Seorang dokter RS Mekarsari Bekasi memperagakan bagaimana cara memberikan Bantuan Hidup Dasar (BHD) kepada seseorang yang sakit dan tak sadarkan diri.(foto: jonder sihotang)

RS Mekarsari Bekasi Pelopori Bantuan Hidup Dasar

 

BEKASI (IndependensI.com) – Manajemen Rumah Sakit Mekarsari Bekasi, mempelopori pemberian pengetahuan terkait pertolongan pertama dalam Bantuan Hidup Dasar (BHD) kepada masyarakat. Untuk tahap pertama, sekitar 30 orang jurnalis Bekasi, baru-baru ini diberikan pelatihan dalam acara media gathering bertemakan ‘basic life support tranning for journalis’.

Direkrur RS Mekarsari Bekasi, dr Eko Suryo Nugroho bersama beberapa dokter sebagai pemberi materi mengatakan, pelibatan masyarakat dalam kegiatan BHD sangat penting mengingat keterbatasan pelayanan medis, dan bagaimana memberikan pertolongan pertama bagi seseorang korban yang tiba-tiba tak sadarkan diri.

Diibaratkan ada seseorang tiba-tiba sakit dan tak sadarkan diri, apakah karena serangan jatung, kecelakaan atau akibat penyalit lainnya, dan untuk mengetahui apakah orang tersebut masih hidup atau tidak, masyarakat awam dapat mengetahui serta memberikan pertolongan atau bantuan hidup dasar.

“Maka untuk itu, perlu diberikan pengetahuan kepada masyarakat tindakan apa yang harus dilakukan”, ujarnya.

Para trainer RS Mekarsari mengajarkan bagaimana kita dapat mengecek apakah seseorang yang sakit tiba-tiba, masih ada nadi, nafas atau tidak.

Jika ada seorang sakit dan tidak sadar, diajarkan bagaimana mengetahui apakah orang itu masih hidup atau tidak. Maka, perlu dicek nadi dan nafas orang tersebut. Jika tidak ada nadi dan nafas, maka dapat diberikan BHD dengan mengecek nadi dan nafas.

Disebutkan, ada tiga fase dalam memberikan BHD bagi orang yang tak sadarkan diri. Pertama mengecek nadi dan nafas. Jika tidak ada denyutan nadi dan nafas, dapat dilanjutkan dengan pembuatan nafas bantuan dengan menekan dada sebanyak 30 kali dan meniupkan nafas ke mulut dua kali sambil menutup hidung korban.

Jika belum ada tanda nadi dan nafas, dapat dilakukan hal yang sama hingga lima kali. Artinya dapat membantu untuk denyutan jatung hingga 150 kali tekanan di atas dada korban. Jika korban sudah ada nadi dan nafas, korban dibaringkan ke kanan dengan tangan kiri diletakkan di pipin kanan menjaga jika muntah tidak masuk ke telinga, sambil meluruskan tangan kanan serta menekuk kaki kiri orang yang sakit, sambil menunggu pertolongan medis.

Eko mengatakan, pihaknya akan melakukan traning kepada masyarakat seputaf RS Mekarsari. “Setidaknya pendidikan itu akan kami berikan di 20 RT sekitar RS. Sehingga tiap RT ada sekitar 30 warga yang mempunyai pengetahuan BHD, dan dapat menularkan pengetahuannya kepada masyarakat lainnya,” harap Eko.mi

Dengan demikian, semakin banyak masyarakat awam yang mempunyai pengetahuan bagaimana dapat membantu orang yang sakit tiba-tiba dengan memberikan petolongam BHD. (jonder sihotang)