Buku Sularso Sopater. (Ist)

Sularso Sopater, Bukan Dia Yang Memberi Emas Kepada “Herodes”!

JAKARTA (Independensi.com) – Satu kali saya mewawancarai Pdt. Sularso Sopater (1934-2020) di rumahnya di Bekasi. Sekitar tahun 2015(?). Beliau masih pimpinan di STT Cipanas.

“Bapak dipanggil ke sana untuk meredam dualisme kepemimpinan di STT Cipanas?” tanya saya.

Ia hanya tersenyum. Minta saya kembali ke pokok wawancara saja.

Jujur, hari itu saya masih punya “peluru” lain. Yang sudah lama jadi bahan perbincangan di kalangan tokoh Kristen. Dan persis menyangkut pribadi Pak Larso.

“Betul Bapak menyumbang emas untuk Pak Harto atas nama PGI seperti dipergunjingkan banyak orang?”

Pak Larso seperti tersengat. Ekspresinya berubah. Kali ini beliau mau bercerita!

“Saya memang diomongkan sebagai memberi emas bukan kepada bayi Yesus tetapi kepada Herodes,” ujarnya.

“Padahal waktu itu sebagai Ketua PGI saya mendampingi Dirjen Bimas Kristen dan anggota rombongan datang ke Cendana. Tugas saya mendoakan Pak Harto.”

Usai didoakan, kata beliau, giliran Pak Titus Kurniadi, seorang pengusaha Kristen yang menyorongkan sumbangan berupa emas dan uang. Cilakanya, badan Pak Titus tak tampak dalam kamera televisi. Hanya tangannya saja.

Dari potongan gambar tersebut segera tersiar kabar, atau orang mengambil kesimpulan bahwa Pak Larso atas nama PGI bersekutu dengan Soeharto. Yang sedang dimaki di mana–mana dan diteriaki pemeras rakyat.

Sularso didemo. Ia diminta turun. Ia dicap sebagai orang Majus yang tersesat.

“Tetapi beruntung saya bisa jelaskan dengan detail semua peristiwa itu. Saya lega, meskipun masih banyak yang belum terima,” ujarnya.

Bulan April 2016, Pak Larso meluncurkan memoarnya: “Sularso Sopater, Kukuh di Jalan Ibu”.

Salah satu bab di dalam buku ini berisi penjelasan Pak Larso tentang peristiwa itu. Sangat detail. Ia juga menyebut nama Pdt. Em. Weinata Sairin sebagai salah satu atau mungkin satu-satunya orang yang ikut membela dia. Ketika itu Pak Wein adalah Wasekum PGI. Ia tahu betul kiprah Pak Larso.

“Pak Larso tidak bersalah,” seru Weinata.

Kemarin, 26 Juni 2020 Pak Larso telah berpulang. Dalam usia 86 tahun. Ia lahir pada 9 Mei 1934 di Yogyakarta.

Dari info yang disampaikan Pdt. Gomar Gultom, Ketua PGI, Pak Larso meninggal karena gagal ginjal dan jantung.

Selamat jalan Pak Larso. RIP

(Alex Japalatu)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *