Freddy Gondo Wibowo

Freddy GW Tetap Ingin Berkontribusi

JAKARTA (IndependensI.com) – Nama Freddy Gondowibowo sejak lima tahun terakhir sangat akrab di lingkungan komunitas golf di seluruh Indonesia. Boleh jadi karena dia memang terlambat masuk ke dalam percaturan golf nasional – padahal dia bermain golf sejak 1969.

Saat ditemui IndependensI.com di rumahnya yang berada di kawasan Cipete, Jakarta Selatan, beberapa waktu yang lalu, secara terus terang pria bugar dan energetik yang usianya telah lebih dari 70 tahun, itu pun menyadari betul tentang masalah tersebut.

Bahkan seorang Daddy Hariadi (almarhum) pun pernah menyatakan bahwa Papi – sapaan akrab Freddy Gondo Wibowo – secara tegas menyatakan bahwa Papi terlambat masuk ke dalam percaturan golf di Indonesia.

“Saya mulai main golf sejak tahun 1969. Di kemudian hari, saya sering heran dan berpikir, kenapa orang senang sekali kalau mereka bisa beli stick golf yang mahal harganya, dan bangga kalau mereka sering bermain golf di luar negeri. Lalu, kapan mereka berkontribusi kepada pergolfan nasional?” katanya.

Papi sendiri pun pernah menanyakan hal yang sama kepada diri sendiri. Dan, Tuhan membukakan jalan baginya yakni mempertemukan dirinya dengan Daddy Hariadi.

Seperti diketahui, selain dikenal sebagai senior golfer yang andal, di kalangan masyarakat golf di Indonesia, Papi juga dikenal sebagai seorang fitter – ahli fitting stick golf dengan teknologi yang canggih.

Banyak pegolf yang sering datang ke work shop-nya untuk mem-fitting stick golf yang mereka punya, dan salah seorang di antara mereka adalah Ketua Perkumpulan Golf Pondok Indah, Daddy Hariadi. “Dari situlah saya mengenal dengan baik pak Daddy,” kenangnya.

Suatu hari suami Netty D Hariadi itu menawari Papi untuk menjadi membership Perkumpulan Golf Pondok Indah.

Pali bilang tidak punya uang. Karena, untuk menjadi members dana yang dikeluarkan bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juta rupiah.

“Dari mana saya punya uang sebanyak itu?!” tukas Papi. “Tiba-tiba pak Daddy bilang, untuk Papi free kalau mau jadi members di Perkumpulan Golf Pondok Indah… Saya jawab, kalau free ya saya mau,” lanjut Papi sambil terkekeh.

Akhirnya nama Freddy Gondowibowo tercatat sebagai membership di Perkumpulan Golf Pondok Indah – atas rekomendasi Daddy Hariadi.

Bahkan di kemudian hari, berkat loyalitas dan integritasnya, Papi pernah menjadi Ketua Perkumpulan Pondok Indah, yang para anggotanya sangat beragam dan punya pengaruh yang sangat signifikan, baik di lingkungan pemerintah maupun dunia usaha di republik ini.

Ke-”mudah”-an yang diperoleh Papi ketika masuk menjadi membership Perkumpulan Golf Pondok Indah, karena senior golfer yang juga fitter ini mengaku tidak pernah – jangankan meminta, mengharap pun tidak – mengenai berapa nilai nominal imbalan atas jasa yang telah diberikan kepada Daddy Hariadi bila Ketua Perkumpulan Golf Pondok Indah itu memanfaat jasa Papi sebagai fitter.

Tapi, jauh sebelum namanya tercatat sebagai members di Perkumpulan Golf Pondok Indah, Papi sering diajak untuk melihat para pegolf muda yang menjadi anak asuh Daddy Hariadi berlatih dan bertanding.

Salah seorang di antara pegolf muda yang menjadi anak asuh Daddy Hariadi adalah Andik Mauludin almarhum.

Papi sangat respek dan mengapresiasi kepedulian Daddy Hariadi terhadap para pegolf muda yang menjadi anak asuhnya, karena almahum benar-benar all out dalam membina para pegolf muda.

