Benny Raharjo dan salah satu lukisan yang terjual dalam pamer dan lelang lukisan pada Minggu (11/6/2017). (Dokumentasi)

Sanggar Garajas Lelang Lukisan di Masterpiece Galeri

JAKARTA (IndependensI.com) – Pameran dan sekaligus dirangkai dengan acara lelang lukisan adalah hal yang biasa. Tapi, persoalannya akan menjadi lain bila acara tersebut sekaligus menjadi ajang reuni antar pekerja seni, setelah lebih dari empat puluh tahun mereka tidak saling ber-”baku dapa”. Sehingga, suasana terasa lebih cair, penuh canda dan tawa tanpa mengurangi nilai dari perhelatan itu sendiri.

Benny Raharjo saat berdialog interaktif dengan komunitas Sanggar Garajas.

Hal itulah yang terekam dalam pengamatan reporter independensi.com saat hadir dalam acara pembukaan Pameran dan Lelang Lukisan yang diselenggarakan oleh Sanggar Garajas, Jakarta Selatan yang bertempat di Masterpiece Galeri di Jalan Tanah Abang IV nomor 23-25, Jakarta Pusat, Sabtu (9/6/2017).

Ide diselenggarakannya perhelatan tersebut muncul saat sebagian dari komunitas seni Bulungan 1978-1990 berkumpul di kediaman pemain teater sekaligus juga dikenal sebagai Ladies Rockers, Renny Djayoesman, pada 2 April 2017 lalu.

Dari acara kumpul-kumpul tersebut muncul banyak sekali gagasan yang muaranya adalah bagaimana membuat kegiatan yang bermanfaat baik bagi banyak orang.

Dengan kata lain, jangan sampai acara kumpul-kumpul tersebut hanya sebatas untuk “klangenan” dan bernostalgia belaka.

Sebelum buka puasa genap yang hadir foto bersama. Ati Ganda (duduk, baju orange) yang “membuka jalan” bagi “kebangkitan” komunitas seni Bulungan.

Adalah seorang Ati Ganda (penari sekaligus orang kepercayaan Guruh Soekarno Putra dari Swara Mahardhika) yang hadir dalam pertemuan di kediaman Renny Djayoesman yang “membuka mata dan telinga” bahwa setiap pribadi di dalam komunitas seni Bulungan masih sangat diharapkan kontribusinya untuk menggerakkan kegiatan seni dan budaya sesuai kapasitas masing-masing.

Dari pertemuan tersebut lahirlah Team 7 yang bertugas merumuskan segala hal yang terkait dengan rencana kegiatan tersebut. Jalan yang dibuka oleh Ati Ganda nyaris tanpa hambatan yang berarti. Dan, sebagai langkah awal dari “kebangkitan” komunitas seni Bulungan adalah menyelenggarakan pamer dan lelang lukisan yang dilakukan oleh para perupa dari Sanggar Garajas.

Ati Ganda tak hanya berhasil “membuka mata dan telinga” rekan-rekannya tapi juga berhasil “membuka jalan” terselenggaranya pamer dan lelang lukisan.

Dan, gayung pun bersambut. Tapi bukan lantaran Benny Raharjo – President Director Masterpiece Auction House adalah eks penari Swara Mahardhika, dan memiliki hubungan yang sangat baik dengan Ati Ganda – sehingga kerja keras Team 7 berjalan lancar seperti yang diharapkan. Yang jelas, karya lukis dari para perupa yang tergabung di Sanggar Garajas memang memiliki kualitas yang bisa dipertanggungjawabkan, layak dipamerkan dan layak jual.

Dan, kerja keras Team 7 selama kurang-lebih dua bulan, membuahkan hasil yang sangat positif.

Paling tidak, Benny Rahardjo President Director Masterpiece Auction House, dalam dialog interaktif dengan komunitas seni Bulungan – usai berbuka puasa bersama pada 9 Juni 2017 – menyatakan, pihaknya siap membantu dan mendukung para perupa Sanggar Garajas dalam setiap kegiatannya.

“Silakan rekan-rekan manfaatkan galeri ini untuk mempromosikan karya-karya rekan-rekan… Kami tahu karya rekan-rekan memiliki mutu dan bagus-bagus… Tapi, syaratnya harus melalui prosedur yang berlaku yaitu harus dikuratori oleh seorang ahli,” katanya.

Segenap yang hadir menyambut gembira tawaran atau ajakan Benny Raharjo tersebut. Hal tersebut terungkap saat dialog interaktif berlangsung. Dan, tidak ada seorang pun dari hadirin yang menyangsikan tawaran tersebut.

Sekarang tinggal bagaimana pribadi lepas pribadi komunitas seni Bulungan yang sangat beragam itu (karena ada wartawan, sastrawan, penyair, sutradara film, perupa dan pemain teater) menyikapi tawaran Benny Raharjo.

Yang pasti, kegiatan pamer dan lelang lukisan tersebut disepakati sebagai awal “kebangkitan” komunitas seni Bulungan untuk menapaki era millenium dengan segala konsekuensi logisnya di kemudian hari.