Pencemaran di Kali Bekasi beberapa waktu laku akibat limbah industri. (Foto/dok Independensi)

Pencemaran Kali Bekasi Parah, PDAM Hentikan Produksi

BEKASI (IndependensI.com)- Pencemaran Kali atau Sungai Bekasi, kembali terjadi. Kondisi seperti ini sudah berulangkali dan bertahun- tahun. Namun sampai sekarang tidak ada upaya nyata  mengatasi yang dilakukan pemerintah.

Dampak pencemaran pada Sabtu dan Minggu (11,12/8/2018) kemarin, PDAM Tirta Bhagasasi dan PDM Tirta Patriot Bekasi, sempat menghentikan produksi. Dampaknya, banyak pelanggan PDAM kesulitan air bersih. Namun saat ini, Senin (13/8/2018) kondisi air Kali Bekasi sudah berangsur normal.

Sebagaimana diketahui, air Kali Bekasi masih menjadi air baku dua PDAM di Kota dan Kabupaten Bekasi.

Pemerintah Kota Bekasi menantikan dilakukannya penanganan terhadap Kali Bekasi secara komprehensif oleh Kementerian PUPR selaku penanggungjawab atas kondisi kali.

Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Penataan dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi Sugiyono, Senin (14/8/218) terkait pencemaran yang kembali terjadi di Kali Bekasi. Berdasarkan pantauan, pencemaran yang terjadi membuat air Kali Bekasi berwarna hitam sejak Sabtu (10/8/2018). Tak hanya mengalami perubahan warna, Kali Bekasi juga mengeluarkan bau tak sedap.

Disebutkan, kondisi buruk Kali Bekasi  kerap terjadi saat  hujan turun di musim kemarau atau hujan perdana yang menandai peralihan ke musim hujan.

“Bisa seperti itu karena air hujan yang tumpah ke Kali Bekasi mengakibatkan terjadinya turbulensi sedimentasi di dasar Kali Bekasi. Adapun sedimentasi ini sudah terakumulasi selama puluhan tahun sehingga volumenya cukup besar, bahkan ketebalannya diperkirakan bisa sampai lima meter,” katanya.

Saat turbulensi terjadi itulah, bermacam materi yang selama ini turut mengendap di dasar endapan, terdorong naik ke permukaan bersama lumpur yang akhirnya membuat warna air Kali Bekasi berubah menjadi hitam pekat.

Menurut Sugiyono, material yang turut mengendap tersebut bisa bermacam-macam jenisnya, baik berupa limbah rumah tangga maupun limbah industri.

“Karena terakumulasi selama bertahun-tahun dengan konsentrasi yang kian tinggi, wajar jika akhirnya limbah-limbah yang mengendap tersebut akhirnya menjadi limbah yang terkategori sebagai Bahan Beracun dan Berbahaya yang tentu saja berbahaya bagi makhluk hidup,” ucapnya.

Karena tingginya kadar polutan pada air Kali Bekasi itu pula, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bhagasasi terpaksa menghentikan sementara produksi. “Kandungan polutannya tidak bisa ditoleransi atau diakali dengan penggunaan bahan kimia sekalipun, sehingga diputuskan produksi dihentikan pada Sabtu dan Minggu,” kata Kepala Sub Bagian Humas PDAM Tirta Bhagasasi Bekasi Fauzi Ahmad.

Setidaknya ada tiga cabang PDAM Tirta Bhagasasi  menghentikan produksi sementara dikarenakan air baku dari Kali Bekasi, tercemar. Ketiganya, Cabang  Babelan, Pondok Ungu, dan Tarumajaya. Setidaknya 50.000 sambungan langganan di wilayah kerja ketiga kantor cabang tersebut menjadi korban penghentian produksi yang terjadi.

Fauzi mengatakan, situasi seperti ini kerap berulang dan  sangat merugikan. Kemampuan Pemerintah Kota Bekasi untuk mengambil alih penanganan Kali Bekasi tidaklah memadai. Apalagi aliran Kali Bekasi berhulu dari aliran Kali Cileungsi dan Kali Cikeas yang berada di Kabupaten Bogor. Maka perlu ada sinergitas antara Pemprov Jawa Barat dengan Pemerintah Pusat.

“Perlu campur tangan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, pemerintah pusat, juga Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) untuk melakukan penanganan menyeluruh di Kali Bekasi,” katanya.

Air Kali Bekasi, selama ini menjadi andalan dua PDAM di Bekasi sebagai air baku. Air kali tersebut dicampur dengan air dari Tarum Barat atau Kalimalang, mengingat air Kalimalang sendiri  yang dikelola Perum Jasa Tirta (PJT) II, tidak mampu memasok  debit air untuk dua PDAM tersebut. (jonder sihotang)