Wakil Ketua Komisi II DPRD Gresik M. Syahrul Munir dan anggota Komisi II DPRD Gresik Lilik Hidayati.

Banyak Kebocoran, DPRD Gresik Desak Perombakan Pimpinan PDAM Giri Tirta

Loading

GRESIK (Independensi.com) –  Agar serius dalam membenahi pelayanan PDAM Giri Tirta, Komisi II DPRD Kabupaten Gresik, Jawa Timur, mendesak Pemerintah setempat untuk memperbaiki atau merombak jajaran petinggi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) ini.

Hal tersebut diungkapkan kalangan legislatif, dalam rapat kerja membahas laporan pertanggungjawaban kepala daerah (LPJ) tahun 2020 di Ruang Komisi II DPRD Gresik, Jumat (25/3).

Menurut Wakil Ketua Komisi II DPRD Gresik M. Syahrul Munir tingginya kebocoran yang terjadi di PDAM Giri Tirta Gresik membuat pelayanan tidak maksimal dan pendapatannya menurut drastis.

“Akibat ketidaksiapan infrastruktur yang semestinya dilakukan PDAM Giri Tirta dalam menerima suplai air dari SPAM Umbulan sebanyak 300 liter per detik dari jatah 1.000 liter per detik. Membuat banyak sekali pipa-pipa yang mengalami kebocoran, dampaknya masyarakat yang menjadi konsumen tidak terlayani dengan baik,” tuturnya.

“Realitas tersebut, sangat kontraproduktif dengan semangat PDAM Giri Tirta untuk meningkatkan pelayanan kepada konsumen atau pelanggannya. Sebab ternyata, kebocoran lebih besar dibanding suplai air dari SPAM Umbulan,” ujar politisi milenial PKB ini.

Ditengah buruknya sistem pelayanan lanjut Syahrul Munir, PDAM Giri Tirta justeru minta dukungan dari DPRD maupun Bupati Gresik untuk penyesuaian tarif. Alasannya, terlalu banyak subsidi tarif untuk pelanggan yang lebih banyak rumah tangga.

“Alasan yang disampaikan PDAM Giri Tirta jelas tidak masuk akal dan terkesan mengada-ada. Sebab, subsidi tarif untuk pelanggan per tahun itu sebesar Rp 48 miliar,” ungkapnya.

“Agar kinerja dan pelayanan PDAM Giri Tirta, bisa lebih baik. Tentunya harus ada perombakan jajaran Direksi, dengan menempatkan orang-orang yang memiliki kompetensi dibidangnya masing-masing,” tegasnya.

“Selama ini, yang kami ketahui semua dihandle langsung oleh Dirut. Padahal, masing-masing Direksi sudah memiliki tugas. Kenapa kok gak berjalan,” imbaunya.

Sementara dalam rapat itu, PDAM Giri Tirta Gresik menyebut tingkat kebocoran semakin meningkat. Dari 9 juta meter kubik di tahun 2019, naik menjadi 14 juta meter kubik pada tahun 2020. Hal ini secara langsung berimbas pada turunnya pendapatan PDAM Giri Tirta dari yang semula Rp10 miliar pada 2019 menjadi hanya Rp 2 miliar di tahun 2020. (Mor)