Kelulusan Taruna BPSDMP Masa Pandemi Corona Tidak Abaikan Standar Mutu

JAKARTA (Independensi.com) Kelulusan taruna sekolah kedinasan dilingkungan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan Kementerian Perhubungan tidak mengabaikan standar mutu meski tidak melakukan ujian sebagaimana biasanya.

Kepala BPSDM Perhubungan Sugihardjo dalam Press background virtual yang bertajuk “Pelaksanaan Kegiatan di Lingkungan BPSDMP pada Masa Pandemi COVID-19” di Jakarta, Rabu (6/5) menegaskan, standar mutu adalah hal yang mutlak, hanya polanya saja yang diubah.

“Meski belajar dari rumah
kami tidak menurunkan standar mutu ujian para taruna-taruni yang diwajibkan belajar dari rumah akibat COVID-19. Kualitas tetap dipertahankan tapi memang ada perubahan,’ kata Sugihardjo

Perubahan standar itu di antaranya, ujian semester atau ujian akhir hanya berbobot 60 persen, sementara sisanya 40 persen tugas-tugas.

Selain itu, bagi taruna yang sedang melaksanakan praktik kerja lapangan (on job training), jika sudah berjalan lebih dari 50 persen dianggap telah menyelesaikan tugasnya.

Dalam kesempatan sama, Sekretaris BPSDM Perhubungan M Popik Montanansyah mengatakan bahwa ujian yang diberikan dengan online, lebih berat bobotnya ketimbang ujian yang dilakukan di kampus.

“Seperti kita ujian ‘open book’, meski buka buku tapi kan susah jawabnya,” katanya.

Popik juga memaparkan selama pandemi corona kegiatan belahar mengajar taruna taruni memang dilakukan dari rumah. Karyawan juga melakukan work from home. “Hanya yang punya kendaraan pribadi atau kepentingannya yang mendesak saja yang ngantor. Selebihnya work from home,” jelas Popik.

Karena taruna taruni di rumah dan para pengajar dan staf juga dirumah, maka untuk kegiatan belajar mengajar disiasati dengan memanfaatkan teknologi.

Jumlah keseluruhan taruna-taruni di BPSDM Perhubungan, di antaranya 4.022 matra darat dari enam perguruan tinggi, 9.108 matra laut dari 12 perguruan tinggi dan 3.697 matra udara dari enam perguruna tinggi, semuanya belajar dari rumah. Satu akademi sebanyak 98 taruna yang melaksanakan lockdown kampus hanya API Banyuwangi karena untuk latihan terbang tidak cukup belajar dari simulator tapi harus nyata. (hpr)