Bondan Winarno. (Ist)

‘Pokok’e Maknyus’ Bondan Winarno yang Berpulang dan Riwayat Sakitnya

JAKARTA (Independensi.com) – Bondan Winarno yang terkenal dengan slogan ‘Pokok’e Maknyus’ meninggal dunia pada hari ini, Rabu (29/11/2017) pagi. Bondan punya riwayat sakit jantung.

Lewat laman Facebook Jalan Sutra, Bondan pernah menceritakan riwayat sakit yang ia derita sejak dua tahun lalu. Ia pun pernah menjalani sejumlah operasi terkait pembuluh darahnya.

Dua pekan sebelum meninggal, pria kelahiran Surabaya, 29 April 1950 itu juga pernah menuturkan lagi sakit yang dideritanya lewat akun Twitter. Pekan lalu, Bondan masuk RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, Jakarta.

“Pak Bondan masuk rumah sakit pada 23 November lalu, dan beliau meninggal tadi pagi, pukul 09:05,” ujar Edi, Bagian Hukum Organisasi dan Humas RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, saat dihubungi Rabu.

Lebih jauh, Edi mengatakan jenazah Bondan saat ini sedang berada di rumah duka RS JP Harapan Kita Jakarta hingga anggota keluarga datang. Selanjutnya, jenazah Bondan akan dibawa ke rumah duka di kediaman di Jalan Bangsawan Raya, Sentul.

“Kita menunggu anggota keluarganya datang, jenazah beliau ada di rumah duka RS, sebelum nanti dibawa ke Sentul,” ujarnya menambahkan.

Mengenai sakitnya ini, terakhir, Bondan sempat memberi update lewat akun Twitter pada 13 November, ia juga mengungkapkan sakit sejak operasi 6 pekan sebelumnya. Setelah itu, banyak ungkapan pendorong semangat dari netizen untuknya.

Lewat Facebook Jalan Sutra, Bondan juga pernah mengungkapkan riwayat sakit yang dialaminya dalam beberapa tahun terakhir. Disampaikannya, pada 2005, ia mulai merasakan ujung-ujung jari tangan kanan ba’al alias kesemutan. Ia menjalani pemeriksaan MRI di RS Premier Bintaro.

Setelah MRI, Bondan disarankan observasi di RSP Bintaro selama tiga hari. Kesimpulannya, cardiologist sangat yakin Bondan mengalami penyumbatan arteri jantung dan harus menjalani kateterisasi sesegera mungkin. Pendapat berbeda, disampaikan neurologis di RS yang sama mengatakan bahwa yang ia alami sama sekali bukanlah penyakit jantung.

Bondan mencari second opinion di RSPI. Kesimpulan sama, cardiologist bilang harus kateterisasi segera. Neurologist RSPI juga bilang: bukan masalah jantung. Dalam kebimbangan, ia memilih tidak menjalani kateterisasi, tapi hanya minum Plavix (pil pengencer darah) untuk menghindari penyumbatan arteri.

Setahun setelah minum Plavix terus-menerus, Bondan nyaris pingsan di rumah Yohan Handoyo setelah minum wines dan makan steaks. Dokter jaga yang berpengalaman menemukan diagnosa: tekanan darah terlalu rendah karena darah terlalu encer.

Sejak saat itu, ia ke HSC di KL untuk annual check up. Di sana dikonfirmasi dengan MSCT bahwa ia memang tidak mengidap penyakit jantung. Pada April 2015, sewaktu Annual Medex di HSC KL, ditemukan dilatasi (penggembungan) pada aortanya pada tahap awal. Dalam bahasa medis, penyakit ini disebut: aorta aneurysm.

Pada Juli 2017, Dr. Sindhi mengantarnya ke RS Siloam Karawaci dan sudah membuat appointment untuk ketemu Dr. Iwan Dakota, ahli vaskuler.

“Dalam pemeriksaan Dr. Iwan, setelah memeriksa hasil medical record terakhir di HSC KL, Dr. Iwan menemukan masalah lain: katup aorta saya bocor. Ia diminta untuk segera ke PJN Harapan Kita keesokan harinya untuk pemeriksaan echo. Dalam pemeriksaan echo di Harkit, 65% confirmed bahwa katup aortanya bocor. Ia kemudian menjalani TEE (endoscopy) untuk mendapatkan 90% konfirmasi. Demikianlah, dalam waktu singkat tim dokter Harkit menemukan kelainan lain yang perlu segera ditangani.”

Dr. Iwan memberikan rujukan kepada tim bedahnya, Dr. Dicky Alighiery Hartono, ahli bedah vaskular lulusan Korsel. Ini adalah pembedahan paling berat, rumit, dan sulit, berlangsung 5-6 jam. “Mumpung Pak Bondan sedang fit, kita lakukan segera, ya?”

Jalani operasi

Pada 27 September 2017 pagi, ia menjalani dua operasi sekaligus: penggantian katup aorta dan penggantian aorta yang nengalami dilatasi. Operasi berlangsung selama 5 jam dan dinyatakan berhasil. Ia siuman di ICU sore hari dan dirawat selama 24 jam di ICU. Dari ICU, ia dipindah ke Intermediary Ward. Normalnya, bila operasi berhasil, 24 jam sesudah di Intermediary Ward, maka akan dipindahkan ke kamar perawatan biasa. Dalam operasi besar seperti yang ia alami, ada dua hantu komplikasi, yakni perdarahan, dan aritmia (denyut jantung tidak beraturan).

“Saya terbebas dari perdarahan. Tapi, Sabtu dini hari saya kejang-kejang dalam tidur saya. Ternyata saya mengalami komplikasi aritmia. Saya dipasangi TPM (Temporary PaceMaker) sambil dimonitor penyebabnya (biasanya krn peradangan).”

Keajaiban terjadi pada Selasa malam, ketika perawat sedang mempersiapkannya untuk didorong ke kamar operasi, tiba-tiba denyut nadinya berirama kembali. Operasi dibatalkan. Bondan lega setengah mati.

Pada 5 November, Bondan pernah mengungkapkan kalau dirinya dinyatakan kurang Hb, sepulang dari RS Sanglah. Ia juga mampir di Arena Pub & Restaurant mencari steak di tempat favorit anak jaman sekarang.

Di postingan Instagramnya itu, perawat yang menanganinya juga memberikan komentar. Dharma lewat akun Dharmatanaya11 mengatakan: “Maaf kalau selama merawat, saya ada salah pak Bondan. Semoga lain kali kita berjumpa lagi pak Bondan dalam keadaan sehat. Tidak sempat bertemu pak Bondan pulang, karena saya sedang libur jaga. Sehat selalu pak.” (Berbagai sumber/CNN Indonesia)