![]()
TANGERANG SELATAN (Independensi.com) – Usia 50 tahun menjadi momentum penting bagi Perkumpulan Bulutangkis (PB) Jaya Raya untuk memperkuat pembinaan dan menyiapkan generasi emas baru bulutangkis Indonesia.
Perayaan HUT ke-50 PB Jaya Raya digelar di GOR PB Jaya Raya, Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, Senin (10/8/2026). Klub yang didirikan Ir. Ciputra pada 1976 itu sekaligus menandai babak baru melalui regenerasi kepemimpinan.
Susy Susanti resmi diperkenalkan sebagai Ketua Umum PB Jaya Raya menggantikan Rudy Hartono Kurniawan yang memimpin klub sejak berdiri. Sementara Rosiana Tendean dipercaya sebagai Ketua Harian menggantikan Imelda Wigoeno.
Susy menyebut usia setengah abad menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan sekaligus menatap masa depan. “Hari ini merupakan momen yang sangat istimewa. Usia 50 tahun bukanlah perjalanan yang singkat. Lima dekade PB Jaya Raya telah menjadi bagian penting dalam perjalanan bulutangkis Indonesia, melahirkan banyak atlet, pelatih, dan insan olahraga yang memberikan prestasi serta kebanggaan bagi bangsa,” kata Susy.
Menurut Susy, pembinaan atlet akan tetap menjadi fokus utama Jaya Raya. “Ke depan, fokus utama kita adalah pembinaan yang kuat dan berkelanjutan. Kita harus terus mencari, membina, dan mengembangkan talenta-talenta muda dengan program latihan yang baik, pelatih yang berkualitas, serta lingkungan yang mendukung perkembangan atlet, baik secara teknik, fisik, mental maupun karakter,” ujarnya.
Selama lima dekade, PB Jaya Raya telah menjadi salah satu klub yang berkontribusi besar terhadap prestasi bulutangkis Indonesia. Dari delapan emas Olimpiade bulutangkis Indonesia, empat di antaranya dipersembahkan pemain binaan Jaya Raya. Mereka adalah Susy Susanti di Barcelona 1992, Candra Wijaya/Tony Gunawan di Sydney 2000, Hendra Setiawan/Markis Kido di Beijing 2008, serta Greysia Polii/Apriyani Rahayu di Tokyo 2020.
Kontribusi pemain Jaya Raya juga tercatat melalui 9 gelar Piala Thomas, 3 Piala Uber, 1 Piala Sudirman dan 2 Piala Suhandinata. Di nomor individual, pemain binaan Jaya Raya telah meraih 9 gelar Kejuaraan Dunia, 15 gelar All England serta 8 medali emas Asian Games.
Ketua Pembina Yayasan Pembangunan Jaya Raya, Trisna Muliadi mengatakan, perjalanan 50 tahun Jaya Raya dibangun melalui kerja keras dan dedikasi banyak pihak. “Hari ini kita berkumpul untuk merayakan 50 tahun perjalanan Jaya Raya. Lima puluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Di balik perjalanan ini, ada kebijaksanaan, kerja keras, dan dedikasi dari banyak pihak,” ujar Trisna.
Dalam perayaan tersebut, PB Jaya Raya meluncurkan signage baru yang menandai perubahan nama GOR PB Jaya Raya menjadi GOR Ciputra PB Jaya Raya Bintaro Jaya.
Perubahan nama itu menjadi bentuk penghormatan kepada Ir. Ciputra, pendiri PB Jaya Raya. GOR yang diresmikan pada September 2016 tersebut memiliki 16 lapangan serta fasilitas pendukung pembinaan atlet, seperti asrama, jogging track, ruang makan dan ruang kelas.
Luncurkan Buku
PB Jaya Raya juga meluncurkan buku “50 Tahun PB Jaya Raya, Tiada Henti Membangun Generasi Emas” yang ditulis jurnalis bulutangkis Broto Happy Wondomisnowo.
“Buku ini merupakan catatan sejarah perjalanan klub Jaya Raya. Sebagai klub, Jaya Raya yang lahir tahun 1976 ini kini telah bertransformasi menjadi klub yang berprestasi. Buku ini juga merupakan bentuk persembahan saya bagi klub Jaya Raya dan bulutangkis Indonesia,” kata Broto Happy.
HUT ke-50 juga diisi dengan pemberian penghargaan kepada Rudy Hartono, Retno Kustiyah dan Imelda Wigoeno atas pengabdian mereka. Penghargaan Atlet Berprestasi diberikan kepada pasangan ganda campuran Muhammad Zilazik Artando Zakaria/Afizzah Rahmadhani yang meraih empat gelar dan belum terkalahkan sepanjang 2026 di kelompok KU-17.
Sementara penghargaan Pelatih Inspiratif diberikan kepada Joko Riyadi, Tri Heru Pamungkas dan Eka Fajar Kusuma berdasarkan angket pilihan atlet. PB Jaya Raya juga memberikan bantuan sosial kepada keluarga mendiang Minarni Soedaryanto dan Markis Kido serta apresiasi kepada Yonex Sunrise sebagai mitra strategis pembinaan.
Memasuki usia 50 tahun, Jaya Raya menegaskan perjalanan belum selesai. Regenerasi menjadi bagian dari upaya menjaga tradisi pembinaan sekaligus membuka jalan bagi lahirnya juara-juara baru.

