Pertemuan Presiden Joko Widodo dan Kofi Annan di BICC, Bali, Kamis (8/12/2016). (Ist)

Kofi Annan Pernah Apresiasi Presiden Jokowi Tangani Pengungsi Rohingya

JAKARTA (Independensi.com) – Kofi Annan (80) wafat pada Sabtu (18/8) waktu setempat, merupakan sekretaris jenderal PBB antara tahun 1997 dan 2006.

Kofi adalah orang kulit hitam pertama yang mengambil peran sebagai Sekjen PBB, dan kemudian melayani sebagai utusan khusus untuk Suriah dalam upaya untuk mendamaikan konflik.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) pernah menerima apresiasi dari mantan Sekjen PBB itu terkait langkah yang diambil RI dalam membantu pengungsi Rohingya.

Presiden Jokowi bertemu Kofi yang bertindak selaku Ketua Advisory Commitee untuk Rakhine State (Myanmar) saat menjelang pembukaan Bali Democracy Forum (BDF) IX, yang digelar di Bali International Convention Center (BICC), Bali, Kamis (8/12/2016) lalu.

Menurut Presiden, dirinya menerima masukan dari Kofi Annan dan mantan Sekjen PBB itu menyampaikan apresiasi pada Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia.

Presiden menjelaskan pertemuan dirinya dengan Kofi Annan memang membicarakan mengenai langkah-langkah yang perlu diambil dalam membantu kemanusiaan yang ada di Rakhine State, Myanmar, terkait dengan tragedi yang dialami warga Rohingya.

Sebelumnya, menurut Presiden Jokowi, dirinya telah memerintahkan Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi untuk berkunjung ke Myanmar.

“Dua hari yang lalu sudah bertemu dengan State Counsellor Aung San Suu Kyi di Naypyidaw di Myanmar untuk membahas situasi yang terjadi di Rakhine State. Kita ingin apa yang bisa dilakukan Indonesia untuk Rakhine State,” ujar Presiden.

Presiden mengaku, juga telah memerintahkan kepada Menlu untuk menyiapkan bantuan secepat-cepatnya untuk bisa dikirim ke Rakhine State di Myanmar dalam bentuk makanan dan selimut.

“Karena memang itu yang dibutuhkan di sana setelah kita berkomunikasi dengan Myanmar,” ujarnya.

Saat ditanya wartawan apakah ada bantuan lain yang akan disampaikan Indonesia, Presiden mengemukakan, yang dibutuhkan secepatnya adalah makanan dan selimut.

Tetapi Presiden mengisyaratkan, tentu saja nanti akan ada tahapan kedua yang mungkin bisa dibangun pemerintah Indonesia, misalnya sekolah.