Direktur Teknik Bhayangkara FC, Yeyen Tumena
Direktur Teknik Bhayangkara FC, Yeyen Tumena. (foto istimewa)

Bhayangkara Ungkap Alasan Khusus Gunakan Stadion PTIK

JAKARTA (IndependensI.com) – Bhayangkara FC bakal berkandang di Stadion PTIK.

Mereka memiliki alasan tersendiri memilih stadion olahraga di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian itu. Banyak yang mempertanyakan putusan Bhayangkara ini mengingat lapangan sepakbola di PTIK dinilai belum begitu layak untuk mengadakan pertandingan berlevel Liga 1.

Apalagi kapasitas penonton di stadion itu hanya 2.000-2.500 orang, berselisih sangat jauh dengan kandang-kandang tim Liga 1 lainnya.

Meski begitu, Direktur Teknik Bhayangkara FC, Yeyen Tumena, meyakinkan bahwa ada alasan khusus mengapa Bhayangkara cukup berani mengambil langkah ini.

“Dari Evaluasi Panpel 2017, penonton paling banyak untuk laga Bhayangkara melawan apapun timnya hanya 700 orang. Atas dasar itu kami berpikir mengapa harus menyewa stadion yang mahal, sementara tak ada pemasukan buat tim,” tutur Yeyen pada konferensi pers di PTIK Jakarta, Rabu (02/05/2018) siang WIB.

“Biaya pelaksanaan pertandingan sebuah stadion mencapai Rp 300 juta per pertandingan, sementara penghasilan yang didapat tidak sampai segitu. Hal ini lebih baik kami investasikan untuk membangun fasilitas sendiri, milik sendiri, sehingga kami tak perlu membayar tiap pertandingan,” tambah Yeyen.

Ada kekhawatiran kondisi stadion menjadi tak memungkinkan terutama ketika melawan tim yang punya basis suporter yang sangat besar. Namun, Yeyen punya alibi tersendiri.

“Kalaupun misal ada kemungkinan melawan tim berbasis suporter banyak, perlu diingat kami sudah melawan Persija di Gelora Bung Karno, tim dengan jumlah suporter terbanyak di Jakarta. Kalau ditanya lawan Persib. Sudah tidak mungkin Viking atau Bobotoh bisa masuk karena masih daerah Jakarta. Jadi tidak ada alasan laga itu tak bisa dihelat di sini.”

“Mungkin yang jadi pertimbangan nanti adalah hanya lawan Persebaya. Karena kami pernah lahir di Surabaya, apakah nanti akan tampil di sana atau tidak. Tapi, kembali pertimbangan kepada manajemen dan teknis lainnya.”

“Soal Arema FC atau Madura United, kami sudah menganalisis maksimal hanya 700 orang dan dengan kapasitas 2000 kursi itu sudah lebih dari cukup,” tutup Yeyen.

Sementara itu, Kapasitas minim stadion PTIK yang jadi kandang Bhayangkara FC berimbas pada suporter tim tamu yang hanya diberikan jatah 50 kursi.

Setelah setahun direnovasi, Bhayangkara resmi menjadikan PTIK sebagai homebase mereka. Hal ini disampaikan Manajer tim, AKBP Sumardji di PTIK Jakarta, Rabu (2/5/2018).

Meski begitu, tribun penonton menjadi salah satu masalah. Pasalnya, kapasitas sekitar 2.500 kursi dirasa kurang banyak untuk level pertandingan setara Liga 1. Bhayangkara punya rencana untuk menambah kursi penonton di sana tapi tidak dalam waktu dekat ini.

“Kami mengupayakan sesegera mungkin untuk penambahan tribun kiri atau kanan. Target kami adalah menyelesaikan di luar itu dulu sebagai syarat verifikasi. Semua akan bertahap terkait penambahan ini. Yang pasti kami akan memperbaiki tribun kanan, kiri, maupun depan. Karena itu sementara kami meminta kelonggaran kepada PT LIB soal kondisi dan kapasitas tribun,” jelas Sumardji kepada wartawan.

Kondisi saat ini membuat Bhayangkara punya aturan main tersendiri. Yakni hanya akan memberikan lima persen atau kisaran 50 orang untuk suporter tim tamu. Itu yang mereka rencanakan pada laga pertama melawan PS Tira, Jumat (4/5/2018) dan laga-laga kandang selanjutnya.

“Terkait penjualan tiket melawan PS Tira besok, kami tetap akan menjual sesuai regulasi. Kami juga akan memberikan slot untuk penonton PS Tira. Tapi, karena kapasitas hanya 2.500 kursi maksimal, mungkin kami hanya akan memberikan tidak lebih dari 50 kursi untuk suporter PS Tira,” lanjut Sumardji.(BM/ist)