Wakil Ketua Umum ADUPI, Justin Wiganda menerangkan saat Forum Group Discussion (FGD) yang digelar ADUPI bersama 14 perusahaan daur ulang plastik di Jakarta, Senin (8/9/ 2025).

Industri Daur Ulang Plastik Terancam Krisis Pasokan, Saat Kapasitas Produksi Nasional Justru Meningkat Tajam

Loading

JAKARTA (Independensi.com) – Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan dan ekonomi sirkular, industri daur ulang plastik Indonesia justru menghadapi tantangan serius: krisis pasokan bahan baku. Padahal, sektor ini memegang peranan penting dalam mengurangi beban lingkungan, menciptakan lapangan kerja, sekaligus mendukung transisi menuju ekonomi berkelanjutan.
Data terbaru mencatat, terdapat 679 industri daur ulang plastik tersebar di berbagai wilayah Indonesia dengan kapasitas produksi nasional mencapai 3,16 juta ton per tahun pada 2024. Namun, pasokan bahan baku domestik hanya mampu memenuhi sekitar 1,2–1,4 juta ton per tahun, jauh dari kebutuhan industri yang terus meningkat. Akibatnya, ketergantungan pada impor masih sulit dihindari.

Kesenjangan Pasokan dan Tantangan Pengelolaan Sampah Minimnya pemilahan sampah di sumber, keterbatasan infrastruktur, serta rantai pasok yang belum terintegrasi efektif menjadi akar persoalan. Industri sering kali terpaksa mengandalkan impor untuk mendapatkan resin daur ulang berkualitas tinggi, meski berisiko tercampurnya limbah berbahaya yang sulit diolah.

Masalah kian pelik sejak awal 2025, ketika rekomendasi impor bahan baku plastik daur ulang belum kembali dikeluarkan. Hal ini berpotensi menekan utilitas produksi, mengurangi devisa, hingga menimbulkan penumpukan sampah.

“Aspek pasokan menjadi titik lemah. Industri sulit memperoleh bahan baku plastik berkualitas rendah impuritas, padahal itu penting agar hasil daur ulang bisa bersaing dan mengurangi penggunaan plastik virgin,” ujar Eripson M.H. Sinaga, Asisten Deputi Pengembangan Industri Agro, Kimia, Farmasi dan Tekstil, Kemenko Perekonomian.

Kontribusi Ekonomi dan Lingkungan yang Signifikan
Hasil kajian Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI) menunjukkan kontribusi besar industri ini terhadap perekonomian. Selama satu dekade terakhir, sektor daur ulang plastik:
Menyumbang USD 9,2 miliar atau rata-rata 0,1 persen PDB per tahun.

Menghasilkan devisa ekspor USD 4,8 miliar serta cadangan devisa USD 4,2 miliar.
Mendorong investasi hijau senilai Rp2,2 triliun.
Dari sisi sosial, industri ini menopang 9.729 pekerja terampil, 38.906 pekerja tidak terampil, dan sekitar 1 juta pekerja informal, termasuk ekosistem bank sampah dan lapak. Sementara dari sisi lingkungan, sektor ini telah menyerap 7,6 juta ton sampah plastik dan mengurangi emisi karbon sebesar 12,8 juta ton CO2 eq selama periode 2014–2024.

Seruan Kolaborasi dan Kebijakan Berbasis Data
Wakil Ketua Umum ADUPI, Justin Wiganda, menekankan pentingnya sistem pemilahan yang lebih efektif. “Barang-barang plastik itu kalau bisa di-collect dan disortir, akan jadi bahan baku bernilai. Tapi kalau tercampur, justru jadi sampah. Karena itu, impor sering kali harus dikombinasikan dengan pasokan lokal,” jelasnya.

Forum Group Discussion (FGD) yang digelar ADUPI bersama 14 perusahaan daur ulang plastik pada 8 September 2025 di Jakarta, menekankan pentingnya kebijakan berbasis data, koordinasi lintas sektor, serta penguatan sistem pengelolaan sampah nasional agar kesenjangan pasokan tidak terus berlanjut.
Momentum Menuju Ekonomi Sirkular
Meski dihantui tantangan, peluang pasar bagi produk berbasis material daur ulang sangat besar. Tren konsumen yang semakin peduli lingkungan menjadi modal kuat untuk mendorong lahirnya produk berkelanjutan bernilai tambah tinggi.

“Bisnis ini tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tapi juga membawa dampak sosial dan lingkungan positif. Kalau masalah pasokan bisa diatasi, industri daur ulang plastik bisa jadi motor penggerak ekonomi sirkular nasional,” pungkas Eripson.

About The Author