Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BB-Mektan) Serpong, Tangerang Selatan, Kamis (1/3/2018). (Humas Kementerian Pertanian)

Sinergisitas Kementan dan Kemenristekdikti Bangun Sains Pertanian Modern

TANGERANG (Independensi.com) – Kementerian Pertanian (Kementan) bersinergi dengan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) dalam pengembangan Sains Pertanian Modern.

Selain itu, dua instansi ini juga akan membangun Politeknik Pembangunan Pertanian Serpong yang berorientasi sebagai pusat penyedia dan pusat pengembangan sains dan enjinering yang unggul.

“Sederhana saja, kita ini negeri agraris. Untuk mengembangkannya, kita harus mengubah paradigma petani dari tradisional ke modern. Satu kuncinya itu dengan teknologi,” kata Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BB-Mektan) Serpong, Tangerang Selatan, Kamis (1/3/2018), dalam keterangan persnya diterima Independensi.com, Jumat (2/3/2018).

Mentan Amran mengatakan, saat ini kawasan Sains dan Enjinering Pertanian Serpong sudah melakukan pembangunan beberapa infrastruktur penunjang. Seperti Gedung Galeri, Penataan lahan dan jalan usaha tani, rumah tanam terkendali, penataan sistem irigasi mikro dan embung untuk mendukung usaha tani pertanian modern.

Selain itu, di kawasan tersebut juga telah dilakukan pengembangan berbagai teknologi enjinering berupa prototipe alsintan pendidikan usaha tani pertanian modern yang berfungsi untuk komoditi padi, komoditi jagung, komoditi bawang merah dan cabe, komoditi tebu dan kakao.

“Dengan alat produksi itu kita bisa menekan biaya produksi 50 persen. Dan mempercepat untuk tanam. Dan tingkatloses saat ini yang diderita petani padi 10,2 persen bisa kita ambil,” kata Amran.

Menurut Mentan Amran, untuk mengubah pertanian tradisional ke pertanian modern, Kementan telah melakukan pendekatan kesejahteraan. Yang berorientasi pada kesejahteraan dan keuntungan petani.

“Terima kasih Pak Menristekdikti, kita kembangkan areal ini. Jika perlu kita jadikan pusat mekanisasi di Asia,” kata Mentan Amran.

Secara garis besar, kawasan sains dan engineering pertanian tersebut nantinya diharapkan mampu memberikan penguatan kepada kelembagaan Litbangrap, perekayasaan dan teknologi; perencanaan pengembangan kawasan; kerja sama dan kemitraan; sarana dan prasarana termasuk irigasi serta alsintan pendukung; sarana dan prasarana pengolahan dan prosesing hasil pertanian; SDM; dan adopsi teknologi bioindustri dan bioenergi; dan pengembangan industri hilir.

Dalam kunjungan tersebut, kedua pembantu Presiden Joko Widodo itu juga menyempatkan diri meninjau beberapa alat dan mesin (alsintan) yang dikembangkan oleh Balitbang Kementan. Dalam beberapa tahun terakhir, ratusan alsintan dan teknologi pertanian berhasil dikembangkan untuk meningkatkan produksi pertanian.

Sementara itu, Menristekdikti M. Natsir menyebutkan, pihaknya akan membantu Kementan dalam mengembangkan kawasan sains dan engineering pertanian. Diharapkan, kawasan tersebut bisa menjadi pusat penelitian dan pengembangan pertanian tercanggih.

“Kalau toh nanti di sini menghasilkan teknologi yang tercanggih di dunia, paling tidak di ASEAN atau Asia. Ini menjadi kerjaan utama,” kata Natsir.

Dia menyebutkan, untuk mewujudkan impian tersebut dibutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak, baik itu perguruan tinggi, peneliti dari dalam dan luar negeri.

“Kenapa saya katakan seperti itu karena kedepan peneliti Indonesia punya kompetensi dan mempunyai daya saing tapi tidak berarti mematikan Perguruan Tinggi dalam negeri,” ujar Natsir. (eff)