Lokasi jatuhnya helikopter yang ditumpangi legenda NBA Kobe Bryant di Calabasas, Kalifornia, AS, Minggu (26/1/2020). (Ist/Associated Press)

Jenasah Kobe Sulit Dievakuasi

Loading

JAKARTA (Independensi.com) – Kancah basket dunia berduka menyusul peristiwa wafatnya pebasket legendaris Kobe Bryant dalam kecelakaan helikopter di Calabasas, Kalifornia, Amerika Serikat (AS), Minggu (26/1/2020) waktu setempat.

Seperti dikutip dari nytimes.com, pebasket berusia 41 tahun itu meninggal dunia dalam insiden tersebut bersama sang putri, Gianna Maria-Onore Bryant atau yang akrab disapa Gigi. Tercatat sembilan korban termasuk Kobe dan Gigi dalam peristiwa tragis ini.

Lokasi jaruhnya helikopter berada di perbukitan Calabasas yang sulit untuk ditempuh. Bahkan pihak berwenang di dekat lokasi mengatakan, diperlukan beberapa hari untuk melakukan evakuasi korban karena medan tempuh yang sulit diakses dengan kendaraan. Pihak kepolisian Los Angeles County, Alex Villanueva dalam jumpa pers mengatakan, Dewan Keselamatan Transportasi Nasional AS sudah mengirimkan tim untuk melakukan investigasi sekaligus melakukan upaya evakuasi.

Kepala Pemadam Kebakaran Los Angeles County, Daryl Osby membenarkan pernyataan Villanueva yang menyatakan lokasi kecelakaan yang sangat sulit dengan dan terjal perbukitan. Villanueva juga tidak mau berspekulasi tentang jumlah penumpang dan enggan memberikan konfirmasi kabar dugaan helikopter tersebut kelebihan penumpang (overloaded).

Pihak NBA memberikan konfirmasi bahwasanya Kobe Bryant dan sang putri menjadi korban dalam insiden itu. Korban lainnya tercatat atas nama John Altobelli, sahabat karib Kobe yang juga pelatih baseball Orange Coast College di Costa Mesa, Kalifornia. Demikian info dari pihak akademi Orange Coast. Selain Altobelli, turut menjadi korban adalah istrinya, Keri dan putrinya Alyssa.