Hendrik (kanan) bersama Kuasa Hukumnya, Agus Budiono saat memberikan keterangan. (ist)

Diduga Korban Perdagangan Orang, Lapor Polisi

BEKASI (IndependensI.com)-  Hendrik (55) ayah WN (16), terpaksa melapor ke polisi. Ia mendatangi Kantor Polres Metro Bekasi Kota, Minggu (29/4/2018), dan membuat  Laporan polisi bernomor LP/216/K/IV/2018/SPKT/Restro Bekasi Kota.

Hendrik warga Kampung Teluk Buyung RT 05/07, Margamulya, Bekasi Utara, Kota Bekasi itu melaporkan dugaan perdagangan atas anaknya WN,  yang saat ini ada di Nabire Provinsi Papua. Dan saat ini pun polisi masih melakukan penyelidikan atas laporan Hendrik.

Saat ditemui di rumahnya, Senin (30/4/2018), Hendrik mengisahkan bahwa anaknya WN beberapa hari lalu  menelpon istrinya  Sukaesih (48). Dalam telepon itu, WN menangis dan minta  dijemput di tempat kerjanya sebagai pemandu lagu (PL) di tempat karaoke di Kabupaten Nabire, Provinsi Papua.

WN  kata Hendrik, mengaku merasa tertekan bekerja sebagai PL di tempat hiburan karena memiliki utang Rp 11 juta kepada pemilik karaoke. “Utang itu terdiri dari tiket pesawat dari Jakarta ke Papua dan biaya hidup selama di sana,” kata Hendrik.

Hendrik mengaku, tidak mengetahui apakah  anaknya menjadi korban kekerasan fisik dan seksual selama berada di sana. Sebab saat ditanya, WN tidak berani menjawab dan hanya menangis.

“Kalau saya telepon tidak pernah diangkat, tapi beberapa jam kemudian dia menelpon balik,” ujar pria yang tidak mempunyai pekerjaan menetap ini. Atas kejadian itulah ia melapor ke polisi.

Lagi pula katanya, ia belum lama ini didatangi seorang perempuan yang mengaku teman anaknya WN, sama- sama bekerja di Nabire sebagai pemandu lagu. Perempuan bernama Wiwit  itu,  mengaku ia bisa pulang nari Papua setelah melunasi utang-utangnya kepada pemilik karaoke. Wiwit mengaku ia dimita tolong WN agar menjumpai orangtuanya dan menceritakan kondisi WN.

Menurut Hendrik,  awal Januari 2018,  anaknya WN setamat SMP  sempat minta melanjutkan ke SMK. Tapi orangtuanya tidak mampu dan WN minta bekerja. Tapi oleh Hendrik anaknya tidak diizinkan bekerja dan minta sabar.

Rupanya WN kesal,  dan tanpa sepengetahun orangtuanya ia nekad bekerja setelah berkenalan dengan seseorang yang menawarkan pekerjaan.  Ternyata, WN dibawa ke Papua dan bekerja sebagai pemandu lagu di sebuah karaoke. (jonder sihotang)