Intoleransi, Karena Keyakinan Iman Dijadikan Ideologi

Independensi.com – Ideologi Indonesia berurat berakar dari ideologi sosialis yang disesuaikan dengan trilogi peradaban kebudayaan bangsa-bangsa di Asia, yaitu hormat dan patuh kepada leluhur, hormat dan patuh kepada sesama, serta hormat dan patuh kepada sesama.

Trilogi peradaban kebudayaan suku-suku bangsa di Asia, melahirkan agama asli berbagai suku bangsa di Asia (doktrin: berdamai dengan leluhur, alam sekitar dan sesama), berurat berakar dari legenda suci suku bangsa di Asia, mitos suci suku bangsa di Asia, adat istiadat suku bangsa di Asia, hukum adat suku bangsa di Asia, dan dalam konteks ini khusus di Indonesia melahirkan Ideologi Pancasila.

Kalau simbol-simbol peradaban kebudayaan berbagai suku bangsa di Timur Tengah yang di antaranya melahirkan agama samawi (dipaksakan jadi ideologi), tentu harus ditolak semua suku bangsa di Asia, termasuk di Indonesia, dan teristimewa dari bagi kalangan Suku Dayak di Pulau Borneo, karena tidak sesuai peradaban kebudayaan Asia.

Dalam pemaham universal kebudayaan melahirkan tiga pranata peradaban, yaitu sosial (lahirkan agama di dalamnya), ekonomi, dan politik.

Jadi, bicara masalah kebudayaan, otomatis bicara sosial (agama), ekonomi dan politik.

Dengan demikian, bicara kebudayaan Dayak, otomatis bicara masalah sosial (agama) Dayak, ekonomi Dayak dan politik Dayak.

Karena itulah orang Dayak harus mampu mengenal identitas diri melalui doktrin agama asli Dayak, karena agama asli Dayak sebagai filosofi dalam etika berperilaku orang Dayak, sedangkan agama impor yang dianut orang Dayak sebagai sarana keyakinan iman.

Antara agama sebagai sarana keyakinan iman dan agama asli sebagai filosofi harus dimaknai di dalam konteks yang berbeda, agar terhindar dari tudingan campur adukkan ajaran agama.

Karena tidak mungkin seorang Dayak yang masuk Agama Katolik, misalnya, tiba-tiba berubah menjadi Suku Bangsa Yahudi, hanya lantaran Agama Katolik berurat berakar dari Kebudayaan Suku Bangsa Yahudi.

Sementara status kedayakan orang Dayak akan melekat di dalam dirinya sampai akhir hayat.

Aksi intoleransi dan aksi radikalisme, karena adanya upaya pemaksaan agama sebagai sarana keyakinan iman untuk sekaligus sebagai ideologi di Indonesia.

Agama impor yang sedianya sebagai sarana keyakinan iman dan kemudian dipaksa menjadi ideologi negara, apapun alasannya harus ditolak karena ancaman serius terhadap Ideologi Pancasila. (Aju)