“Biasanya, sebelum mereka bertanding, pak Daddy minta kepada Andik dan kawan-kawannya memfitting stick yang akan mereka pergunakan .. Kalau hasilnya tidak optimal, sehari setelah bertanding, mereka diminta datang ke bengkel kerja saya untuk mem-fitting stick mereka.”

Itulah yang pada akhirnya menginspirasi Papi untuk berkontribusi secara optimal dalam percaturan golf nasional.

Langkah pertama yang Papi lakukan – sesuai dengan kapasitasnya sebagai Ketua Perkumpulan Golf Pondok Indah 2013-2016 – menyelenggarakan turnamen golf junior bertajuk Pondok Indah International Junior Golf Championship.

Apa yang Papi lakukan bukan semata untuk mencari popularitas. Akan tetapi apa yang dia lakukan tetap merujuk pada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Perkumpulan Golf Pondok Indah, dan semata demi kemajuan olahraga golf di Indonesia.

Perhelatan Pondok Indah International Junior Golf Championship tersebut berjalan lancar dan sukses, dan tahun ini event tersebut pada Desember mendatang memasuki tahun ke-7.

Sukses menggelar event junior dilanjutkan dengan menggelar event amatir bertajuk Olympic Jabar Amateur Open (OJAO) yang tahun ini memasuki tahun ke-4.

Tentu timbul pertanyaan, karena Perkumpulan Golf Pondok Indah secara administratif berada di lingkungan Pengprov PGI DKI Jakarta; Akan tetapi kenapa Papi menggunakan nama Olympic (Olympic Golf Club) yang berada di lingkungan Pengprov PGI Jawa Barat dalam event amatir yang akan dihelat?

Ceritanya cukup Freddy Gondokusumo yang tahu. Selain masalah yang dihadapi Papi tak elok bila dijadikan komsumsi publik – utamanya publik golf di Indonesia – kalau diungkap juga akan menimbulkan ke-”gaduh”-an yang berkepanjangan.

Betul bahwa Papi baru pada OJAO ke-2 2016 menjadi Ketua Panitia Pelaksana. Tapi, pada OJAO ke-1 2015, di mana yang menjadi Ketua Panitia Pelaksana, the Fitter Man itu duduk sebagai penasihat.

Hal tersebut terjadi karena Papi adalah senior golfer yang namanya tercatat sebagai anggota Olympic Golf Club (OGC) pimpinan Au Bintoro.

Kondisi itulah yang melempangkan ayunan langkahnya untuk terus berkontribusi dalam pergolfan nasional.

Dengan kata lain Papi akan melakoni babak-babak kehidupan hari tuanya melalui re-creation berbasis olahraga golf yang bermakna “Games of Life Philosophy”.

Hasilnya sangat positif. Paling tidak, sejak untuk pertama kalinya Papi dipercaya menjadi Ketua Panitia Pelaksana Olympic Jabar Amateur Open ke-2 2016, pucuk pimpinan Olympic Golf Club (OGC) Au Bintoro dan H. Sirod Zudin Ketua Umum Pengprov PGI Jawa Barat mempercayakan kembali kepada Papi untuk menjadi Ketua Panitia Pelaksana OJAO ke-3 2017 dan OJAO ke-4 2018, yang akan berlangsung di Jagorawi Golf Country Club pada 7-9 Mei mendatang.

Seperti halnya pada 2016 saat Papi – sesuai dengan kapasitasnya sebagai Ketua Perkumpulan Golf Pondok Indah – menyelenggarakan turnamen golf Pondok Indah International Junior Golf Championship, turnamen golf bertajuk Olympic Jabar Amateur Open (OJAO) pun tetap merujuk kepada AD/ART Olympic Golf Club yang sebanding lurus dengan AD/ART Pengprov PGI Jawa Barat.

“Kita harus berpijak pada AD-ART kalau organisasi kita ingin maju dan berkembang, dan kalau AD-ART mengamanatkan rakernas yaa harus kita laksanakan. Berorganisasi… apa pun itu nama organisasinya… tidak bisa seenaknya, Bung!” kata Papi mengakhiri perbincangannya dengan IndependensI.com.

One comment

  1. There are some interesting closing dates on this article but I don’t know if I see all of them middle to heart. There may be some validity however I’ll take hold opinion until I look into it further. Good article , thanks and we wish extra! Added to FeedBurner as properly

Comments are closed.