaya dan katering berkualitas tinggi. Tersedia 300 ribu hotel untuk wisatawan. Makin banyak pemandu wisata yang menguasai paling sedikit satu bahasa asing.

Turisme menjadi salah satu sumber pendapatan. Pada festival musim semi tahun 2019, jumlah wisatawan mencapai 4,15 juta atau naik 7,% dari tahun sebelumnya. Total pendapatan 513,9 miliar yuan, naik 8,2% dari tahun 2019.

Jumlah turis Cina yang piknik pada kuartal pertama tahun 2019, menurut Dinas Migrasi Nasional, berjumlah 6,311 juta. Bertambah 12,48% dari tahun 2018. Setiap wisatawan Cina menghabiskan sekitar 7.000 yuan bila mengadakan lawatan ke luar negeri. Kota-kota yang banyak dikunjungi adalah London, Paris, Dubai, Okinawa, Kyoto, Osaka, Nagoya, Singapura dan Fukuoka.

Kekacauan di sektor pariwisata adalah salah satu contoh jelas dari dampak wabah Covid-19. Implikasi yang ditimbulkan amat panjang dan beragam karena membentang dari rangkaian hotel hingga UMKM penjual cenderamata.

Organisasi Penerbangan Sipil Internasional, International Civil Aviation Organization (ICAO) memperkirakan akibat pembatalan penerbangan, maskapai penerbangan global akan kehilangan pendapatan antara US$4 hingga US$5 miliar dalam kuartal pertama tahun ini. Kemerosotan pendapatan ini akan mempengaruhi pembayaran cicilan maupun utang pokok dan memperlambat produksi pesawat terbang.

Banyak negara akan mengalami resesi hanya karena wabah dari mahluk yang bernama virus. Ukurannya lebih kecil dari bakteri dan bisa berkembang biak bila tinggal pada mahluk lain seperti hewan. Kemudian pindah ke manusia dan selanjutnya dari manusia ke manusia. Virus bisa dipelihara bahkan dimodifikasi agar mampu membunuh mahluk hidup atau melemahkan daya tahan mahluk hidup.

Virus diambil dari berbagai negara dan dibiakkan di laboratorium untuk maksud-maksud tertentu. Virus dapat digunakan menghancurkan negara lain dalam perang biologi. Biayanya lebih murah ketimbang membuat senjata nuklir. Lagipula bisa disamarkan sebagai berasal dari hewan. Lebih unik lagi, tidak merusak infrastruktur fisik seperti bila menggunakan nuklir.

Kengerian dampak perang biologi/kimia telah lama didasari. Maka dari itu Protokol Jenewa 1925 melarang penggunaan gas pencekik, beracun, maupun jenis gas lainnya dan juga cara berperang biologis yang menggunakan bakteri untuk kepentingan perang.

Kemudian Konvensi 1972 tentang pelarangan pengembangan, pembuatan, dan penimbunan senjata biologis atau bakteriologis dan beracun, dan tentang pemusnahannya.

Konvensi 1980 tentang larangan atau pembatasan penggunaan senjata konvensional tertentu dianggap dapat mengakibatkan luka yang berlebihan atau dapat memberikan efek tidak pandang bulu. Yakni tahun 1972, lebih dari seratus negara menandatangani kesepakatan dalam Konvensi Senjata Biologi yang melarang pembuatan atau penyimpanan senjata biologi.

“Sehubungan dengan itu, maka Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, harus menjamin adanya penanganan terintegratif, supaya penyebaran Covid-19, segera dihentikan,” kata Tobias Ranggie. (Aju)