KLHK Bantah Jakarta Memiliki Kualitas Udara Terburuk di Asia Tenggara

JAKARTA (IndependensI.com) – Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) M S Karliansyah, membantah laporan Greenpeace yang menyebut kualitas udara di Jakarta dianggap sebagai yang terburuk di Asia Tenggara.

Menurutnya, kualitas udara di Ibu Kota Indonesia ini masih tergolong baik jika dibandingkan dengan kota-kota lain di dunia yang saat ini disergap polusi udara.

“Kami punya alat pemantau kualitas udara dan hasil pemantauan alat kami memperlihatkan kualitas udara Jakarta cukup baik. Karena itu laporan Greenpeace yang menyebut kualitas udara Jakarta terburuk se-Asia Tenggara, tidak tepat,” katanya dalam keterangan pers, Rabu (13/3/2019).

Karliansyah menunjukkan sejumlah data untuk meng-counter Greenpeace berdasarkan laporan dari World Air Quality Report yang merilis data kualitas udara Jakarta yang disebutnya terburuk se-Asia Tenggara. Disebutkan, konsentrasi PM 2,5 tahun 2018 tingkat polusinya mencapai 45,3 g/m3. Artinya konsentrasi PM 2,5 di Jakarta sampai empat kali lipat dari batas aman tahunan menurut standar WHO yakni 10 g/m3.

Dia menyatakan, apa yang diungkapkan Greenpeace tida benar dan kualias udara Jakarta masih cukup baik. “Memang kami merekam pada 2018, ada hari yang tidak baik. Dari 365 hari, ada 196 hari kualitas udara buruk dan 34 hari kualitas udara baik. Sisanya kualitas udara sedang. Ada tapi kalau dikatakan terburuk, terjelek di Asia Tenggara tidak,” papar Karliansyah.

“Begitu juga kualitas udara rata-rata harian di Jakarta masih baik, tidak seperti yang dipaparkan Greenpeace,” sambungnya.

Sambil memperlihatkan data, Karliansyah menjelaskan, dari data harian Jakarta itu 57mikrogram, kalau WHO itu 25 mikogram. Karena itu, dia mempertanyakan alat ukur yang dipakai oleh Greenpeace. Pasalnya, berdasarkan alat yang dipakai untuk pemantauan kondisi udara dengan PM 2,5 tidak seburuk itu.

“Saya dan teman-teman di sini bertanya Greenpeace pakai data apa, metode dan instrumen apa, karena Kami yakin beliau-beliau pernah ke sini dan kami ajak ke lantai tiga di AQMS Center atau jaringan pemantau kualitas udara,” urai dia.

Saat disinggung mengapa Greenpeace merilis data tersebut, Karliansyah hanya tersenyum. “Kalau soal itu, saya enggak tahu. Yang jelas, kami punya alat pemantau udara,” ucapnya.