Gawai pintar

Perangkat Pintar Nantinya Dapat Mendeteksi COVID-19

JAKARTA (Independensi.com) – Sebuah survei yang baru dilakukan di Amerika Serikat belum lama ini mengungkapkan bahwa lamanya proses pemeriksaan sampel swab test COVID-19 memakan waktu setidaknya 4 hari hingga pasien dapat menerima hasilnya. Di sisi lain, masyarakat membutuhkan hasil pemeriksaan yang cepat untuk mencegah risiko penularan.

Hasil swab test jauh lebih dapat diandalkan dibandingkan dengan rapid test karena menggunakan teknik pemeriksaan yang lebih mendalam yaitu teknik polymerase chain reaction atau PCR untuk memperkuat materi genetik virus dalam sampel.

Tetapi swab test memakan waktu cukup lama dan meningkatkan risiko penularan virus sementara pasien menunggu hasilnya keluar dari laboraturium.

Metode test terbaru yang sedang dikembangkan mengunakan teknologi CRISPR yang diyakini para peneliti dapat dengan andal mendeteksi RNA atau materi genetik dari virus SARS-CoV-2 tanpa perlu diperkuat (melalui teknik PCR) terlebih dahulu.

Hal ini memungkinkan tidak hanya untuk mendeteksi keberadaan virus tapi juga memperkirakan jumlah partikel virus.

CRISPR pada dasarnya digunakan para ilmuan untuk mengedit gen. Penemu dari teknologi ini Emmanuelle Charpentier dan Jennifer A. Doudna memenangkan Nobel Kimia 2020 karena penemuannya.

Awalnya mereka menggunakan teknologi ini untuk menguji HIV, namun ketika ancaman COVID-19 semakin jelas, mereka mengalihkan fokusnya pada hal ini menggunakan teknologi yang sama. Perangkat yang mereka gunakan tidak lebih besar dari sebuah kotak sepatu dan disebut CRISPR-Cas13a.

Cas13a sendiri adalah enzim yang membelah molekul RNA. Dengan menggabungkannya dengan strip DNA pemandu, para ilmuan dapat menargetkannya pada urutan tanda dalam RNA virus tersebut.

ilustrasi DNA

Untuk memberikan sinyal yang dapat dilihat, para peneliti menambahkan probe berbasis RNA ke dalam campuran. Nantinya, probe tersebut dapat memancarkan cahaya flouresen ketika enzim yang diaktifkan membelahnya.

Perangkat ini terdiri dari laser untuk menerangi sampel dan lensa untuk memfokuskan cahaya flouresen. Kamera ponsel ditempatkan di atas lensa untuk melihat intensitas cahaya flouresen yang dipancarkan.

Para peneliti kedepannya berharap dapat mengembangkan perangkat yang lebih murah dan dapat digunakan di apotek hingga puskesmas, seperti ponsel yang dilengkapi fitur CRISPR.

Mereka juga berharap teknologi ini bukan hanya dapat mendeteksi COVID-19 namun juga virus – virus lainnya. (Immanuel Nauly)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *