Mentan SYL

Mentan SYL Kampanyekan Diversifikasi Pangan, Ajak Masyarakat Sehat dan Kuat

Loading

JAKARTA (Independensi.com) – Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo bersama pimpinan Perbankan dan BUMN senam bersama dalam rangka memperingati Hari Krida Pertanian ke-48 dan sosilaisasi program diversifikasi pangan di kantor pusat Kementan, Ragunan Jakarta Selatan, Minggu (28/6).

Pada kesempatan itu Mentan SYL mengatakan bahwa kesehatan merupakan asset penting dalam menjalankan aktivitas. Karenanya, ia mengajak khalayak yang hadir untuk rutin berolah raga dan mengkonsumsi makanan dengan gizi yang berimbang.

“Sumber energi, asupan gizi bisa kita peroleh dari pangan lokal. Indonesia ini sangat kaya. Selain beras, ada sumber pangan pokok lainnya seperti kentang, ubi, sorgum, sagu dan aneka kacang-kacangan. Ingat, kita makan bukan hanya untuk kenyang tapi juga untuk kesehatan,” kata SYL.

Mentan SYL mengakui keanekaragaman pola konsumsi masyarakat pada umumnya masih rendah. Hal ini tentu dibutuhkan strategi untuk tetap memenuhi ketercukupan bahan pangan bagi 267 juta penduduk Indonesia.

“Yang harus dilakukan pertama kali adalah merubah mindset. Para pemimpin, pejabat dan kita semua harus melakukan agenda intelektual, yaitu meyakinkan masyarakat bahwa tidak harus kenyang dengan beras” ujarnya.

Mentan SYL lebih lanjut menyampaikan bahwa dibutuhkan sinergi dan kolaborasi untuk mengkampanyekan hal tersebut. Kementerian, pemerintah daerah, BUMN dan media dalam merumuskan kebijakan dan program diarahkan kepada diversifikasi pangan.

“Bentuk aktualisasi dari program aksi itu bisa dengan memanfaatkan momentum. Bisa dengan membuat momen pada hari tertentu, mulai dari pejabat desa hingga menteri untuk melakukan olah raga sekaligus mengkonsumsi pangan lokal,” katanya.

Indonesia merupakan negara nomor tiga terbesar yang memiliki keanekaragaman hayati dan hewani. Setidaknya ada 100 jenis tumbuhan, umbi, dan serealia sebagai sumber karbohidrat, 100 jenis kacang-kacangan, 250 jenis sayuran, dan 450 jenis buah-buahan.

Karin Wiradarma, ahli gizi yang hadir pada mengatakan bahwa belum makan nasi dianggap belum kenyang menurutnya hanya persepsi dan kebiasaan yang terjadi di tengah masyarakat. Padahal, sumber karbohidrat lainnya seperti jagung, talas, pisang, singkong justru mengandung lebih banyak kandungan nutrisi dan kalori serta indkes glikemiksnya lebih rendah, lebih aman bagi penyandang diabetes dan orang yang menjaga berat badan.

“Prinsipnya adalah harus seimbang, unsur karbohidrat, protein, lemak , mineral terpenuhi dalam jumlah dan frekusnsi yang sesuai dengan kebutuhan kita masing-masing,” ujar dokter Karin.(wst)