Penulis : Adlan Daie ( Wakil Sekretaris PWNU Jawa Barat).

Membaca Peta Pilkada Indramayu 2020

 

INDRAMAYU (IndependensI.com) – Tidak mudah merekonstruksi teori politik elektoral modern untuk membaca peta politik di Indramayu. Tesis dan pandangan Clifford Gertz, seorang antropolog politik berkebangsaan Amerika dalam bukunya “The Religion off Java” meletakkan pemilih masyarakat Jawa dalam hasil penelitian sosialnya dalam tiga rumpun kategori pemilih secara ideologis, yakni priyayi, abangan dan santri.

Belakangan, Prof Williem Lidle, guru besar ilmu politik Ohio State University, beserta murid-muridnya dari Indonesia seperti Deny JA, Eep Saefulah Fatah dan Saeful Mujani mengembangkan varian kategori pemilih dalam dua kelompok besar, yakni pemilih “nasionalis” dan pemilih “muslim” dengan segala varian turunannya yang lebih detail. Dalam perspektif penulis, kategorisasi rumpun pemilih diatas, tidak memadai untuk instrument analisis dalam kerangka membaca trend elektoral peta politik Indramayu dalam konteks Pilkada yang akan berlangsung akhir tahun 2020.

Perluasan perspektif dengan beragam variabel lain menjadi penting untuk dibaca, antara lain tingkat pragmatisme masyakaratnya, karakteristik struktur sosialnya, jaringan kepentingan yang bertali temali secara struktural dan peta kompetitif pasangan calon dengan konfigurasi partai pengusungnya. Karena itu, tulisan ini tidak dimaksudkan dengan intensi untuk membaca peta elektoral dalam konteks Pilkada Indramayu tahun 2020 yang hanya dapat dibaca secara update via data survey profesional dan non partisan, melainkan tulisan ini semata-mata merekonstruksi pengandaian skenario politik untuk membaca kemungkinan yang akan terjadi dalam proyeksi Pilkada Indramayu tahun 2020.

Skenario pertama, jika diandaikan partai Golkar, partai pemenang Pemilu Legislatif 2019 di Indramayu dengan raihan 22 kursi DPRD Indramayu mengusung paket pasangan calon (siapapun pasangan calonnya) tanpa koalisi dan partai partai lain membentuk formasi koalisi lebih dari satu pasangan calon, kemungkinan pasangan yang diusung partai Golkar lebih mudah memenangkan kontestasi Pilkada Indramayu 2020. Selain karena “diuntungkan” sebagai petahana dengan instrument politik yang dimilikinya, juga fragmentasi politik yang membelah satu sama lain di antara sesama kompetitor non petahana, sulit memfokuskan diri “mendowngrade” citra calon petahana dalam kacamata politik tunggal. Inilah problem akut yang acapkali dialami para kompetitor non petahana, susah bersatu untuk “head to head” dengan calon petahana.

Sebaliknya,skenario kedua, jika di luar pasangan calon partai Golkar (petahana) bersatu, sepakat bulat membentuk satu barisan koalisi “head to head” dengan calon petahana sebagaimana terjadi dalam kontestasi Pilkada Indramayu, tahun 2015, lima tahun silam, tentu persaingannya akan berlangsung keras dan ketat. Terlebih jika calon non petahana yang diusung melewati proses kalkulasi, seleksi dan penjaringan dengan peringkat bobot ketokohan, basis elektoral yang terpotret dalam update survey dan jaringan sosial yang saling menguatkan satu sama lain.

Artinya, meskipun calon petahana memiliki sejumlah instrument dan organ-organ struktural yang kuat akan tetapi calon non petahana yang dijaring dengan prinsip dan indikator penjaringan politik elektoral modern sebagaimana dipaparkan di atas dalam soliditas koalisi partai pengusung yang kokoh dalam satu tarikan nafas gerakan yang massif dengan branding pilihan isu lokal secara kontekstual, bukan tidak mungkin calon petahana kedodoran menghadapinya, bahkan berpeluang bisa dikalahkan secara terhormat.

Pertanyaan yang masih menggantung di benak publik : bisakah parpol non Golkar bersatu menjaring pasangan calon yang terukur secara elektoral dengan bobot figur yang kuat “public effect”nya membentuk satu front “head to head” dengan calon petahana?.

Jawabannya kembali ke agadium klasik bahwa politik adalah seni mengelola kemungkinan. Kemungkinan akhir calon petahana menang atau sebaliknya, bisa dikalahkan tergantung “road map”, yakni desain strategi peta jalan dari hulu ke hilir baik dari calon petahana maupun non petahana. Strategi hulu yang baik, ikhtiar politik yang sungguh sungguh-sungguh dan spirit suasana kebhatinan yang kuat yakinlah, tidak akan mengkhianati hasil akhir.

Akhirnya, kepada kawan-kawan politik di Indramayu, selamat menikmati proses politik Pilkada Indramayu tahun 2020 dengan semangat fair play, konstruktif dan riang gembira. Siapa pun pemenangnya nanti adalah bagian dari garis takdir politik mengemban “amanah mulia” sebagaimana diingatkan Al Mawardi dalam kitabnya “Al Ahkam As sulthaniah”, bahwa politik tujuannya adalah menjaga kehidupan agama dan mengelola kehidupan dunia untuk memajukan kesejahteraan umum diatas kepentingan kelompok, golongan dan lain lain (“tasharruful imam ‘ala arroiyah manutun bil maslahah”). Semoga.