Pendiri Bidonesia, Niki Bagoes Rizky

Bidonesia, Komunitas Bike yang Harumkan Nama Indonesia

JAKARTA (Independensi.com) -Komunitas sepeda (bike)  ini  baru satu tahun lebih terbentuk, namun dari sisi pencapaian prestasi wow…keren banget. Itulah Bidonesia yang didirikan seorang anak muda yang sangat gesit dan profesional.

Dalam waktu dekat, aktivitas Bidonesia sangat padat, termasuk akan mengikuti event internasional. Anggotanya juga belum banyak, namun sudah mampu menorehkan prestasi yang mengharumkan nama Indonesia.

Bidonesia, wadah anak muda yang bergerak dalam layanan pengiriman barang menggunakan sepeda telah mampu berprestasi dan mengharumkan nama Indonesia dalam berbagai ajang kompetisi “bike messenger” dunia. “Dalam waktu dekat ini kami akan mengikuti ajang bike messenger Holycrit yang dilaksanakan di Singapura pada 16 Desember 2017,” kata pendiri Bidonesia Niki Bagoes Rizky, di Jakarta, Rabu (13/12/2017).

Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari Herbalife Indonesia sebagai perusahaan nutrisi yang senantiasa berkomitmen memberikan dukungan berbagai penyelenggaraan dan kegiatan berkaitan gaya hidup sehat.

Niki mengatakan tidak hanya Holycrit, masih banyak kompetisi global yang diikut salah satunya The Cycle Messenger World Championships (CMWC) atau kompetisi bersepeda perkotaan untuk memilih yang terkuat, terpandai, dan tercepat.

CMWC yang diselenggarakan setahun sekali akan dilaksanakan di Latvia pada Agustus 2018, ajang Holycrit sekaligus sebagai persiapan untuk ke depannya, kata Niki.

Niki juga mengungkapkan dalam beberapa event sebelumnya di Singapura, Bidonesia berhasil meraih prestasi.

Niki mengatakan, Bidonesia merupakan satu-satunya komunitas bike messenger yang diundang mengikuti kedua event internasional itu.

Niki menjelaskan untuk Holycrit merupakan kompetisi yang diikuti perwakilan dari beberapa racer di Jakarta, Tangerang, dan Bandung, sedangkan untuk CMWC diikuti bike messenger dari Jakarta, Bandung, dan Malang.

Bidonesia merupakan komunitas pesepeda urban yang dibentuk tanggal 23 oktober 2016. Bidonesia terdiri dari dua kata Bidon (tempat minum) dan Indonesia, ujar Niki.

Saat ini anggota aktif Bidonesia terdiri 50 orang dari Jakarta, Bogor, Bandung, Bekasi, Banjarmasin, Palu, Lampung, Jember, Solo, Malang, Bali, Malaysia, dan Swiss.

Niki Bagoes Rizky di Ipoh Malaysia

Lebih jauh Senior Director dan Country General Manager Herbalife Indonesia Andam Dewi menyampaikan apresiasinya kepada Bidonesia yang di dalamnya beranggotakan anak-anak muda selain memiliki mata pencaharian, juga mampu beprestasi di event internasional.

Andam mengatakan, di tengah-tengah marak layanan pengiriman barang menggunakan sepeda motor, kehadiran Bidonesia dapat menjadi alternatif pilihan selain pengiriman paket lebih cepat juga lebih ramah lingkungan.

Andam Dewi juga menjelaskan, Herbalife Indonesia menggunakan layanan Bidonesia untuk pengiriman produk kepada pelanggan.

Bidonesia beranggotakan 50 orang dalam kesehariannnya selain berprofesi sebagai “bike messenger” atau jasa kurir bersepeda juga menyelenggarakan berbagai pertemuan dengan anggota di 13 cabang untuk saling berbagi informasi.

Herbalife Indonesia, kata Dewi, ikut memberikan dukungan kepada Bidonesia untuk berkompetisi di Singapura karena sebagai ajang mempromosikan Indonesia di dunia internasional juga sesuai dengan gaya hidup sehat yang diusung perusahaan.

Niki berharap kegiatan serupa juga dapat diselenggarakan di Indonesia, namun hal tersebut juga membutuhkan dukungan pemerintah sehubungan harus sterilnya arena lomba dari kendaraan seperti yang diselenggarakan di Singapura dan negara lainnya.

Kompetisi bike messenger tersebut, ujar Niki lagi, biasanya menggunakan fixie bike atau sepeda dengan satu gear serta beberapa kategori lomba salah satunya peserta diwajibkan mengambil barang dan mengantarkan di suatu lokasi yang telah ditentukan.

Niki juga berbagi pengalaman apabila di luar negeri profesi “bike messenger” sudah sangat dikenal, sehingga banyak gedung perkantoran yang menyediakan fasilitas parkir sampai dengan air minum. Hal ini menjadi tantangan bagi perkantoran di Jakarta yang belum menyediakan fasilitas parkir sepeda.

“Saya punya pengalaman tidak enak di salah satu gedung yang memang tidak memiliki fasilitas parkir sepeda. Ketika itu, setelah sepeda saya parkirkan di salah satu tiang dengan dikunci dan ditinggal untuk mengantar barang. Namun saat kembali sepeda saya sudah tidak ada di tempat dan ternyata sudah diamankan pihak pengelola. Sepeda baru bisa diambil setelah berdebat dengan pengelola yang membuang waktu sehingga menghambat pengiriman barang ke lokasi lain,” ujar Niki.

Niki menjelaskan sampai saat ini Bidonesia telah memiliki klien 14 perusahaan untuk layanan kurir sepeda untuk layanan Jakarta dan Tangerang Selatan, serta masih akan dikembangkan di daerah lain.

Pengiriman rata-rata membutuhkan waktu 25 menit untuk jarak tempuh 12 kilometer itu dengan kondisi lalu lintas macet, kata Niki.

Niki menjelaskan untuk berprofesi sebagai bike messenger yang jelas mampu mengendarai sepeda, memiliki sepeda sendiri, serta paham dengan rute yang akan dilewati.

Komunitas penggemar sepeda khususnya sepeda fixed gear di Jakarta mulai terbentuk dan telah berbadan hukum sejak 2016 yang lalu. Meski komunitas ini aktif melakukan berbagai kegiatannya mulai 2013.

Hingga saat ini layanan bike messenger telah tersebar di berbagai kota di Indonesia, di antaranya Aceh, Medan, Jambi, Lampung, Banjarmasin, Bandung, Jakarta, Depok, Bekasi, Bogor, Cibinong, Semarang, Yogjakarta, Jember, Malang, dan Bali. (antara)