Sekjen DPP Taruna Merah Putih, Restu Hapsari. (Dok. Pribadi)

Berkaca di DKI Jakarta, Ibu Kota Baru Tak Boleh Menggeser Kearifan Lokal

JAKARTA (Independensi.com) – Sekjen DPP Taruna Merah Putih, Restu Hapsari, menilai pemindahan ibukota negara ke Penajam Paser Utara dan sebagian di Kabupaten Kutai Kertanegara Kalimantan Timur adalah keputusan yang tepat dan berani.

Sebelumnya, pada Senin (26/8) Presiden Jokowi resmi menyampaikan bahwa Provinsi Kalimantan Timur sebagai ibu kota negara Indonesia yang baru.

Pengumuman ini dilakukan oleh Presiden Jokowi usai menerima dua kajian oleh Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro pada Jumat tanggal 23 Agustus 2019. Dua kajian yang diberikan kepada Presiden Jokowi tersebut berupa hasil kajian struktur tanah dan dampak ekonomi dari pembangunan ibu kota baru.

Restu berpendapat bahwa ibu kota baru Indonesia tidak boleh menggeser kearifan lokal. Berkaca dari persoalan DKI Jakarta, Restu menilai bahwa konflik-konflik yang selama ini terjadi di DKI Jakarta hingga berefek ke daerah lain di Indonesia adalah karena bangsa Indonesia mengalami satu fase yang disebutnya sebagai gegar budaya.

“Kita mengalami fase gegar budaya, sehingga kebhinekaan yang merupakan kekayaan bangsa tidak lagi kuat untuk menanamkan perilaku dan aktivitas kita yang berkebudayaan Indonesia,” ungkapnya dikutip dari laman gesuri, Jumat (30/8).

Hal ini harus kembali kita munculkan, lanjutnya, sehingga ketika ibu kota baru ini nantinya dibangun, yang kita dorong adalah wajah dan nuansa kota yang berkebudayaan.

Ibu kota negara yang menjadi setral pemerintahan harus menjadi wajah bangsa Indonesia yang berkebudayaan.

Selain itu, mantan Ketua Presidium PP PMKRI ini juga menginginkan agar konsep tata ruang kota harus menggambarkan arsitektur lokal maupun penyatuan beragam budaya Indonesia, kota hijau, kelestarian hutan adat, dan pembangunan lainnya yang harus mengedepankan kebudyaan.

“Dengan memperkuat warisan budaya, kita akan memperkuat kebhinekaan dan toleransi antar umat beragama, sehingga tidak lagi di antara kita yang memperdebatkan iman dan kepercayaan orang lain, tetapi kita ciptakan perilaku bangsa yang berkepribadian dan bangsa berbudaya,” tegasnya.