Kementan-Pemprov Sumbar Gelar Festival Durian, Tingkatkan Daya Saing

Loading

JAKARTA (IndependensI.com) – Membangun hortikultura tidak hanya terfokus pada peningkatan produksi saja namun juga meningkatkan kualitas, daya saing dan perluasan pasar. Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) menggelar festival dan panen durian lokal. Acara ini sangat meriah dihadiri berbagai pihak bebas panen dan makan durian free bertempat di Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok, kemarin Rabu (5/12/2018).

Pada festival durian ini dihadiri Satuan Kerja Perangkat Dinas Provinsi Sumbar, Walikota Solok, Zul Elfein, dinas pertanian kabupaten se Sumbar, petani dan masyarakat. Acara diisi dengan penanaman beberapa jenis durian unggulan lokal seperti durian matahari, otong, dan lainnya di Kota Solok, dilanjutkan panen dan memetik durian matang dari pohon, makan durian gratis serta berdiskusi dengan petani durian di Kabupaten Solok.

Dirjen Hortikultura, Dr. Suwandi menyatakan festival dan panen durian di Solok dimaksudkan untuk lebih memperkenalkan buah durian lokal unggulan kepada masyarakat luas, baik dari segi rasanya yang luar biasa maupun manfaatnya untuk tubuh manusia. Durian yang dikenal sebagai King of Fruit semakin digemari oleh masyarakat karena kaya akan protein, serat, Vitamin B1, Vitamin B2, Vitamin C, Kalsium, Kalium dan Fosfor.

“Kami minta agar jenis durian unggulan lokal segera didaftarkan untuk diberi nama varietas sehingga semakin mudah dikenal oleh anggota masyarakat dan yang terpenting adalah bisa dikomersilkan,” demikian dikatakan Suwandi.

Selain itu, sambung Suwandi, menghasilkan produk durian unggulan yang bisa bersaing dengan durian dari negara lain, sangat diperlukan bantuan Badan Litbang. Yakni berupa pendampingan yang intensif agar setiap sumberdaya yang ada di Sumatera Barat dapat dikelola dengan baik.

“Indonesia memiliki keragaman jenis dan varietas durian lokal. Varietas durian unggul yang sudah dikenal masyarakat seperti durian Pelangi dari Papua, durian Merah dari Banyuwangi, durian Srobut dari Kalimantan Barat, Durian Bawor Banyumas, durian Petruk, durian Matahari dan banyak jenis lainnya,” terang dia.

Suwandi pun menyebutkan pasar durian sangat terbuka luas dan durian lokal digemari baik di dalam negeri dan mampu bersaing dieskpor. Buktinya, Indonesia pada tahun 2017 masih defisit neraca perdagangan durian, namun seiring berbagai program menggerakan mutu dan mendorong ekspor, kini pada 2018 ekspor durian lebih tinggi dari pada impornya, sehingga neraca perdagangan durian sudah surplus 733 ton.

“Mengacu pada data BPS Tahun 2017, ekspor durian hanya 240 ton sementara impor lebih besar mencapai 764 ton sehingga neraca perdagangan defisit 524 ton, akan tetapi ekspor durian Januari hingga September 2018 melonjak 1.084 ton, impor hanya 351 ton artinya neraca perdagangan surplus 733 ton,” bebernya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Sumatera Barat, Chandra mengatakan sentra produksi durian terdapat di Kabupaten Agam, Kabupaten Solok, Kabupaten Pesisir Selatan dan Kabupatan Padang Pariaman. Berdasarkan data BPS, produksi durian di Kabupaten Solok 2016 sebesar 2.375 ton dan pada 2017 mencapai5.467 ton.

“Artinya naik 43,44 persen sedangkan produksi durian di Provinsi Sumatera Barat 2016 sebesar 43.886 ton dan 2017 sebesar 74.539 ton atau naik sebesar 58,87 persen,” kata dia.

“Setiap durian lokal memiliki ciri masing-masing baik dari rasa, wangi yang khas, warna buah, ketebalan buah dan lain sebagainya. tidak kalah bila dibanding dengan durian yang berasal dari negara lain,” pinta Chandra.

Salah satu pohon durian yang tumbuh di kebun lokasi panen adalah durian jenis Matahari yang pada saat panen raya mampu berbuah hingga 1.000 butir per pohon, namun harga durian di kebun masih murah yaitu Rp 10.000 per butir dan harga di pasar/konsumen hanya Rp. 15.000 hingga Rp. 20.000 per butir. Anjung, petani durian menuturkan hal ini berbeda dengan di Jakarta bisa mencapai harga Rp. 40.000 – Rp. 50.000 per butir.

“Perbedaan harga tersebut justru merupakan sebuah peluang bisnis yang cukup terbuka. Kita memiliki durian lokal yang unik, belum ada di daerah lain, jenis Madu dan Racun yang bisa berbuah hingga mencapai berat 8 kilogram per butir,” tutur Anjung, Petani pemilik 40 hektar kebun durian dari Nagari Selayo, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok

Satu butir durian Madu Racun tidak akan habis 4 orang kilah pak Anjung. Saking besarnya durian ini sehingga sering disebut dengan durian gallon. Pohon durin ini bisa berbuah 800 sampai 1000 buah perpohon.

“Bulan ini sudah mulai berbuah akan dipanen pada bulan Februari tahun depan,” ujar Anjung.

Anjung juga menjelaskan dikebunnya terdapat durian jenis Bango yang salah satu keisitimewaannya memiliki rasa tidak kalah dengan durian Musang King. Satu butir durian Bango bisa dijual Rp 350 ribu per butir. Menurutnya, supaya pohon durian berbuah lebat, caranya menerapkan aturan tanaman sesuai dengan kaidah SOP.

“Kami benar-benar mengikuti setiap tumbuh kembangnya durian seperti pada pemberian pupuk organik, pencegahan hama penyakit dan sebagainya,” pungkas Anjung.

2 comments

Comments are closed.