Dakwah Sunan Giri, Dr. Zainul Milal Bizawi: Melestarikan Penyebaran Islam Lewat Jalur kekuasaan

Loading

JAKARTA (IndependensI.com) – Episode ke-22 Ngabuburit Bersama Badan Kebudayaan Nasional Pusat PDI Perjuangan “MATA AIR KEARIFAN WALISONGO” pada Selasa 04 Mei 2021, mengambil tema ‘Dakwah Kultural Sunan Giri, Merangkul Bukan Memukul’ dengan narasumber Dr. Zainul Milal Bizawi yang merupakan sejarawan santri, dipandu host Rano Karno S.IP.

Di tengah suasana bulan Ramadhan kali ini kiranya kita mengingat bagaimana Sunan Giri memiliki peranan penting dalam pengembangan dakwah Islam di Nusantara dengan memanfaatkan kekuasaan dan jalur perniagaan. Kekuasaan politis Sunan Giri memang mengikuti pola kekuasaan yang berlaku pada masanya. Hal ini ditandai dengan peran yang berkaitan dengan keberadaannya sebagai penguasa. Kedudukannya sebagai penguasa menjadikannya begitu mudah dalam merangkul semua kalangan.

Hal itu disampaikan Sejarawan Dr. Zainul Milal Bizawie saat mengisi Ngabuburit Bersama Badan Kebudayaan Nasional Pusat (BKNP) PDI Perjuangan, Selasa (4/5/2021), pukul 17.00 WIB dengan tema ‘Dakwah Kultural Sunan Giri, Merangkul Bukan Memukul’, dipandu host Sekretaris BKNP PDIP Rano Karno.

“Sunan Giri bisa memahami kondisi sosial politik saat itu untuk melakukan dakwah, ketika walisongo lain tidak dekat dengan kekuasaan sedangkan Sunan Giri yang mempunyai trah kerajaan Brawijaya bisa memanfaatkan kondisi itu, Sunan Giri tidak lantas menghilangkan tradisi hindu pada masa itu, tapi ia biarkan saja, dirangkul pelan-pelan kemudian di sisipi nilai-nilai keislaman,” jelas Zainul.

Dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara, Sunan Giri menjadi salah satu tokoh yang memiliki kontribusi cukup signifikan. Karena posisi yang sangat strategis sebagai penguasa, meskipun ia berdomisili di daerah Gini, namun pengaruhnya merambah hingga ke Madura, Lombok, Kalimantan, Sulawesi, dan Lombok.

“Sunan Giri ini sangat cerdas sekali, meskipun secara kedudukan ia berdomisi di Giri, tapi penyebarannya begitu luas, sampai Lombok Kalimantan dan bahkan sampai ke minagkabau,” Lanjut Zainul.

Sunan Giri juga disebut memanfaatkan wadah pendidikan dalam kesungguhannya mengembangkan sistem pendidikan berbasis pesantren pada masanya.

Tak hanya itu, dalam dakwahnya, Sunan Giri juga pernah menciptakan beberapa tembang dan permainan untuk anak-anak. Salah satu yang cukup dikenal adalah cublak-cublak suweng. Permainan ini diyakini memiliki makna dan pesan filosofis yang cukup mendalam. Yaitu mengajarkan agar manusia tidak menuruti hawa nafsu dan keserakahan dalam mencari harta atau kebahagiaan. Namun, gunakan hati nurani dan tetap rendah hati agar harta atau kebahagiaan yang diperolehnya mengandung berkah untuk diri sendiri dan orang lain.

“Sunan Giri menggunakan model akulturasi dengan memanfaatkan kekuasaanya yang juga merangkul masyarakat biasa dengan kesenian salah satunya dengan lagu dolanan anak-anak yang berjudul cublak-cublak suweng” tambahnya.

Sunan Giri sangat menghargai adat dan budaya yang sudah berkembang di masyarakt, bahkan beliau dalam interaksinya dengan masyarakat, ia membuat permainan baru untuk menarik perhatian masyarakat sekitar, untuk kemudian disisipkannya nilai-nilai ke isleman. Oleh karenanya, kita sangat perlu untuk membuka lagi buku-buku sejarah yang bercerita tentang budaya yang sudah ada dan berkembang sampai saat ini, ini sebagai bentuk kontribusi kita dalam menjaga kelestarian budaya Nusantara

Itulah sebabnya, lanjut Dr. Zainul, Jangan sampai kita menghancurkan apa yang sudah ada. Tradisi yang sudah ada sebaiknya dijaga. Tradisi atau budaya bukanlah syirik melainkan terdapat nilai-nilai yang positif termasuk denga nilai untuk menjaga alam.

“Bung Karno pernah mengatakan untuk Ber-Tuhan dengan kebudayaan yang artinya kita harus menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan juga toleransi,” pungkas Zainul. (Chs)