Zhenzhen Zhu. (Dwi Ari Setyadi/INAPGOC)

Zhenzhen Zhu Bikin Kejutan

JAKARTA (IndependensI.com) – Petenis putri nonunggulan asal China, Zhenzhen Zhu membuat kejutan dengan melaju ke final Wheelchair Tennis Asian Para Games 2018 yang berlangsung di lapangan tenis Kelapa Gading Sport Club, Jakarta, Rabu (10/10/2018). Zhu nyaris kandas sebelum akhirnya mencatat kemenangan 6-0, 7-6(3) atas unggulan tiga Thailand, Sakhorn Khanthasit di babak empat besar.

Sejak babak awal, Zhu yang berperingkat 21 dunia itu sudah mengejutkan dengan menang 6-1, 7-5 atas unggulan dua Manami Tanaka dari Jepang. Selanjutnya, petenis 29 tahun ini tidak menemui lawan berat. Namun di semifinal, dirinya sempat kesulitan untuk menjinakkan permainan agresif Sakhorn yang berusia 47 tahun. Kendati tak lagi muda, Sakhirn memberikan perlawanan sengit untuk menghambat laju performa terbaik milik Zhu. “Zhu bermain cerdik dan bagus mengantisipasi setiap pukulan saya. Penempatan bolanya membuat saya kewalahan,” ungkap Sakhorn.

Laga selanjutnya, Zhu akan bertemu dengan unggulan teratas sekaligus pemegang peringkat dua dunia asal Jepang, Yui KAmiji yang tanpa kesulitan mengandaskan rekan senegaranya, Momoko Ohtani yang juga menjadi unggulan empat 6-2, 6-0. Yui bermain seperti biasanya, dengan agresifitas yang tinggi dan twisting wheelchair yang akurat, membuat pola permainan cepatnya sulit diimbangi Momoko. “Yui pandai memanfaatkan semua momen. Pukulan backhand kidalnya cukup berbahaya,” komentar Momoko. Kendati demikian, Momoko masih tetap melanjutkan pertandingan untuk memperebutkan medali perunggu melawan Sakhorn, Kamis (11/10/2018).

Dari kelompok putra, unggulan teratas asal Jepang, Shingo Kuneida sempat mendapat perlawanan ketat dari rekan senegaranya, Kouhei Suzuki di babak semifinal. Shingo menang 6-1, 6-4. “Kouhei bermain cukup bagus dan mengandalkan pukulan keras bertenaga. Saya hanya bisa bertahan dan menunggu celah untuk membalikkan keadaannya,” ujar Shingo. Dia menambahkan, dirinya mencoba mengontrol permainan lawannya melalui pukulan backhand dan membuat Kouhei menurunkan tempo permainan.

Shingo sempat terpedaya dan tertekan di set kedua, menyusul terbawa tempo permainan lawannya. Beberapa kali pukulan spin Shingo kandas di net dan membuat lawan menjadi semangat. Namun berkat kesiapan dan ketangguhan di lapangan Shingo bisa keluar sebagai pemenang. “Saya hanya mencoba untuk memperbaiki kesalahan dan menjaga tempo permainan. Kouhei menurunkan tempo permainan rupanya,” imbuh Shingo. Laga final, Shingo akan menemui lawan sesama negaranya, Takashi Sanada yang sebelumnya mengandaskan unggulan tujuh Jepang, Suthi Khlongrua 6-2, 6-3. Takashi juga merupakan rekan bermain Shingo di nomor ganda putra.